SEMIOTIKA: BERMUSIK HARUS NEKAT

SEMIOTIKA: BERMUSIK HARUS NEKAT

Hari Minggu tanggal 29 Juli 2018 dengan bantuan seorang teman (densky9) kami berhasil menculik Semiotika sesaat di sela-sela turnya yang padat, untuk ngobrol-ngalor ngidul bersama tim Degilzine. Sebelum siang, sehabis checksound kami langsung mendatangi hotel tempat mereka menginap. Di sana kami disambut hangat oleh sang bassist (Riri), yang dengan santainya bertelanjang dada ketika diwawancara dan tentunya juga ditawarin kopi khas Jambi. Apa daya, personil lainnya waktu itu sudah tertidur lelap terlebih dahulu. Maka, wawancara ini terbagi ke dalam beberapa bagian, wawancara pertama kami dengan sang bassist (Riri), lalu kedua sehabis manggung dengan sang drummer (Gembol) dan yang terakhir dengan sang gitarist (Bibing). Sebenarnya patut disayangkan jika kami hanya bisa mewawancarai sebagian orang saja. Sedikit dipaksakan memang, tapi ya mau gimana lagi karena momen seperti ini jarang terjadi. Oleh karena teruntuk kalian semua, harap maklum ya! Ya sudah tanpa berbasa-basi lagi, mari simak obrolan kami dengan Semiotika beserta teman-teman Jambi lainnya.

Bersama Riri di balik selimut. Foto: Gepe

*Bagian 1: bersama Riri, sang bassist

Halo, Bang! Kami dari Degilzine. Perkenalkan dong diri Abang ke para pembaca Degilzine.

 Nama saya Riri Ferdiansyah. Saya sebagai pemain bass di Semiotika.

 Di Semiotika ada siapa aja sih?

Ada Gembol sama Bibing. Gembol kuda-kudaan, si Bibing main gaplek.

Gimana sih awal cerita terbentuk Semiotika?

Ceritanya dulu tuh si Gembol punya distro. Ya… dibilang gede sih lumayan gede. Banyak ruang kosong. Terus, ngajak Bibing. Bibing kan punya Home Recording. Jadi pindahlah ke situ berdua. Terus tiba-tiba yang dari nongkrong-nongkrong itu terpikir ide. Yok coba ya sambil nongkrong, bikin warung-warungan. Nah, di situ kan mulai bikin warung-warungan, ngopi di sana, sambil bikin kopi tuh pasti dengerin lagu, lagu yang didengar tuh termasuk lagu UTTBYS dan lagu-lagu lainnya termasuk juga yang berbau instrumental. Ah bosan kan kayak gitu terus. Dari denger lagu, denger lagu itu terus iseng. Coba yok iseng-iseng buat jam session di studio. Mulai dari situ tuh mulai kebentuk bandnya. Namanya dulu bukan Semiotika. Stip (baca: penghapus) panggilan. Sok-sok gaul, kan? “Hai Steve!  Steve Emanuel. Kopi Steve.” Nama warungnya itu juga Steve, hahahaha.

Berarti karena warung makan terbentuk band ini?

Iya, karena warung mie godok, hahaha. Sekitar tahun 2014 lah.

Terus memutuskan bermain jadi band post-rock gimana tuh?

Memang pada awalnya, bikin band, pengen bikin kayak gituan. Sebetulnya bukan post-rock, tapi instrumental rock. Biar lebih membebaskan dari pakem-pakem genre. Soalnya, ya… biar lepas aja sih. Tapi memang karena dengar banyak waktu itu, termasuk tuh UTBBYS, Ambience, Post-Rock, kadang-kadang Math-Rock, kadang-kadang dangdut juga. Serius tuh. Dangdut. Kayak Elvi Sukaesih, Rhoma Irama, hahahaa. Terus masuk studio, buat jam session, langsung rekam di HP. Rekamnya waktu itu pake Soundcloud, kan lumayan jernih tuh. Belum tau tuh jadi lagu. Dari HP dipindahin ke komputer. Denger lagi. Ditambahin lagi. “Nih kayaknya part ini bagus ini.” Diulang lagi. Di-jamming lagi. Terus gitu. Terus dipoles sampai akhir. Ujung- ujungnya tuh. “Rekaman yuk!”

Rekaman tahun berapa tuh, Bang?

Rekaman tahun 2014 juga. Album EP Ruang.

Itu gimana tuh Bang proses rekamannya?

