Degil Zine

Awal pertama saya dipertemukan dengan lagu – lagunya Mr. Sonjaya berasal dari sebuah acara bernama "Summer and Rain", sebuah acara festival musik camping-camping-an di hutan yang kalau tidak salah diadakan pada sekitaran awal tahun 2015. Pertemuan yang terbilang romantis, sejak saat itu saya mulai mengikuti sepak terjang Mr. Sonjaya. Tak lama setelah acara itu, selang kira – kira sebulan, pada pergelaran Record Store Day tahun itu mereka mengeluarkan album live recording, yang sialnya saya tidak kebagian. Sedih memang, tapi untung saja selang beberapa bulan mereka akhirnya merilis album penuh kedua mereka yang berjudul "Laras Sahaja" penantian itu akhirnya terbayarkan.

"Sang Filsuf", "Penjaringan", dan "Girls Behind The Coffee" merupakan beberapa lagu favorit saya pada album “Laras Sahaja” yang sampai saat ini lagu – lagu itu masih saya putar di Ipod saya. Beberapa tahun berikutnya nama Mr. Sonjaya sudah jarang terdengar di telinga saya. Lalu pada tahun 2017 nama mereka mulai terdengar kembali oleh saya. Ternyata mereka merilis sebuah split album yang berjudul "Aura Sinar Orba" yang ternyata di dalamnya ada single pertama untuk album terbaru mereka berjudul "Gita"; dirilis bertepatan dengan momentum hari Kartini (21 April) dan hari Buruh (1 Mei). Adapun secara garis besar lagu ini menceritakan tentang seorang pekerja perempuan yang berjuang menghadapi kerasnya hidup.
Setahun setelah itu, akhirnya mereka merilis single kedua untuk album mereka "Cukuplah",  itu judulnya. Angka 4.05.2018 mereka pilih sebagai tanggal perilisannya. Pertama kali mendengarnya secara sekilas, komentar yang terucap pertama kali, “wah rada depresif nih!” Kira – kira seperti itu kesan pertama saya. Setelah itu saya mencoba mendengarkannya kembali di sela-sela kesibukan saya dan mencoba meresapi lagu ini. Di bus dalam perjalanan ke Jakarta saya mencoba untuk mendengarkan untuk kedua kalinya, saya pun langsung rindu ibu saya. Mendengarkan untuk ketiga kalinya di kamar kosan teman, saya langsung rindu rumah. Saya ingin pulang. Mendengarkan untuk keempat kalinya di pinggir jalanan kota Jakarta, saya merasa resah. Kalau bisa rasanya saya ingin kembali ke rahim ibu saya, dimana saat itu saya pikir itu merupakan tempat yang paling aman di dunia ini. Mendengar yang kelima kalinya di kursi kereta dalam perjalanan ke Bandung, saya merasa hampa; senang tidak, sedih juga tidak. Mendengar untuk yang keenam kalinya di kamar kosan, saya ketiduran. Ketika bangun, saya merasa nyaman.

Kesan setiap mendengarkannya selalu saya catat. Hal itu terus menerus saya lakukan sampai saat saya sedang membuat tulisan ini. Ini bukan tanpa alasan saya melakukannya. Tujuannya adalah untuk mendapat pengalaman mendengarkan yang benar – benar mendengarkan. Hebat jika ada orang yang bisa me-review atau menginterpretasi sebuah lagu atau album dengan hanya mendengarkannya beberapa kali saja. Dosen saya dulu pernah bilang, "Musik yang baik adalah musik yang jika didengar kembali dalam waktu yang berbeda, mempunyai makna dan kesan yang berbeda pula." Hal ini ia anggap sebagai sebuah bukti, bahwa musik yang baik akan selalu abadi.

