MEMPROMOSIKAN INSTITUT SUMATERA DALAM PENYAMARANNYA SEBAGAI LITERACY COFFEE

MEMPROMOSIKAN INSTITUT SUMATERA DALAM PENYAMARANNYA SEBAGAI LITERACY COFFEE

Assyeik. Di Medan, kita menginisiasi perkongkoan menjadi hari-hari nyentrik (?) dan menggiurkan pemikiran serta menggoncang-goncang jiwa kita-kita yang rapuh pondasinya. Pondasi yang kita maksud adalah betapa miskinnya jiwa kita tentang kelokalitasan kita. Yang sebelumnya perkongkoan ini sekarang kami sebut Institut Sumatera. Fokus kajiannya adalah literasi Sumatera. Literasi dalam artian kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup. Karena kita ingin semua kita cakap, kita inisiasi saja dulu.

Dalam paut-sangkut-terbang-mendarat-melayangnya budaya lokal, kita sebutlah Institut Sumatera ini sedang membangun kehidupan yang cakap. Kita sedang berpikir kalau lokalitas adalah cinta tehadap bangsa, jika yang “lokal” satu dengan yang lain bercinta, maka itulah bhineka.

Komunitas juga sering membuat diskusi di Literacy Coffee

Dalam tahun terakhir kita fokus terhadap pengumpulan arsip, program yang kita obrak-abrik di antaranya Membaca Sumatera, sebuah program yang mencoba mengulas balik tentang kemajuan penerbitan di Sumatera, salah satunya di Kota Medan dengan memadukannya dengan pameran buku terbitan tahun 1816 – 1967. Untuk saat ini terkumpullah lima ratus lebih judul buku yang berkaitan dengan Sumatera. Seribu lebih buku lainnya merupakan buku-buku yang genrenya kita teramat malas untuk mengklasifikasikannya.

Kumpulan koleksi buku Institut Sumatera

Kita juga memanfaatkan bangunan yang disewa sebagai tempat menampung siapa saja dari kita yang ingin membanting-banting arsip dan kajian kita ke dalam otak dan lakunya, tempat inilah yang kita sebut Literacy Coffee. Ada “coffee”-nya karena memang untuk membayar sewa tempat ini kami butuh yang namanya uang, kita buatlah kopi dan lainnya untuk dijual agar dapat uang, sebab si empunya bangunan tidak mau menyewakan bangunannya dengan cakap-cakap saja. Kita juga butuh perut kenyang, ada uang untuk jalan-jalan. Biar hati kita senang, semua kita riang.

Di Literacy Coffee kita berdiskusi, menonton film lalu membedahnya. Terkadang dengan si pembuat filmnya. Membedah buku berganti-ganti, diskusi tematis tentang apa saja, ber-gigs ria dengan musik indie Medan sesekali, dan tentu saja menajajakan kopi juga lainnya yang sedang mencari konsistensi.

Suasana diskusi
Suasana ketika Screening Film Dokumenter “The True Cost”
Gigs musik juga diperlukan dalam merayakan literasi

Pada akhirnya, sesuatu yang kita sebut uang mengganggu eksistensi kita sebagai subjek. Sesuatu itu membuat seseorang dari kita melawan sesuatu dengan sesuatu lain. Atau mungkin mengikutinya, kita tidak tahu. Seseorang itu mengajak kita berkontribusi dan berikut tulisan singkatnya—yang saya panjangkan menjadi beberapa paragraf di atas, tapi inilah kesimpulannya—dan link “kontribusinya”:

Kita meyakini bahwa hal ini amatlah penting sehingga kita mengajak saudara-saudara untuk terlibat dalam hal ini, atau mungkin kita yang sor sendiri!

Credit Foto: Tengku Ariy Dipantara

https://embed.kitabisa.com/lliteracycoffee

Share this post

Recent post