WE THE FEST BAND SUBMISSION: GARSIDE MENANTANG IBUKOTA

WE THE FEST BAND SUBMISSION: GARSIDE MENANTANG IBUKOTA

Mungkin di skena indie Medan, nama Garside belum begitu sering terdengar, apalagi di acara-acara yang dihelat para pemodal besar. Tapi band ini sudah bergerilya sejak setahun terakhir ke berbagai gigs di kota Medan. Sekalipun band ini terhitung sebagai pendatang baru, namun sepak terjangnya tak perlu diragukan. Mereka hadir dengan konsep musik yang lebih segar di antara band-band yang telah lebih dahulu dan yang masih berkarir di skena indie Medan. Mungkin itu sebabnya mereka dengan cepat bisa mencuri perhatian.

Sebenarnya jika ditelisik lebih dalam, personel Garside bukan lagi orang-orang baru di industri musik indie Medan. Sekalipun mungkin pada proyek musik sebelumnya, tidak begitu digeluti atau mungkin memang tidak laku. Afif Nabawi, sang gitaris, mungkin sudah muak menginjak-injak panggung di Medan, apalagi panggung komunitas. Ia bahkan sempat menelurkan album solo gitar dan Afif sendiri juga aktif di komunitas para gitaris. Jeje atau Javier, gitar 2, yang sebenarnya adalah junior saya di Ilmu Politik USU juga punya proyek musik bernama SWURF, namun sebagai basis. Tapi sebelumnya, saya juga heran mengapa kami terjerumus di dunia musik yang kelam ini dan bukan bekerja sebagai politisi—mungkin tidak ada lowongan menjadi politisi karbitan dunia maya yang sering disebut cebong dan kampret itu. Sedang posisi basis diisi oleh Hafiz, lelaki pemalu yang tak doyan berbicara. Arif sang drumer juga merupakan drumer di band Bittersweet yang kini berubah menjadi Eleanor Whisper. Sempat berganti vokalis, kini mereka memiliki vokalis yang juga perempuan bernama Rambe dengan karakter yang cukup berbeda pula.

Pada Kamis, 28 Juni 2018 kemarin, sang pendatang baru ini dengan percaya diri menantang ibukota. Mereka mengikuti band submission perhelatan musik tahunan “We The Fest”. Akhirnya kepercayaan diri mereka memang terbayar. Garside masuk ke dalam 10 besar finalis dan diundang untuk unjuk gigi di ibukota. Top 10 Showdown dilaksanakan 2 hari di Joglo Beer Kemang dan Garside mewakili Medan tampil pada hari pertama bersama Cigarette Wedding, Garhana, RL+Klav, dan Rachun, yang berasal dari berbagai daerah se-Indonesia. Malam itupun beberapa personel band dari skena indie Medan turut mendukung Garside sebagai penonton, antara lain Acil Shadowplay, Rally Pullo, Albert Selat Malaka dan juga Aul dan Jakjek Pijar. Garside memang terlihat sedikit gugup malam itu. Kemudian Aul sebagai saudara serahim di komunitas Kirana memberi saran, “Udah buka celana aja kau di atas, tepuk tangan semua itu, percayalah kau!” “Kocoklah!” timpal Acil kemudian dibarengi tawa manusia lainnya.

Penampilan Garside sedikit berbeda malam itu, sebab sang vokalis, Rambe tidak ikut hadir memperkuat Garside di medan tempur. Posisi vokalis terpaksa diambil alih oleh Afif. Benar saja dugaan saya, lagu Garside memang di-design untuk dinyanyikan suara perempuan. Garside membuka penampilannya dengan lagu mereka sendiri berjudul “Ramona”. Saat itu panggung sangat gelap, lighting mengarah langsung kepada Afif. Mungkin karena tanggungjawab yang semakin besar, ia terlihat gugup.

Sebenarnya sejak lagu Ramona, Purist, Around, hingga Apollo, semua dibawakan dengan aman walaupun mimik canggung itu cukup kelihatan. Ketika Swivel dibawakan sebagai lagu penutup, memang telinga saya terbiasa mendengar lagu ini dengan suara perempuan. Tapi walaupun demikian, para penonton sangat menikmati permainan mereka dan tidak sedikit yang bergoyang maupun menghentakkan kaki. Apalagi dengan ketampanan Afif, rasanya semua glitch tentang vokalis itu sirna, dan tidak sedikit penonton perempuan yang towal-towel sambil membicarakan Afif beserta kimono nyentriknya itu. Dan yang patut diacungi jempol adalah Arif sang dummer yang saat itu membantu sebagai backing vocal. Mengapa demikian? Bayangkan saja sebagai drummer harus mampu membelah pikiran untuk mengendalikan kaki kiri, kaki kanan, tangan kiri dan tangan kanan. Jika ditambahkan sebagai backing vocal maka ia harus kembali memikirkan kapan masuk untuk ikut menimpali nyanyian Afif sembari mengingat lirik dan menjaga notasi agar tidak terikut dengan vokalis utama. Malam itu mereka tampil sangat baik untuk kriteria sebuah band minus vokalis.

Usaha mereka yang tetap bersikukuh untuk tetap tampil tanpa Rambe berbuah manis. Kini mereka membawa nama skena indie Medan berhasil masuk menjadi pengisi perhelatan musik raksasa “We The Fest” tahun ini. Semoga mereka bisa tampil optimal pada kesempatan ini dengan format personel lengkap dan persiapan yang lebih matang! Amin!

Credit Foto: Acil Shadowplay

Share this post

Recent post