Untuk persoalan teknis dalam lagu “Cukuplah” dari Mr. Sonjaya ini, seperti instrumen apa saja yang dimainkan, bentuk nada, chord yang dimainkan dan hal – hal lain yang menyangkut teknis saya tidak ingin terlalu membicarakannya. Itu keterbatasan saya, dan saya tidak terlalu senang membicarakannya. Saran saya lebih baik jika kalian langsung mendengarkannya saja. Setelah kalian mendengarkannya mari kita bicarakan lagu tersebut, duduk manis dan bertukaran pikiran, dan membicarakan tentang lagu ini sebenarnya bercerita tentang apa. Saya lebih suka hal tersebut. Mungkin saja kita punya pemahaman berbeda. Terdengar kosong memang. Toh ini mungkin ini tidak akan memberi apa – apa pada dirimu, tetapi saya yakin, batinmu akan puas membicarakannya. Ya, saya tahu mungkin emang benar perkataan menulis musik ada persoalan omong kosong yang dibicarakan, tapi hal ini tentu bisa saja salah, bukan?

Bagaimanapun juga, musik adalah sebuah karya seni; jika sudah dilempar ke publik, maka ia akan menjadi milik publik. Makna dan interpretasi akan bersifat bebas dan tidak terpakem oleh si pembuatnya. Persoalannya adalah makna yang diinterpretasikan oleh pendengarnya sudah sesuai dengan keinginan si pembuat atau tidak. Medium is the message, dan musik adalah suatu medium untuk menyampaikan pesan tersebut.

Akhirnya saya coba tarik benang merah dari seluruh kesan – kesan yang telah saya dapat saat mendengarkannya. Saya mencoba untuk menginterpretasi secara utuh agar mendapatkan pemahaman secara keseluruhan. Bagi saya Mr. Sonjaya pada lagu “Cukuplah” ini sukses membawa unsur humanis (manusia) dalam lagunya. Sebenarnya tema – tema dan cerita seperti ini sering ditemukan dalam musik, tetapi hanya orang – orang tertentu yang dapat mengemasnya dengan indah. Saya merasakan ada pergulatan batin dalam musiknya. Kontradiksi - kontradiksi yang sering beradu satu sama lain di dalam pikiran. Saya bisa bilang ini sedikit berbau eksistensialisme ala ala Sartre ditambah dengan bumbu absurditasnya hidup ala Camus. Mungkin seperti ironi cerita Sisyphus pada esai Camus. Sisyphus setiap hari melakukan hal yang sama, yaitu mendorong kembali batu kembali ke atas bukit yang dimana batu tersebut akan menggelinding kebawah kembali. Seperti itu, secara terus menerus. Dari cerita tersebut ada sesuatu yang sering dilupakan; Sisyphus bahagia melakukannya.

Adapun bagi saya, ada perasaan optimisme di penghujung lagu. Mungkin ini meminjam eksistensialismenya Sartre, yaitu bagaimanapun juga masa depan manusia itu sendiri tergantung dari apa yang ia buat. Bisa dikatakan masa depannya tergantung pada tangannya. Manusia, ia tahu ia sakit, ia dapat pasrah atau protes, ia dapat juga menemukan arti penderitaanya, karena ia bebas ia bertanggung jawab atas setiap pilihan dalam hidupnya. Hal – hal yang berkaitan dengan bagaimana ia menyikapi dunia ini dengan kebebasannya.

Setelah mendengar dua single untuk album ketiganya, ada sosok perempuan di dalamnya. Saya kembali mendengarkan kembali lagu – lagu Mr. Sonjaya pada album - album sebelumnya. Sosok perempuan kerap ada musik yang mereka buat. Entah itu sebagai subjek ataupun objek. Pertanyaan muncul, apakah hal ini dilakukan secara sengaja atau tidak. Bisa jadi kita akan kembali banyak menjumpainya dalam album ketiga mereka nanti. Asumsi saya sih mungkin “perempuan” memiliki makna ataupun nilai spesial bagi mereka. Ya, bagaimanapun juga asumsi saya ini hanya bersifat asumsi, mungkin jika ada kesempatan saya akan langsung menanyakannya.

