HIP HOP ALA FOOLISH COMMANDER

HIP HOP ALA FOOLISH COMMANDER

Demi Tuhan yang maha benar, sesungguhnya saya tidak pantas disebut sebagai penggemar/pemerhati musik hip hop. Hal ini mesti ditegaskan terlebih dahulu, sebab saya telah menyebut hip hop dalam judul di atas (kalau mau bicara soal hip hop ajaklah MC asal Toba, Pangalo! atau Densky9, beatmaker kesayangan Degil saja, ya!). Toh begitu, ingatan saya pada genre yang satu ini tetap terjaga. Meskipun hanya terbatas pada hal-hal berikut:
1. Satu kaset tape yang beredar di medio ’90an, bertajuk Pesta Rap 1. Dengan antusiasme yang berlebihan, saya masih dapat menyanyikan lirik “Cewek matre, cewek matre.. ke laut ajeee ..”-nya Black Skin dengan cepat dan membabi buta hingga tulisan ini ditayangkan.
2. Soundtrack film Kera Sakti yang super duper legendaris itu, yang sampai sekarang saya tak pernah tahu siapa yang menerjemahkan lirik aslinya secara sensasional ke dalam bahasa Indonesia.
Kemeriahan musik hip hop Indonesia, paling tidak di pemandangan mata dan pendengaran telinga saya, mulai memudar seiring hilangnya grup rap Neo di televisi, serta geger otak ringan yang dialami oleh (bekas) rapper, Denada. Ketika Citra Hasan, penjaga gawang email Degilzine sekaligus sang editor, mengabarkan bahwa ada satu grup hip hop asal Semarang yang mesti segera dikobel, sesungguhnya saya agak gemetaran. Ya itu tadi, pengetahuan saya soal genre ini layaknya seorang anak yang sedang merangkak untuk menghancurkan seperangkat alat shalat, eh maksud saya… televisi.
Grup hip hop asal Semarang yang dimaksudkan adalah Foolish Commander. Diawaki oleh sepasang anak manusia bernama Kanina Ramaniya sebagai vokalis dan penulis lirik, serta Luthfi Adianto sebagai produser musik dan rapper, Foolish Commander langsung melambungkan ingatan saya pada duet-duet serupa yang sedang marak di industri musik Amerika. Melalui press release yang saya terima, mereka mengaku dipengaruhi oleh Twenty One Pilots, Gorillaz, Jay-Z, Ta-Ku, Scaller, dan Kimokal. Sesaat usai mendengarkan single terbaru mereka, No Trace, saya mengira mereka adalah duo yang mengarah ke elektro pop/synthpop: perpaduan yang apik dari synthesizer dengan gaya vokal yang sangat nge-pop, serta beat yang cenderung flat, menguatkan duga sangka saya. Tapi nanti sajalah kita bahas soal single mereka tersebut.
Marilah beralih pada kasus paling awam bagi seorang jurnalis musik: Asal sebuah nama! Kenapa dan apa yang membikin duo ini memutuskan mengenakan nama yang agak terkesan pop punk teenagers screamo dkk seperti itu? Melalui pesan whatsapp, Kanina menjelaskan. “Kami kepikiran, bahwa anak-anak seumur kami biasanya suka over exaggerating things. Hal-hal yang kecil dibesar-besarkan, berlebihan. Terlalu melindungi atau terlalu suka sesuatu atau terlalu benci sesuatu tanpa beneran tau kenapa. Di antara mereka, ceritanya kami yang punya trait tersebut paling besar, jadi dinamakanlah Foolish Commander.”
Kanina Ramaniya. Foto: Koleksi foto @kaninark
Apakah frase seperti itu sering digunakan dalam genre hip hop? Saya sendiri kurang bisa menguraikan dengan runut, berhubung saya hanyalah anak kecil yang sedang merangkak berjalan. Tapi apa pun itu, apalah arti sebuah nama, kata seorang William Shakespeare, andaikata kita memberikan nama lain untuk bunga mawar, ia tetap akan menyebarkan wanginya.
Kanina juga menceritakan dengan lancar dan mesra, bagaimana Foolish Commander bisa terbentuk hingga seperti sekarang. Menurutnya, ia dan Luhtfi adalah teman sepermainan sejak bangku SMP, SMA, bahkan hingga perkuliahan. Dan di sanalah semuanya bermula.
