NAVICULA: WAHAI, SENIMAN! COMFORT ZONE IS AN ART KILLER!

NAVICULA: WAHAI, SENIMAN! COMFORT ZONE IS AN ART KILLER!

Green Grunge Gentleman.

Julukan yang tak asing lagi di kalangan penikmat musik maupun orang awam. Bagaimana tidak? Band ini adalah pahlawan lingkungan yang menggunakan musik tidak hanya sebagai media berkesenian, namun sebagai sarana perjuangan untuk menyampaikan pesan betapa krusialnya keadaan lingkungan di bumi tempat kita berpijak. Selain isu lingkungan, band ini kerap mengangkat isu sosial mulai dari pelanggaran HAM hingga isu korupsi. Ya! Siapa lagi kalau bukan Navicula! Navicula berdiri sejak tahun 1996 di Bali dengan mengusung musik grunge sebagai fundamen dasar bermusik. Sampai saat ini Navicula telah merilis 8 album studio dan 1 album kompilasi. Kabarnya, mereka akan segera merilis album studio ke-9 dalam waktu dekat.

Minggu lalu (15/07) Navicula, band grunge asal Bali itu bertandang ke Medan dan melangsungkan show di Northstar Public House pada pukul 19:30 WIB. Total 9 lagu dibawakan, mulai dari Everyone Goes To Heaven dari album Beautiful Rebel, hingga Mafia Hukum dari album Love Bomb, dibawakan dengan sangat apik sehingga sing alongs dan stage diving dari crowd pun tak terelakkan.

Dalam rangka apa Navicula bertandang ke Medan? Holiday? Kuliner? Traveling? Atau mengendus aroma-aroma korupsi di provinsi terkorup Indonesia untuk dijadikan bahan lagu?

Mari simak jawabannya dalam sesi interview tim Degilzine kepada Navicula yang diwakili oleh Robi Navicula.

*Keterangan R (Robi Navicula), D (Degilzine)

D: Hallo, Bli! Kapan tiba di Medan nih?

R: Kemarin, sekitar setengah 7 malam. Cuma di Medan jam segitu masih terang ya.

D: Dalam rangka apa nih Navicula main-main ke Medan?

R: Navicula main ke Medan dalam rangka Earth Ship Tour. Jadi kita combine karena Navicula ada rencana akan rilis album Earth Ship dan melangsungkan tur. Turnya sendiri ada di 16 kota, mulai dari Banda Aceh sampai Ambon. Medan kota kedua yang kita datangi setelah Aceh.

Penampilan Navicula di Medan hari Minggu lalu (15/07). Foto: Ina Addini dan Aga Depresi

D: Untuk album Earth Ship-nya sendiri, apakah sudah rilis, Bli?

R: Kita lagi prepare. Akhir bulan Juli mudah-mudahan sudah bisa rilis dan sudah bisa dibawa di tengah-tengah tur.

D: Bisa dikasih bocoran sedikit untuk materi album Earth Ship-nya, Bli?

R: Lagu-lagu yang ada di Earth Ship nantinya merupakan lagu baru dari Navicula. Salah satu single yang sudah kita lepas adalah “Ibu”. Single “Ibu” sudah kita rilis via Youtube sekitar satu bulan yang lalu.

D: Kenapa memilih nama Earth Ship sebagai nama album?

R : Nama Earth Ship mempunyai arti kapal bumi. Bumi dalam artian karena Navicula kerap mengangkat isu lingkungan di bumi tempat kita berpijak. Sedangkan untuk kata kapal, ini mencerminkan band sendiri sebab Navicula sendiri memiliki arti ganggang berbentuk kapal.

D: Tidak seperti band kebanyakan, Navicula dikenal sebagai band “jurnalis.” Artinya menggunakan musik sebagai media jurnal. Kenapa memilih konsep seperti ini?

