Degil Zine

Pagi-pagi benar, burung-burung sudah berkicau, membangunkan tidurku yang lelap. Uh, sungguh hari yang berbahagia. Pagi-pagi benar, burung-burung sudah beraktifitas, mencari makan dari dahan pohon ke dahan pohon yang lain. Uh, sungguh ini hari yang nikmat, dibarengi oleh burung -burung yang berkicau. Indahnya. Pagi ini begitu menyenangkan. Bangun, kemudian ngopi. Uh, sebuah karunia yang tidak bisa dinilai buruk.

Pagi ini kuambil semua perlengkapan mandiku; setelah menghabiskan setengah dari kopi yang kubuat sendiri. Uh, aku memang laki-laki yang beruntung. Masih muda sudah mandiri. Tidak ada lagi yang sepertiku di kota kecil ini, semua pada sibuk sekolah dan main-main. Sementara aku, masih muda sudah mandiri. Cwetcwet, yuhuiii! Sungguh aku pemuda paling beruntung!

Kubawa peralatan mandiku itu ke kamar mandi. Kemudian mandi sambil berpikir betapa mulianya hidupku, tidak malas, bangun pagi tepat waktu, tidak seperti pemuda lainnya yang masih ngorok. Sungguh beruntungnya aku.

Mandi sudah selesai, segarlah tubuhku. Yah, nikmatnya air ini yang datang dari gunung asli, tidak seperti air para tetangga yang miskin itu. Itu semua kan karena kerja kerasku, maka aku bisa menghadirkan air di rumahku. Berkat keringatku, banyaklah uangku. Kubangunlah aliran air ke rumahku. Sungguh karunia yang tidak tertandingi.
Sementara para warga harus membayar banyak kepadaku biar mereka bisa mandi air bersih. Kubangunlah penampungan air besar di dekat rumahku dan dari sanalah mereka bisa mendapatkan air bersih untuk mandi. Akulah lelaki yang paling baik itu. Karunia yang tidak tertandingi. Apabila mereka tidak ingin mandi air bersih, mereka juga bisa tidak membeli dariku. Tapi maukah mereka pakai air tanah yang terkontaminasi itu, yang berwarna dan berbau itu? Oh, tentu tidak akan mau.

Pagi ini aku harus bekerja keras lagi. Kolam renang harus dipantau. Sungguh menyenangkan menjadi tuan. Yuhui. Hei, kau Parto, bekerjalah dengan baik. Kutambah gajimu nanti. Kolam renang sudah kau bersihkan dari serangga-serangga yang tenggelam semalam di dalam air? Hmm, kau harus bekerja keras, jangan malas.

Baiklah, ternyata air sudah bersih. Kolam ini ada berkat kerja kerasku yang mendatangkan air dari gunung dan menampungnya di kolamku ini. Banyak orang yang datang karena di kota ini, kolam renangkulah satu satunya yang ada. Tidak ada yang lain. Aku semakin dikaruniai uang yang banyak. Aku memang pemuda beruntung!

Disamping aku memiliki kolam renang, kumilikipula depot air minum. Orang-orang membeli dariku. Aku semakin banyak dikenal orang sebagai yang baik hati. Karena aku, orang-orang bisa minum air bersih. Dulu, mereka harus jauh pergi ke gunung. Berjalan kemudian mengangkutnya dari sana. Bukankah aku sangat berjasa pada mereka? Air sudah kualirkan ke kota. Berkat akulah ini semua. Karena kerja kerasku ini, bertambah pulalah uangku. Oh, sungguh karunia yang tak tertandingi!

Orang-orang berlomba datang padaku, dan sudah kubuka diberbagai sudut kota kecil ini depot air minumku. Semakin praktislah hidup mereka. Mereka akan dengan sangat gampang mendapat apa yang mereka inginkan. Karunia yang sangat langka.
Orang-orang juga banyak berutang padaku. Aku memberi kemurahan pada mereka, tetapi kubuatlah bunga uangku itu. Bila mana telat dibayar, maka akan berbunga. Tentu saja, bertambahlah pundi pundi uangku. Jika aku tidak ada, tentu mereka kesulitan mendapatkan uang. Maka tidak salahlah jika aku mengambil keuntungan dari peminjaman uang itu. Kenapa mereka mau? Kan mereka semua itu pemalas yang ulung. Buktinya aku bekerja keras bisa banyak uang. Mereka tidak segigih aku. Aku juga selalu berdoa pada Tuhan agar aku mendapatkan karunia. Oh sungguh indahnya hidup ini!