“Sebelumnya kami ada ada di satu proyek yang sama, yaitu Hills Collective (semacam skena kolektif hip hop di Semarang). Di Hills Collective, Luthfi goes by COSMICBURP, aku go by Kanina. Tapi kemudian kami kepikiran gimana ya kalau bikin jenis musik yang baru dan beda yang tetap dalam naungan Hills, akhirnya kami memutuskan bikin Foolish Commander.”
Memutuskan untuk terjun ke dalam skena hip hop, Luhtfi dan Kanina lantas rutin nongkrong bareng salah satu skena hip hop Semarang yang saat ini telah bermetamorfosis menjadi record label bernama 024 Street Record. Di sana, Kanina mengaku banyak mendapatkan pelajaran berharga soal hip hop, penulisan lirik bahkan juga soal distribusi produksi.
“Benar, banyak belajar segala dari sana, namun untuk tema dan nuansa lagu yang kami bawakan tetap hasil pemikiran kami. Kami kembangkan dari apa yang sudah kami pelajari,” jelas Kanina sambil tersenyum (tahu dari mana dia tersenyum?).
Sejauh ini, duo Foolish Commander telah menelurkan dua buah single. Yang pertama bertajuk Paranoia. Dan yang paling anyar adalah No Trace.
“Lirik No Trace kami bikin berdua. Luthfi bikin lirik untuk bagian versenya, saya juga bikin untuk verse saya. Terus hook-nya kami brainstorming bareng-bareng. Waktu itu Luthfi udah selesai versenya, terus sambil nungguin Luthfi rekaman saya brainstorming lirik saya sendiri. Dari siang sampe malem sampe pagi lagi. Abis itu kami baru brainstorming bikin hook.”
Dari apa yang saya dengar melalui No Trace, pembagian jatah antara Luhtfi dan Kanina cukup berimbang. Dan ini melegakan saya. Pengalaman ngenes mendengar seorang MC yang ditugaskan menjelma remah-remah kerupuk dalam sebuah lagu, seperti apa yang sering dipertontonkan oleh skena musik industri pop Amerika era mutakhir, langsung bubar jalan. Tehknik rap yang diperdengarkan oleh Luhtfi boleh dikatakan cukup rumit pada part-part tertentu, terutama dengan penambahan unsur low-harmonic vokal yang dibumbui efek robotik/radio. Sayang, bagi saya pribadi, karakter vokal Kanina tidak cukup kuat di lagu ini, malah mengingatkan saya pada solois wanita ngehits tanah air (Raisa?) ketika mengambil nada-nada rendah. Pun begitu, pada single terdahulu, Paranoia, karakter nge-pop masa kini Kanina malah tidak tampak, didukung pula oleh sample musik yang terkesan eklektik dengan nada-nada minor dan looping ala industrial. Di Paranoia, Kanina terdengar mirip idola kakak saya pada era 90’an, Madonna, juga sepintas lalu menyerupai Bjork (terutama pada part dialog dan penggunaan efek echo pada kanal vokal). Hal inilah yang membuat saya jadi penasaran pada single-single mereka selanjutnya; apakah Kanina akan sekeren Paranoia, atau malah kembali ngepop (dalam artian mencoba gaya popular/mainstream) seperti pada single No Trace.
Di sela-sela kesibukan dalam pengerjaan video klip Paranoia, Foolish Commander juga sedang menggarap EP pertama mereka, yang kabarnya akan diberi tajuk The Undying Recital.
Jika kalian fans old school hip hop yang merindukan kejeniusan rima dari para MC keras kepala, kehidupan para gangster dan hendak menertawakan kehidupan kaum kelas bawah yang ada apanya, saya sarankan untuk tidak mendengarkan Foolish Commander. Tapi jika kalian ingin merasakan gejolak kaum muda urban generasi mutakhir beserta segala kreatifitas mereka, ayolah, jangan malu-malu untuk menyapa Kanina dan Foolish Commander-nya, lantas dengarkan lagu-lagu mereka!

Share this post

Recent post