Saya sangat mengapresiasi musisi yang berani mengekplorasi musikalitasnya secara terus menerus. Sehingga apa yang ia hasilkan akan terus terasa baru dan tidak membosankan. Besar harapan saya untuk album ketiga mereka kali ini. Saya berharap dapat menemukan warna berbeda dari album – album mereka sebelumnya. Mungkin kedengarannya terlalu berlebihan, tapi saya berani bilang Mr. Sonjaya lewat lagunya, “Cukuplah”, sukses memanusiakan manusia secara utuh. Mari kita tunggu saja peluncuran album ketiga mereka yang akan rilis pada Oktober 2018 nanti. Semoga dapat memenuhi, atau mungkin bahkan dapat melebihi ekspetasi kita.

Tentang Mr. Sonjaya:
Mr. Sonjaya adalah band yang berasal dari Kota Bandung yang sudah bermain musik sejak 2008. Saat ini mereka terdiri dari Dimas Dinar Wijaksana (Vokal), Ridha Kurnia Waluya (Gitar, Glockenspeil, Pianika), Yaya Risbaya (Drum, Perkusi), Berland Maulana (Keyboard) dan Andriana (Bass).
Cita-cita utama mereka adalah ingin menyapa dan berbagi cinta dengan banyak orang di berbagai belahan dunia lewat musik dan karya yang mereka buat. Album pertama yang mereka rilis berjudul "Paket Musik 2009 Detik" dengan single-nya "Musim Penghujan." Lalu mereka merilis EP yang berjudul "Perjumpaan" pada tahun 2012. Album penuh kedua mereka rilis pada tahun 2015 lalu dengan judul "Laras Sahaja."

Kontak:
mrsonjaya.official@gmail.com |+62.82218007374| +62.85659243918| IG. @mrsonjaya.official

Leave a Comment

Baca Juga

Awal pertama saya dipertemukan dengan lagu – lagunya Mr. Sonjaya berasal dari sebuah acara bernama "Summer and Rain", sebuah acara festival musik camping-camping-an di hutan yang kalau tidak salah diadakan pada sekitaran awal tahun 2015. Pertemuan yang terbilang romantis, sejak saat itu saya mulai mengikuti sepak terjang Mr. Sonjaya. Tak lama setelah acara itu, selang kira – kira sebulan, pada pergelaran Record Store Day tahun itu mereka mengeluarkan album live recording, yang sialnya saya tidak kebagian. Sedih memang, tapi untung saja selang beberapa bulan mereka akhirnya merilis album penuh kedua mereka yang berjudul "Laras Sahaja" penantian itu akhirnya terbayarkan.

"Sang Filsuf", "Penjaringan", dan "Girls Behind The Coffee" merupakan beberapa lagu favorit saya pada album “Laras Sahaja” yang sampai saat ini lagu – lagu itu masih saya putar di Ipod saya. Beberapa tahun berikutnya nama Mr. Sonjaya sudah jarang terdengar di telinga saya. Lalu pada tahun 2017 nama mereka mulai terdengar kembali oleh saya. Ternyata mereka merilis sebuah split album yang berjudul "Aura Sinar Orba" yang ternyata di dalamnya ada single pertama untuk album terbaru mereka berjudul "Gita"; dirilis bertepatan dengan momentum hari Kartini (21 April) dan hari Buruh (1 Mei). Adapun secara garis besar lagu ini menceritakan tentang seorang pekerja perempuan yang berjuang menghadapi kerasnya hidup.
Setahun setelah itu, akhirnya mereka merilis single kedua untuk album mereka "Cukuplah",  itu judulnya. Angka 4.05.2018 mereka pilih sebagai tanggal perilisannya. Pertama kali mendengarnya secara sekilas, komentar yang terucap pertama kali, “wah rada depresif nih!” Kira – kira seperti itu kesan pertama saya. Setelah itu saya mencoba mendengarkannya kembali di sela-sela kesibukan saya dan mencoba meresapi lagu ini. Di bus dalam perjalanan ke Jakarta saya mencoba untuk mendengarkan untuk kedua kalinya, saya pun langsung rindu ibu saya. Mendengarkan untuk ketiga kalinya di kamar kosan teman, saya langsung rindu rumah. Saya ingin pulang. Mendengarkan untuk keempat kalinya di pinggir jalanan kota Jakarta, saya merasa resah. Kalau bisa rasanya saya ingin kembali ke rahim ibu saya, dimana saat itu saya pikir itu merupakan tempat yang paling aman di dunia ini. Mendengar yang kelima kalinya di kursi kereta dalam perjalanan ke Bandung, saya merasa hampa; senang tidak, sedih juga tidak. Mendengar untuk yang keenam kalinya di kamar kosan, saya ketiduran. Ketika bangun, saya merasa nyaman.