Semakin bertambahlah uangku itu, semakin beradalah aku. Orang-orang suntuk yang bekerja di kota akan datang ke kolam renangku. Orang-orang miskin yang mau minum air bersih dan praktis, maka datang jugalah mereka padaku. Orang-orang mau mandi datanglah padaku, orang orang yang tak punya uang untuk makan pagi ini, datanglah padaku. Akulah yang empunya segalanya di kota kecil ini!

****
KEMUDIAN, bertahun-tahun aku menjadi orang kaya maka semakin mantaplah kedudukanku. Sekarang gunung sumber segala kekayaanku sudah kututup dengan tembok; sudah kujaga dengan beberapa orang kuat agar gunungku aman terkendali. Aku tidak ingin ada pengganggu, seperti beberapa orang yang beberapa hari lalu mencoba mengambil air dari sumber uangku itu tanpa melalui aku. Tidak bisa. Itu adalah hak milikku. Aku sudah empunya surat-suratnya. Kau tidak punya hak.
Aku sekarang sudah punya penjaga yang selalu menemaniku ke mana mana—orang orang bertubuh kekar yang kuat. Aku semakin tidak tersentuh, aku tidak mau ada orang yang menggangguki. Akulah sang tuan di kota ini. Kau tidak bisa membungkamku.

Lambat laun orang-orang mulai menyerangku, menebar isu yang memperburuk citraku di masyarakat. Kemudian mereka melancarkan protes secara langsung. Oh, sungguh hidup yang malang. Tidakkah mereka hanya hendak menghabiskan waktu? Mengapa mereka menuduhku memonopoli air? Bukankah aku ikut serta mempermudah kehidupan mereka menjadi semakin praktis?
Suatu ketika, puluhan ibu-ibu mendatangi rumah mewahku. Bagaimana caranya untuk menghentikan mereka? Kalau begini terus uangku akan terus mengusut dan bisa tumpur aku. Aku harus mengambil tindakan tegas! Hancurkan barisan mereka! Bubarkan segera, kataku. Maka segera saja mereka terluntang-lantung, terbirit birit. Kemudian di seberang jalan sana, seorang ibu terkapar dengan darah mengalir dari kepalanya. Dia telah mati? Oh, aku seorang pembunuh! Tetapi tidak apa, asalkan harta-hartaku tetap aman. Aman. Aman. Aman.

 

*Ilustrasi oleh Aga Depresi

Leave a Comment

Baca Juga

Pagi-pagi benar, burung-burung sudah berkicau, membangunkan tidurku yang lelap. Uh, sungguh hari yang berbahagia. Pagi-pagi benar, burung-burung sudah beraktifitas, mencari makan dari dahan pohon ke dahan pohon yang lain. Uh, sungguh ini hari yang nikmat, dibarengi oleh burung -burung yang berkicau. Indahnya. Pagi ini begitu menyenangkan. Bangun, kemudian ngopi. Uh, sebuah karunia yang tidak bisa dinilai buruk.

Pagi ini kuambil semua perlengkapan mandiku; setelah menghabiskan setengah dari kopi yang kubuat sendiri. Uh, aku memang laki-laki yang beruntung. Masih muda sudah mandiri. Tidak ada lagi yang sepertiku di kota kecil ini, semua pada sibuk sekolah dan main-main. Sementara aku, masih muda sudah mandiri. Cwetcwet, yuhuiii! Sungguh aku pemuda paling beruntung!

Kubawa peralatan mandiku itu ke kamar mandi. Kemudian mandi sambil berpikir betapa mulianya hidupku, tidak malas, bangun pagi tepat waktu, tidak seperti pemuda lainnya yang masih ngorok. Sungguh beruntungnya aku.

Mandi sudah selesai, segarlah tubuhku. Yah, nikmatnya air ini yang datang dari gunung asli, tidak seperti air para tetangga yang miskin itu. Itu semua kan karena kerja kerasku, maka aku bisa menghadirkan air di rumahku. Berkat keringatku, banyaklah uangku. Kubangunlah aliran air ke rumahku. Sungguh karunia yang tidak tertandingi.
Sementara para warga harus membayar banyak kepadaku biar mereka bisa mandi air bersih. Kubangunlah penampungan air besar di dekat rumahku dan dari sanalah mereka bisa mendapatkan air bersih untuk mandi. Akulah lelaki yang paling baik itu. Karunia yang tidak tertandingi. Apabila mereka tidak ingin mandi air bersih, mereka juga bisa tidak membeli dariku. Tapi maukah mereka pakai air tanah yang terkontaminasi itu, yang berwarna dan berbau itu? Oh, tentu tidak akan mau.

