WAJAH DI ANGKUTAN KOTA

WAJAH DI ANGKUTAN KOTA

Aku pernah dengar ayah bilang cinta pada ibu. Ibu juga demikian. Ketika aku bilang cinta pada adikku, ibu senang. Tapi pipiku memerah bekas jari, ketika ayah mendapatiku menyentuhkan kulit bibirku ke kulit bibir adik.

Adikku bilang cinta padaku, setelah kutanya apakah ia mencintaiku. Ayah bilang cinta pada Ibu. Ibu juga demikian, lantas mereka saling menyentuhkan kulit bibir mereka masing-masing

Apa itu cinta? Orang bilang, cinta itu bahagia. Apa itu bahagia, orang bilang semacam perasaan senang tapi lebih dari perasaan senang itu sendiri. Seperti apa rasanya? Orang itu tak mau lagi menjawab pertanyaanku.

Adikku bilang dia bahagia setiap kali kupeluk. Tapi aku tak mau memeluknya. Aku sudah tahu rasa sakit. Sakit itu, di pipi. Aku suka memeluk ayam. Apa bahagia rasanya seperti itu? Rasa sakit itu, terasa seperti ketika telapak tangan ayah terangkat hingga ke atas kepalanya lalu dengan cepat, lebih cepat dari ketika ia mengangkatnya tadi, diayunkan hingga mendarat di pipi, sementara aku masih menduga-duga apa yang sedang dilakukan ayah. Seperti itu rasa sakit. Aku tidak mau berdekat-dekatan dengan telapak tangan ayah. Aku juga tidak ingin berdekatan dengan adik. Bila berdekatan aku teringat rasa sakit. Rasanya tidak seperti ketika aku memeluk ayam. Selain di pipi, rasa sakit itu juga ada di rambut dekat telingaku, orang bilang cambang, orang lainnya bilang jambang. Orang tidak mau menjawab ketika aku bilang Bambang. Di situ ada rasa sakit. Rasanya seperti ketika tangan Bu guru ngajiku menarik rambut itu ke arah bawah dengan cepat sehingga kepalaku ikut turun ke bawah, tapi tangan Bu guru ngajiku itu semakin turun ke bawah pula. Telapak tangan Bu guru ngaji itu mirip telapak tangan ayah. Jadi aku tidak mau menyalaminya.

Aku jadi tahu sumber rasa sakit itu. Di telapak tangan yang garis telapak tangannya itu menyatu dari ujung ke ujungnya. Apa kau punya garis telapak tangan seperti itu? Maka jangan pernah memeluk ayam.

Aku suka memeluk ayam. Bulu-bulunya itu lembut menyentuh kulit. Aromanya menyenangkan, seperti aroma ketika ayam tidak berjarak dari lubang hidung. Aku tak suka aroma parfum ibu setiap malam, saat ayah pergi bekerja keluar kota berhari-hari.

Aku tahu rasa suka. Rasa suka itu ketika kulitku disentuh dengan lembut, seperti bibir Bu guru ngaji ketika menyentuh kulit bibirku. Tapi aku tak suka telapak tangannya yang menjambak rambutku. Aku tidak tau bagaimana menyebut rasa; ketika aku merasakan rasa seperti memeluk ayam tapi aku juga merasakan sakit di rambut secara bersamaan.

Aku tidak mau lagi kulit bibirku disentuh lembut kulit bibir Bu guru ngaji. Sebab itu bisa memicu telapak tangan ayah mendarat di pipi. Sebelum ayah membawa Bu guru ngaji pergi kerja ke luar kota berhari-hari.

Aku tahu di mana letak rasa seperti memeluk banyak ayam sekaligus, hingga bulu-bulu ayam itu seperti ada di seluruh kulit tubuh. Letak rasa seperti itu ada di wajah. Wajah yang aku lihat di angkutan kota. Wajah itu dipenuhi gundukan-gundukan kecil, banyak sekali. Hanya bola mata dan permukaan giginya yang tidak ditumbuhi gundukan kecil itu. Aku tidak tau apakah di dalam lubang hidungnya itu juga ditumbuhi gundukan kecil itu. Aku tidak dapat melihat kedalamnya, sebab lubang hidungnya tidak sebesar lubang hidungku. Aku tidak mengalihkan pandangan sedikitpun dari wajahnya itu. Aku semakin suka ketika aku menggeser dudukku agar bisa tepat berada di hadapannya. Di dekatnya, aku mencium aroma menyenangkan. Seperti aroma ayam yang tidak berjarak dari lubang hidungku. Aku menyesal lubang hidungku tidak cukup besar untuk mengerami seekor ayam. Tapi di dekat perempuan itu, aku tak perlu mengerami seekor ayam di lubang hidungku.

Aku suka wajahnya, suka aromanya. Aku suka perempuan itu, rasanya seperti memeluk ayam.

Aku memeluknya. Rasanya seperti memeluk lebih banyak ekor ayam lagi. Dia balas memeluk, tapi tidak menjambak rambutku, tidak menarik jambangku, tidak mendaratkan telapak tangannya di pipiku. Aku semakin suka padanya. Tapi orang-orang tidak suka aku memeluknya. Orang-orang di dalam angkutan umum itu, menjerit-jerit. Aku jadi tahu rasa takut. Rasanya seperti pak supir memberhentikan angkutannya dan mengusirku dari dalam sehingga aku kesulitan melihat wajah perempuan itu.

Aku diusir, tapi tetap harus bayar. Aku tidak suka pak supir itu, dia tidak seperti ayam. Sebelum turun dari angkutan kota itu, aku memegang tangan perempuan itu, lantas menariknya keluar bersamaku. Aku ingin membawanya pulang ke rumah dan memeluknya setiap hari.

Aku tahu apa yang tidak disukai ibu dan ayah. Ibu dan ayah tidak suka apa yang aku suka. Ibu dan ayah menyuruh perempuan itu pergi dan menyeretku menuju kamar mandi. Ketika diseret itu aku jadi tahu apa yang disebut orang rasa bahagia.

Rasa bahagia itu ternyata seperti memeluk banyak ekor ayam tapi lebih dari sekadar memeluk banyak ekor ayam itu sendiri. Aku tahu rasa itu ketika aku menggigit tangan ayah saat ayah menyeretku ke kamar mandi. Aku mengejar-ngejar tangan ayah. Ayah mendaratkan telapak tangannya di pipiku, tapi tidak ada rasa sakit. Rasa sakitnya kalah dengan bayangan rasa ketika menggigit tangan ayah.

Ayah mengusirku dari rumah. Ibu menangis. Mereka tidak lagi saling menempelkan kulit bibir mereka masing-masing. Kemudian aku pergi dari rumah, mencari wajah perempuan itu. Berhari-hari aku belum juga menemukannya. Memeluk ayam sudah tidak lagi bikin aku suka, rasanya kalah bila dibandingkan dengan melihat wajah dan menghirup aroma perempuan itu. Aku ingin memeluknya, benar-benar ingin memeluknya lebih lama dari ketika aku memeluknya di angkutan kota. Mencari wajah perempuan itu, bikin aku tahu kalau ternyata ada rasa takut yang lebih takut dari rasa takut itu sendiri. Rasanya seperti ketika di perempatan jalan aku melihat angkutan umum sedang berhenti dan pak supir angkutan kota yang mengusirku tapi tetap menyuruhku bayar sedang memeluk perempuan yang berwajah perempuan itu kemudian mereka saling menyentuhkan kulit bibir mereka masing-masing.

Ilustrasi oleh Aga Depresi

Share this post

Recent post