ASA EXHIBITION 2018: PERUPA MEDAN DAN PADANG PANJANG BERADU KUAS

ASA EXHIBITION 2018: PERUPA MEDAN DAN PADANG PANJANG BERADU KUAS

Halo-halo, Degilian!

Setelah bulan puasa berakhir, tampaknya teman-teman pelaku seni tidak mau lama-lama berhibernasi. Setelah publikasi festival alam, seni, dan literasi Raon Fest 2018 telah wara-wiri di linimasa media sosial kita, muncul juga perhelatan seni yang tak kalah bombastis, yaitu “ASA EXHIBITION” dengan tema “WARNA DALAM GENGGAMAN.” Acara pameran seni rupa ini akan diselenggarakan oleh Aras Community mulai dari tanggal 14 sampai dengan 16 Juli 2018 di Taman Budaya Sumatera Utara. Ada yang berbeda untuk pameran kali ini, eda dan itoku sekalian! Pameran seni rupa ini dilaksanakan oleh para pelukis – pelukis bandal bukan hanya dari Sumatra Utara, tetapi juga berkolaborasi dengan pelukis dari Sumatra Barat. Yup! Para pelukis dari komunitas Saabuak Art, Padang Panjang ini ikut meramaikan dunia kesenian Sumatra Utara bersamaan dengan komunitas Aras Community. “Pameran ini bentuk apresiasi balasan sewaktu kami melakukan pameran “Tolu Exhibition” di ISI Padang Panjang 29 April – 6 Mei 2018 lalu. Kami lihat karya – karya mereka sangat berbeda penggarapannya dengan karya lukis kita di Medan ini. Aku pikir, baguslah kita “culik” mereka sekelak kesini. Dengan memamerkan karya mereka yang eksentrik itu akan membuka wawasan kita para perupa Medan,” ucap Moses Katanasah Tarigan selaku ketua Aras Community.

Flyer Acara.
Ara Community dan Saabuak Art di Tolu Exhibition Padang Panjang pada 29 April-6 Mei 2018 lalu. Foto: koleksi Moses

Pameran yang akan berlangsung selama 3 hari ini akan dimeriahkan dengan pertunjukkan musik para mahasiswa Seni Musik Unimed dan diskusi oleh para pelaku maupun penikmat seni rupa kota Medan. “Ada sekitar 20 perupa Aras Community dan 15 perupa Saabuak Art yang akan berpameran. Bentuk karyanya masih dalam bentuk lukisan semua,tapi jenis karyanya akan beragam tergantung konsep dan penggarapan perupanya itu sendiri. Aku pikir, jenis karya kawan-kawan Saabuak Art mungkin nantinya kebanyakan ekspresif dan naif. Nah, yang dari Medan kebanyakan surealis dan realis, walau mungkin ada juga beberapa yang eksresif dan naif juga,” tambahnya.

Tim Saabuak Art beserta karyanya. Foto: koleksi Moses
Moses dan karya-karyanya. Foto: koleksi Moses

Komunitas perupa bandal dari Sumatra Utara ini menyelenggarakan acara ini secara kolektifan. Bukan hanya skena musik indie Medan aja yang jago kolektifan, seni rupa juga! Iya, ketua! Belum mati dunia kolektifan, kawan! “Waktu persiapan terlalu singkat, jadi kami tidak sempat menyebar proposal. Sedangkan, kami sangat bersemangat sekali agar acara ini tetap jalan. Menurutku, perlu gebrakan seperti ini karena begitu minimnya aktifitas seni di kota Medan khususnya seni rupa dan agar membangkitkan semangat perupa tidak hanya di dalam kampus, tetapi juga di luar kampus,” tutur Moses.

Moses juga berharap supaya perupa muda lebih berani dan liar dalam berkarya maupun dalam membuat gebrakan/event. Tali silahturahmi dan kekuatan jaringan juga sangat perlu bagi perupa lintas kota bahkan provinsi. “Kegiatan ini juga untuk menampik anggapan bahwa mahasiswa pendidikan seni rupa harus menjadi guru, atau sebaliknya guru tak boleh menjadi seniman. Semua itu tergantung pribadi masing – masing. Sekarang ini bukan lagi tentang menjadi guru atau menjadi seniman murni. Bahkan ini bisa menjadi tamparan untuk seniman murni bahwa dunia pendidikan dan seni murni bisa melebur menjadi satu,” tutupnya.

Ayoklah, woi! Ramaikan pameran seni rupa para kawan-kawan Medan dan Padang Panjang ini! Jangan sibuk merepet dan mengeluh kalau Medan bukan kota Seni, tapi kau malas dan gengsi untuk angkat bokongmu untuk bergerak ke pameran ini!

Yok! Jumpa di TKP kita ya!

 

*Foto fitur oleh UKM Pers ISI Padang Panjang

Share this post

Recent post