Kesan setiap mendengarkannya selalu saya catat. Hal itu terus menerus saya lakukan sampai saat saya sedang membuat tulisan ini. Ini bukan tanpa alasan saya melakukannya. Tujuannya adalah untuk mendapat pengalaman mendengarkan yang benar – benar mendengarkan. Hebat jika ada orang yang bisa me-review atau menginterpretasi sebuah lagu atau album dengan hanya mendengarkannya beberapa kali saja. Dosen saya dulu pernah bilang, "Musik yang baik adalah musik yang jika didengar kembali dalam waktu yang berbeda, mempunyai makna dan kesan yang berbeda pula." Hal ini ia anggap sebagai sebuah bukti, bahwa musik yang baik akan selalu abadi.

Untuk persoalan teknis dalam lagu “Cukuplah” dari Mr. Sonjaya ini, seperti instrumen apa saja yang dimainkan, bentuk nada, chord yang dimainkan dan hal – hal lain yang menyangkut teknis saya tidak ingin terlalu membicarakannya. Itu keterbatasan saya, dan saya tidak terlalu senang membicarakannya. Saran saya lebih baik jika kalian langsung mendengarkannya saja. Setelah kalian mendengarkannya mari kita bicarakan lagu tersebut, duduk manis dan bertukaran pikiran, dan membicarakan tentang lagu ini sebenarnya bercerita tentang apa. Saya lebih suka hal tersebut. Mungkin saja kita punya pemahaman berbeda. Terdengar kosong memang. Toh ini mungkin ini tidak akan memberi apa – apa pada dirimu, tetapi saya yakin, batinmu akan puas membicarakannya. Ya, saya tahu mungkin emang benar perkataan menulis musik ada persoalan omong kosong yang dibicarakan, tapi hal ini tentu bisa saja salah, bukan?

Bagaimanapun juga, musik adalah sebuah karya seni; jika sudah dilempar ke publik, maka ia akan menjadi milik publik. Makna dan interpretasi akan bersifat bebas dan tidak terpakem oleh si pembuatnya. Persoalannya adalah makna yang diinterpretasikan oleh pendengarnya sudah sesuai dengan keinginan si pembuat atau tidak. Medium is the message, dan musik adalah suatu medium untuk menyampaikan pesan tersebut.