Pagi ini aku harus bekerja keras lagi. Kolam renang harus dipantau. Sungguh menyenangkan menjadi tuan. Yuhui. Hei, kau Parto, bekerjalah dengan baik. Kutambah gajimu nanti. Kolam renang sudah kau bersihkan dari serangga-serangga yang tenggelam semalam di dalam air? Hmm, kau harus bekerja keras, jangan malas.

Baiklah, ternyata air sudah bersih. Kolam ini ada berkat kerja kerasku yang mendatangkan air dari gunung dan menampungnya di kolamku ini. Banyak orang yang datang karena di kota ini, kolam renangkulah satu satunya yang ada. Tidak ada yang lain. Aku semakin dikaruniai uang yang banyak. Aku memang pemuda beruntung!

Disamping aku memiliki kolam renang, kumilikipula depot air minum. Orang-orang membeli dariku. Aku semakin banyak dikenal orang sebagai yang baik hati. Karena aku, orang-orang bisa minum air bersih. Dulu, mereka harus jauh pergi ke gunung. Berjalan kemudian mengangkutnya dari sana. Bukankah aku sangat berjasa pada mereka? Air sudah kualirkan ke kota. Berkat akulah ini semua. Karena kerja kerasku ini, bertambah pulalah uangku. Oh, sungguh karunia yang tak tertandingi!

Orang-orang berlomba datang padaku, dan sudah kubuka diberbagai sudut kota kecil ini depot air minumku. Semakin praktislah hidup mereka. Mereka akan dengan sangat gampang mendapat apa yang mereka inginkan. Karunia yang sangat langka.
Orang-orang juga banyak berutang padaku. Aku memberi kemurahan pada mereka, tetapi kubuatlah bunga uangku itu. Bila mana telat dibayar, maka akan berbunga. Tentu saja, bertambahlah pundi pundi uangku. Jika aku tidak ada, tentu mereka kesulitan mendapatkan uang. Maka tidak salahlah jika aku mengambil keuntungan dari peminjaman uang itu. Kenapa mereka mau? Kan mereka semua itu pemalas yang ulung. Buktinya aku bekerja keras bisa banyak uang. Mereka tidak segigih aku. Aku juga selalu berdoa pada Tuhan agar aku mendapatkan karunia. Oh sungguh indahnya hidup ini!

Semakin bertambahlah uangku itu, semakin beradalah aku. Orang-orang suntuk yang bekerja di kota akan datang ke kolam renangku. Orang-orang miskin yang mau minum air bersih dan praktis, maka datang jugalah mereka padaku. Orang-orang mau mandi datanglah padaku, orang orang yang tak punya uang untuk makan pagi ini, datanglah padaku. Akulah yang empunya segalanya di kota kecil ini!

****
KEMUDIAN, bertahun-tahun aku menjadi orang kaya maka semakin mantaplah kedudukanku. Sekarang gunung sumber segala kekayaanku sudah kututup dengan tembok; sudah kujaga dengan beberapa orang kuat agar gunungku aman terkendali. Aku tidak ingin ada pengganggu, seperti beberapa orang yang beberapa hari lalu mencoba mengambil air dari sumber uangku itu tanpa melalui aku. Tidak bisa. Itu adalah hak milikku. Aku sudah empunya surat-suratnya. Kau tidak punya hak.
Aku sekarang sudah punya penjaga yang selalu menemaniku ke mana mana—orang orang bertubuh kekar yang kuat. Aku semakin tidak tersentuh, aku tidak mau ada orang yang menggangguki. Akulah sang tuan di kota ini. Kau tidak bisa membungkamku.

Lambat laun orang-orang mulai menyerangku, menebar isu yang memperburuk citraku di masyarakat. Kemudian mereka melancarkan protes secara langsung. Oh, sungguh hidup yang malang. Tidakkah mereka hanya hendak menghabiskan waktu? Mengapa mereka menuduhku memonopoli air? Bukankah aku ikut serta mempermudah kehidupan mereka menjadi semakin praktis?
Suatu ketika, puluhan ibu-ibu mendatangi rumah mewahku. Bagaimana caranya untuk menghentikan mereka? Kalau begini terus uangku akan terus mengusut dan bisa tumpur aku. Aku harus mengambil tindakan tegas! Hancurkan barisan mereka! Bubarkan segera, kataku. Maka segera saja mereka terluntang-lantung, terbirit birit. Kemudian di seberang jalan sana, seorang ibu terkapar dengan darah mengalir dari kepalanya. Dia telah mati? Oh, aku seorang pembunuh! Tetapi tidak apa, asalkan harta-hartaku tetap aman. Aman. Aman. Aman.

 

*Ilustrasi oleh Aga Depresi

Leave a Comment

Baca Juga