RAON FEST 2018: MEDAN PUNYA ULAH

RAON FEST 2018: MEDAN PUNYA ULAH

Setelah sukses menyelenggarakan perhelatan akbar pagelaran seni bertajuk Raon Fest 2017, tahun ini kembali Geng Cobra akan menyebarkan bisanya. Rencananya, pada 14-15 Juli 2018 nanti, Raon Fest 2018 akan kembali digelar di Bumi Perkemahan Sibolangit. Berbeda dengan ajang sebelumnya, kali ini Geng Cobra menerapkan format submit, seperti yang dipaparkan oleh Rani Tambunan, salah seorang penyelenggara, yang tampaknya berfungsi pula sebagai humas Raon Fest 2018.
“Kita mau melihat sejauh mana antusiasme teman-teman indie Medan, buat yang berkarya di bidang musik, buat ikutan Raon Fest.”
Tampaknya Geng Cobra ingin menerapkan pola pikir progresif, bahwa penyelenggara gigs dan musisi saling membutuhkan. Tidak lagi berat ke satu pihak saja. Lantas bagaimana agar bisa turut masuk dalam band submit?

“Minimal punya track sendiri dan mengirim profil bandnya. Dan tanpa sistem voting, kita (internal) merembukkan siapa yang lolos submit dengan mendengarkan satu persatu musik yang mereka submit,” jelas Rani.

Hingga akhirnya submit ditutup, terpilihlah 7 musisi indie Medan untuk turut serta. Pun begitu, Rani sedikit mengeluhkan ketertarikan musisi Medan pada gaya submit seperti ini. Seperti katanya, “Yang ikutan submit kebanyakan dari luar Medan, kayak dari Samarinda, Pontianak. Ada juga yang dari Malang, Palu, Jakarta, Padang, Banda Aceh dan banyak lagi. Malah yang Medan bisa itungan jari yang submit. Kita sih pengen lihat seberapa besar apresiasi pemusik yang ada di Medan untuk berani submit dan tampil (perform) tanpa harus ada iming-iming brand tertentu. Karena kita pure kolektifan.”

Ya, kolektifan. Semangat Geng Cobra untuk berkolektif ria terus menyala-nyala hingga perhelatan kedua ini. Acara semeriah ini, dengan jarak yang lumayan jauh bila ditempuh dari kota Medan, sound system, konsumsi talent/panitia, sewa tempat, hingga penyediaan alat perkemahan, semuanya ditanggung secara kolektif oleh para panitia, musisi, serta para penonton, tanpa campur tangan sponsor asing… eh gede. Paling tidak menurut Rani, mereka masih yakin dengan konsep kolektif seperti tahun lalu, jika dinilai dari rasio keberhasilannya. Bahasa degilnya, dari kita untuk kita. Musisi, penonton, dan panitia adalah satu kesatuan yang akan rusak binasa digoyahkan oleh manusia mesum dari planet Pluto jika mereka tidak mempertahankan sistem kolektifnya. Jadi teranglah maksud judul di atas, bahwa Raon Fest 2018 bukan hanya milik Geng Cobra, melainkan milik masyarakat Medan. Yup, Raon Fest 2018, Medan punya ulah!

Selain deretan jagoan lokal Medan, Raon Fest juga diisi line up dari luar kota Medan, seperti Oscar Lolang (Bandung), Uda Rifki (Bukit Tinggi), Embun Pagi (Binjai), Sapu Tangan Merah (Padang), dan Merah Jingga (Pontianak). Selain band submit, menurut Rani kemudian, Raon Fest juga menghadirkan “band rekomen”, seperti Filsafatian, Liberty Gong, Hello Benji and the Cobra, Medan Blues Society, Vintage Glasses, Roni and the Bangsath, dan banyak lagi. Juga kabarnya akan ada diskusi massal dari geng motor legendaris Medan, TWBW, jurnalis Felix Dass, serta dari anak-anak nakal berkedok Pena Hitam Medan.
Perhelatan ala kaum hippies ini akan dimulai dengan acara gunting sayur pita oleh kepala suku hippie Medan, Benjito, pada pukul 3 sore (14/7) dan rencananya akan ditutup pada pukul 4 sore keesokan harinya.

Menarik? Seru? Pengen ikutan? Langkahkan kakimu ke sana dengan segera. Jangan lupa bawa peralatan tempurnya masing-masing, oi! Oi! Oi! Make love not war!

Share this post

Recent post