R: Kita percaya musik bukan sebagai sarana hiburan saja. Musik punya potensi untuk dibawa ke sesuatu yang lebih dalam dan lebih luas. Bangsa Indonesia sedari dulu sudah sangat lumrah menggunakan seni, termasuk seni musik sebagai sarana penyampai media yang berat. Misalnya penyebaran agama yang menggunakan wayang kulit atau teater, dll. Di Bali sendiri budaya literasi tidak begitu kuat, namun penyampaian informasi tetap bisa dilakukan lewat media seni. Kita percaya setiap generasinya punya revolusinya masing-masing. Dan menurut kita revolusi di generasi kita adalah isu sosial lingkungan dan konflik sosial yang dalam 20 tahun terakhir sangat masif terjadi di Indonesia. Jadi menurut kita, ini adalah revolusi di generasi kita yang harus kita suarakan melalui media musik. Perlawanan ada. Kalau perlawanan kan sifatnya agresif. Resistensi juga ada. Contohnya resistensi dalam melestarikan budaya kita. Seperti Indonesia, secara geografis dan kultural, kita adalah petani dan nelayan. Jadi, kita resistan dalam menjaga pesisir makanya ada gerakan seperti Bali Tolak Reklamasi, perlindungan terhadap kawasan konservasi dan nelayan. Dan juga karena saya seorang petani dan background pendidikan saya Agroekologi sehingga dekat dengan isu-isu tersebut. Akhinya, itulah yang membentuk topik-topik Navicula. Berjalan alami aja.

D: Sudah pasti daerah punya isunya masing – masing, apa harapan Navicula terhadap seniman-seniman lokal lain agar ikut tergerak dan lebih peka dalam menyuarakan isu-isu sosial di daerahnya, contoh Medan?

R : Yang jelas harapan saya setiap seniman harus sadar bahwa seni lebih dari sekedar hiburan dan punya potensi yang sangat besar untuk sebuah perubahan, bukan hanya sekadar media hiburan atau industri komersial. Tapi seni menjadi alat yang efektif untuk menjadi sebuah media perubahan. Sekarang, mau menjadi media perubahan apa. Perubahan menjadi negatif juga bisa. Tapi kan selama hidup kita kan punya value untuk berbuat sesuatu. Nah kita dikasih kesempatan, bakat, dan passion di musik, setidaknya kita terlibat dalam perubahan positif dengan cara yang kita bisa. Bukan hanya lewat musik, tetapi juga zine (sambil menunjuk edisi cetak Degilzine edisi pertama-red), fotografi, dan film. Sekarang ini kita hidup di dunia skeptik. Kalau aku skeptik, buat apa. Hidupku udah enak di Bali, buat apa tur di jalanan, capek-capek begadang. Kenapa tetap kita lakukan? Karena kita punya harapan untuk bisa melakukan perubahan. Dan yang penting keluar dari comfort zone, karena comfort zone is an art killer!

Robi yang selalu berorasi di sela-sela performance-nya. Foto: Ina Addini & Aga Depresi

D: Untuk Bali sendiri, pergerakan sudah sampai mana perkembangannya, Bli?

R: Cukup menarik kalau melihat pergerakan sosial dan lingkungan di Bali, bisa dibilang sedikit menjadi sebuah fenomena di Indonesia. Kalau dari dulu biasanya pergerakannya identik dengan LSM, di Bali justru musisi berada di garda terdepan. LSM tetap ada untuk memberikan pendampingan dan data, tapi untuk garda terdepan adalah musisi.

D: Kita memperhatikan banyak ruang-ruang kolaborasi di Bali seperti Taman Baca Kesiman atau Rumah Sanur di mana antara seni dan literasi itu bisa memberikan kontribusi secara langsung untuk masyarakat. Bisa dikasi tips supaya teman-teman di Medan punya semangat untuk memulai itu?

R : Aku percaya kalau kita menginginkan sesuatu dan kita menebarnya di udara, semesta akan bekerja dan menggerakkan kita seperti puzzle, artinya kita akan bertemu dengan orang-orang yang berpikir sama. Pemberian nama album Alkemis juga berdasarkan pada pemikiran itu. Intinya aku percaya orang-orang yang baik akan dipertemukan juga dengan orang yang baik. Semua itu tidak kebetulan, tapi karena kita konsisten.