Akhirnya saya coba tarik benang merah dari seluruh kesan – kesan yang telah saya dapat saat mendengarkannya. Saya mencoba untuk menginterpretasi secara utuh agar mendapatkan pemahaman secara keseluruhan. Bagi saya Mr. Sonjaya pada lagu “Cukuplah” ini sukses membawa unsur humanis (manusia) dalam lagunya. Sebenarnya tema – tema dan cerita seperti ini sering ditemukan dalam musik, tetapi hanya orang – orang tertentu yang dapat mengemasnya dengan indah. Saya merasakan ada pergulatan batin dalam musiknya. Kontradiksi - kontradiksi yang sering beradu satu sama lain di dalam pikiran. Saya bisa bilang ini sedikit berbau eksistensialisme ala ala Sartre ditambah dengan bumbu absurditasnya hidup ala Camus. Mungkin seperti ironi cerita Sisyphus pada esai Camus. Sisyphus setiap hari melakukan hal yang sama, yaitu mendorong kembali batu kembali ke atas bukit yang dimana batu tersebut akan menggelinding kebawah kembali. Seperti itu, secara terus menerus. Dari cerita tersebut ada sesuatu yang sering dilupakan; Sisyphus bahagia melakukannya.

Adapun bagi saya, ada perasaan optimisme di penghujung lagu. Mungkin ini meminjam eksistensialismenya Sartre, yaitu bagaimanapun juga masa depan manusia itu sendiri tergantung dari apa yang ia buat. Bisa dikatakan masa depannya tergantung pada tangannya. Manusia, ia tahu ia sakit, ia dapat pasrah atau protes, ia dapat juga menemukan arti penderitaanya, karena ia bebas ia bertanggung jawab atas setiap pilihan dalam hidupnya. Hal – hal yang berkaitan dengan bagaimana ia menyikapi dunia ini dengan kebebasannya.

Setelah mendengar dua single untuk album ketiganya, ada sosok perempuan di dalamnya. Saya kembali mendengarkan kembali lagu – lagu Mr. Sonjaya pada album - album sebelumnya. Sosok perempuan kerap ada musik yang mereka buat. Entah itu sebagai subjek ataupun objek. Pertanyaan muncul, apakah hal ini dilakukan secara sengaja atau tidak. Bisa jadi kita akan kembali banyak menjumpainya dalam album ketiga mereka nanti. Asumsi saya sih mungkin “perempuan” memiliki makna ataupun nilai spesial bagi mereka. Ya, bagaimanapun juga asumsi saya ini hanya bersifat asumsi, mungkin jika ada kesempatan saya akan langsung menanyakannya.

Saya sangat mengapresiasi musisi yang berani mengekplorasi musikalitasnya secara terus menerus. Sehingga apa yang ia hasilkan akan terus terasa baru dan tidak membosankan. Besar harapan saya untuk album ketiga mereka kali ini. Saya berharap dapat menemukan warna berbeda dari album – album mereka sebelumnya. Mungkin kedengarannya terlalu berlebihan, tapi saya berani bilang Mr. Sonjaya lewat lagunya, “Cukuplah”, sukses memanusiakan manusia secara utuh. Mari kita tunggu saja peluncuran album ketiga mereka yang akan rilis pada Oktober 2018 nanti. Semoga dapat memenuhi, atau mungkin bahkan dapat melebihi ekspetasi kita.

Tentang Mr. Sonjaya:
Mr. Sonjaya adalah band yang berasal dari Kota Bandung yang sudah bermain musik sejak 2008. Saat ini mereka terdiri dari Dimas Dinar Wijaksana (Vokal), Ridha Kurnia Waluya (Gitar, Glockenspeil, Pianika), Yaya Risbaya (Drum, Perkusi), Berland Maulana (Keyboard) dan Andriana (Bass).
Cita-cita utama mereka adalah ingin menyapa dan berbagi cinta dengan banyak orang di berbagai belahan dunia lewat musik dan karya yang mereka buat. Album pertama yang mereka rilis berjudul "Paket Musik 2009 Detik" dengan single-nya "Musim Penghujan." Lalu mereka merilis EP yang berjudul "Perjumpaan" pada tahun 2012. Album penuh kedua mereka rilis pada tahun 2015 lalu dengan judul "Laras Sahaja."

Kontak:
mrsonjaya.official@gmail.com |+62.82218007374| +62.85659243918| IG. @mrsonjaya.official

Leave a Comment

Baca Juga