PicsArt_05-15-04.55.46

CHILDREN OF HEAVEN: KEMISKINAN YANG MEMBAHAGIAKAN

Manusia yang tinggal di Indonesia yang lahir tahun 90-an pastilah familiar dengan film yang berjudul Children of Heaven. Film ini biasanya diputar pada hari libur dan entah mengapa selalu pada siang hari kala matahari sedang terik-teriknya. Entahlah, mungkin mereka ingin menyamakan ambient film dengan keadaan saat menonton karena film ini berasal dari Iran yang sepertinya negeri itu cukup terik dan gersang. Rasanya ini film yang tepat untuk membuka suasana Ramadhan tahun ini, walaupun bukan film berlatar belakang persoalan agama.

Film ini diproduksi oleh The Institute For Intellectual Development Of Children And Young Adults dan berdurasi hanya sekitar 89 menit saja. Lihat saja siapa yang produksi, dari namanya saja sudah kelihatan tujuan film ini dibuat. Mungkin itu pula alasannya mengapa generasi millenial sekarang banyak yang menyedihkan. Cita-cita hanya sebatas youtuber yang faedahnya entah untuk apa dan biasanya kerjanya hanya membuka-buka bungkusan saja, mulai dari bungkus jajanan dengan bahasa terpeleset ke jurang, yang seharusnya “unboxing” menjadi amboxing bahkan ada yang terlalu parah menurut saya hingga membuat tutorial bernapas. Mungkin hal ini karena mereka tidak disuguhkan tontonan mencerdaskan seperti Children of Heaven ini. Lihat saja tontonan masa kini yang judulnya “Anakku ternyata adalah Bapak dari Nenek Moyang Ibuku dari Planet Namek” yang isinya pasti seputar orang miskin ditindas orang kaya dan akhirnya menikah kemudian punya mertua jahat dan akhirnya suaminya bangkrut lalu tertabrak dan tiba-tiba ejakulasi dini. Betapa sampahnya tontonan masa kini.

Sebaiknya jika kalian belum pernah menonton film ini terutama bagi laki-laki, ini mungkin adalah tes adrenalin, sebab kemaskulinan kalian akan gugur, se-macho apapun kalian anggap diri kalian, pasti akan hancur lebur di hadapan film ini. Bagi para perempuan mungkin ini adalah film yang tepat untuk menjadi rem bagi kalian yang hobi belanja sana-sini padahal dipakai pun belum tentu.

Film ini sangat menarik, karena konflik dalam film ini bukanlah tokoh melainkan sepatu. Tak ada tokoh berkepala botak ungu kemerahmudaan (sepertinya saya punya kembaran tokoh ini) yang berniat menghancurkan alam semesta di film ini, tak ada kekuatan super, tak ada teknologi tinggi. Sejak film ini dimulai, kalian hanya akan melihat daerah kecil kumuh yang dipenuhi masyarakat miskin. Tokoh utama dalam film ini bernama Ali dan Zahra. Mereka adalah kakak beradik yang memiliki masalah anak sekolahan seperti biasanya. Ali memiliki karakter kakak yang bertanggung jawab tetapi sepertinya memang anak ini dicintai kesialan. Meskipun demikian, ia tak lantas membiarkan kesialan menang atas dirinya. Dalam film ini kalian akan melihat perbedaan kontras antara keinginan masyarakat miskin dan masyarakat yang berkecukupan. Cita-cita setinggi langit menjadi tidak tepat dalam film ini karena bagi masyarakat miskin, mereka tidak akan meminta lebih dari yang mereka butuhkan. Seluruh ambient di film ini tak bisa dilepaskan dari bagaimana ekspresi Mir Farrokh Hashemian yang memerankan tokoh Ali. Ekspresi wajahnya begitu nyata dan tidak dibuat-buat, sangat jauh berbeda dengan reality show yang sedang populer saat ini yang bisa meramalkan seseorang bercumbu mesra dengan mahkluk gaib, semua hal serba dibuat-buat. Semua konflik dalam film ini muncul karena kecerobohan, kesialan dan kemiskinan. Hal ini nyata dan hal receh bagi kita ternyata sangat penting bagi kaum ekonomi lemah. Majid Majidi berhasil membungkus film Children of Heaven menjadi tontonan yang sangat mendidik, apalagi di kala ramadhan yang sudah dekat ini.

Share this post

Recent post