CIN-TE!

CIN-TE!

Aku ingin selalu bersamamu sepanjang malam. Duduk di tepian danau Toba, cubit mencubit sembari menghitung pantulan cahaya bintang yang bertaburan di atasnya agar penat hilang dan keintiman datang: romantis. Atau, kalau kau mau, kita bisa pergi mendaki bukit-bukit kecil pulau Samosir, jilat menjilat sembari menghitung cahaya mungil dari ribuan lampu-lampu perumahan. Singkatnya, satu pintaku, kita jauh dari keramaian.

Kenapa kau suka menyepi, sayang?

Karena aku takut, keramaian akan merusak isi hati kita. Berulang kali telah kukatakan, sejak kecil, sejak dengkul kaki kita masih seliar langkah kuda, keramaian telah memberangus pikiran kita. Tak mau aku, bila hatiku pun terjerat oleh mereka.

Iya, tapi sepi akan membunuh kita perlahan-lahan.

Hmm. Lebih baik mati dalam sepi bersamamu, ketimbang hidup dalam riuh tanpamu.

Ih, gombal!

Taik! Aku serius, bukan gombal. Apa yang keluar dari bibirku, muncul dari hatiku. Terkhusus saat berbicara padamu.

Kan! Gombal lagi!

Babilah kau, bah! Udah ku bilang bukan gombal, ku colok juga matamu itu.

Ishh, jangan kasar gitu dong.

Maafkan daku, sayang.

Huh! Hiks..hiks..

Udahlah sayang. Maafkan kecerobohan mulutku saat berucap.

Hiikss. Malaas.

Maaflah, taik!

Iya, anus!

———————————————————————————————————————————————-
Kau tahu, saat aku jauh darimu, detak jantungku berdegub pelan, percis kentut yang berdesis perlahan. Hidupku berbau busuk seketika, seluruh eksistensiku serupa dinding-dinding asshole yang kecepirit: tak bermakna dan dilapisi bercak selai berwarna kuning. Menjijikkan!

Iya, sayang. Aku juga tak sanggup bila harus jauh darimu. Jangankan jauh darimu, sekedip matapun aku tak mau kehilanganmu. Aku takut, jarak akan mengoyak-ngoyak cinta kita.

Yackk, lebay kampret!

Kan, giliran bibirku menumpahkan gelembung-gelembung cinta dari hatiku yang terdalam, kau malah bilang lebay. Sayang jahat!

Gelembung palamu!
———————————————————————————————————————————————-
Sayang, bila waktu menjajaki tahun demi tahun berlalu, dan kita dewasa sebelum waktunya, apa kau mau kawin lari denganku? Akan ku ajak kau mengelilingi dunia dan segala isinya, bersama khusyuknya cinta yang menyatukan kita.

Mau sayang. Kemanapun kau bawa aku, aku siap menghadapi segala aral.

Serius?

Demi cinta kita, sayangku.

Kalau gitu, besok aku ajak kau bercocok tanam di sawah kami. Orangtuaku pasti senang, melihat calon menantunya rela berkorban demi cinta anaknya.

Aduh, besok ga bisa, sayang. Aku harus pergi ke salon, kulitku mulai kusam nich.

Kalau gitu, lusa aja ya.

Aduh, lusa pun ga bisa, sayang. Kan, lagi ada diskon di mall dekat rumahku.

Si anjing!

 

*Ilustrasi oleh Ebribb (Febri Batubara)

Share this post

Recent post