D: Baik. Menyinggung perform malam ini, sebelumnya kami dari Tim Degilzine mengucapkan turut berduka cita untuk Bli Made. Dalam formasi baru ini, tenggang waktu tur dan pergantian personel mempunyai jarak yang cukup dekat. Ada kendala dalam persiapan tur?

R: Terima kasih atas ucapan belasungkawanya. Navicula mendapat banyak dukungan moral dan materil ketika Made meninggal. Kita banyak mendapat support dari komunitas dan teman-teman musisi Bali maupun luar Bali untuk membantu posisi di bass. Nah untuk posisi bass sendiri, kita memilih Krisna yang kebetulan teman sedari kecil dan cukup mengikuti perkembangan lagu-lagu Navicula. Krisna yang punya jam terbang cukup banyak di klab-klab akhirnya kita putuskan untuk mengisi bass. Untuk adaptasi sendiri, kita sesuaikan saat tur Home Sweet Home di Bali pada break bulan puasa lalu.

D: Ini ketiga kalinya Navicula main ke Medan setelah tur Konservasi Orang Utan di tahun 2012 dan tur Volcom di tahun 2014. Ada kesan yang berbeda dari kota-kota lainnya?

R: Kita selalu tertarik untuk diajak bermain di tempat-tempat yang jarang kita singgahi. Apalagi Medan jaraknya cukup jauh dan sudah cukup lama juga kita gak main-main lagi ke Medan. Ke Medan ga kulineran, ndak mungkin.

D: Tadi ketika manggung, Bli menyinggung tentang mikroplastik. Apakah nanti akan terlibat aksi World Clean Up Day 2018?

R: Kita banyak kolaborasi dengan beberapa organisasi, terutama dengan Kopernik karena grafik mereka cukup bagus. Kita akan merilis film seri yang akan ditayangkan di televisi. Judulnya Pulau Plastik yang berjumlah 8 episode, tapi kita baru menyelesaikan 1 episode. Banyak lagu-lagu Navicula yang dipakai, dan kita sedang penilitian tentang mikroplastik khusus daerah Bali. Bukan hanya mencari akar masalah, tetapi juga solusinya. Karena kita pikir semua harus bergerak, tidak bisa sendiri-sendiri. Karena jaman sekarang bukan Do It Yourself lagi, tapi Do It Together.

D: Apa pendapat Bli tentang “Bali Tolak Reklamasi”?

R: “Bali Tolak Reklamasi” bukan sekadar gerakan membabi buta, tetapi kita menolak dengan alasan yang kuat. Kita bukan orang-orang yang anti pembangunan, tetapi kita mendukung pembangunan yang seimbang dengan pertumbuhan ekonomi masyarakat, kesejahteraan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan sustainability untuk masa depan. Dan kenapa kita menolak reklamasi? Karena kita merasa reklamasi tidak sesuai dengan spirit keseimbangan itu. Dan gerakan ini adalah gerakan yang alami karena kita tinggal di Bali dan Bali adalah rumah kita. Pastinya tuan rumah tidak mau hal-hal buruk terjadi di rumahnya.

D: Apa harapan Bli untuk Baba (anak semata wayang Robi Navicula-red). Apa mau jadi musisi juga?

R: Ndak. Aku bebaskan dia. Aku menyediakan fasilitas seni. Tapi, kita sebagai orangtua seperti busur panah dan anak seperti anak panah kemudian kita lepas mau ke mana pun arahnya. Harapannya kita, kita kepingin dia menjadi orang berguna bagi orang banyak.

D: Baik! Terima kasih banyak Bli atas waktunya. Sukses untuk tur Earth Ship-nya!

Gede Robi, vokalis Navicula, membaca Degilzine edisi pertama. Foto: Eda Citra

 

Video lengkapnya bisa ditonton di bawah ini:

Share this post

Recent post