Proses rekaman sih, rekaman secara mandiri juga. Soalnya di Jambi kan ga ada studio yang proper juga. Kebetulan saya punya band juga. Namanya tuh “Orang Aneh Yang Mau Bangkit Dari Dalam Kubur, Lama Dalam Peti”. Panjang namanya, kan? Hahaha. Nah, dia pengen studio, si gitaris vokalnya. Namanya tuh Rionaldo Taufan atau akrab disapa “Inang Kunang”. Di situl ah dimulai awalnya. Studionya belum sepenuhnya jadi. Waktu itu belum ada ampli bass. Hajar aja pake ampli gitar. Gak ada soundcard minjam dari temen, berikut dengan kabel-kabelnya beserta mic-nya juga. Saat itu bertepatan juga bikin live session-nya budak Cekceka. Jadi sekalian. Mumpung lagi dipinjemin nih. Aji mumpung nih. Pake ajalah. Sekalian bikin live session, sekalian juga tuh bikin rekaman di situ. Itu pertama kali. Dari situ. Cuman yang beda tuh lagu “Ruang”. Lagu “Ruang” tuh memang bener-bener di situ terciptanya. Di “Aji mumpung” itu tadi. Tapi waktu belum rekaman sih. Pas rekaman pun belum tau pattern-nya dimana. Ya… memang kayak gitu. Hajar bleh.

Terus beres itu, mixing dan mastering, Bibing yang ngerjain sendiri. Nah, jadi bingung. Mau diapain nih ya. Ya udah bikin album. Udah jadi enam lagu tuh. Yang satu lagu tuh, itu reverse. Ibaratnya kayak intro. Reverse dari semua enam lagu itu digabungin, ngambil beberapa detik dari setiap lagu. Makanya dibikin judulnya tuh “Hulu-Hilir.” Gitu! Kalo di Sumatera kan ada Hulu dan ada Hilir. Tapi ya sebenarnya itu, karena di-reverse makanya kita bilang Hulu Hilir.

Ada yang hal lucu pas waktu nentuin nama Semiotika tuh, kan nama awalnya Steve. “Apa ya nama lain selain Steve? Biar agak serius aja, gitu.” Terus keinget waktu jaman kuliah kan ada materi Semiologi, Semiotika. Terus, kenapa ga ini aja. Jadilah Semiotika. Kenapa Semiotika? Ya memang untuk memaknai si Semiologi itu. Jadi kita kan musik instrumental, ga ada yang nyanyi, ga ada yang vokal. Jadi kita coba mentransfer apa yang kita rasakan dari sisi sosial, protes, dan segala macem-macemnya. Bahwa si lagu itulah si nada-nada. Makanya disebut Semiotika. Tanggal 10 Desember 2015, Semiotika resmi meluncurkan EP “Ruang.”

Tadi katanya ada protes-protes gitu. Emang album “Ruang”sebenarnya bercerita tentang apa?

Protesnya tuh kayak lagu“Gersang”. Kenapa “Gersang”? Ada apa sih hutan di Sumatera khususnya di Jambi? Dan mungkin di Indonesia itu. Jadi hutannya bukan hutan-hutan yang memang alam,  jadinya hutannya sawit. Yang ujung-ujung peremajaannya adalah bakar,terbakar, atau sengaja dibakar untuk membuka lahan sawit. Dan seringkan di Sumatera waktu itu, 2015 ke bawah setiap tahunnya, pasti kebakaran hutan. Penuh asap.

Makanya cover-nya bentuk korek gitu ya?

Kalo cerita cover-nya itu lain lagi. Sebenarnya si Inal teman kita, itu dia yang memfoto. Dia punya foto panci kuali, pantatnya itu. Di foto mirip kayak planet nih. Cuman,wah…mikir-mikir bagus juga nih dibikin kayak gini. Secara simbolis ada api tiga orang, kemah-kemahan. Memang ga sengaja dikasih pernak pernik pepohonan gitu ya. Sengaja. Jadi sebagai mewakilin planet ya.

Terus tahun ini kan udah nge-rilis EP baru tuh, judulnya “Gelombang Darat.”Cerita sedikit dong tentang EP barunya!

Di EP “Gelombang Darat”, ada tiga lagu. Side A dan Side Bitu sama. Karena kaset formatnya. Kenapa kita produksinya kaset? Ya… karena mikir biaya produksi juga. Kalo buat CD kan minimal 500. Jadi coba kita akal-akalin. Secara kalo orang beli rilisan fisik itu kan enak dan ada perasaan tersendiri. Jadi ya… akhirnya ngerilis kaset. Dan juga kenapa ga gitu? Dulu-dulu kan kita sering beli kaset. Dirilisnya waktu RSD tahun ini.

Namanya kenapa “Gelombang Darat”? Kok sama kayak nama tur pertama kalian?

Nah, memang flashback-nya kesitu. Seneng sih ketemu temen-temen di luar Jambi. Orang baru lagi. Keluarga baru lagi. Dari situ memang kita jadikan inspirasi, makanya salah satu judul lagunya “Gelombang Darat.”Terinspirasi dari tur itu. Sehabis tur, kita coba masuk studio, “kayaknya enak nih dibikin lagu.” Album “Gelombang Darat” memang didekasikan untuk tur itu.

Rencana rilis full album kapan tuh?

Jadi, memang dari tahun 2015 ke 2018 itu lumayan panjang kekosongannya. Jadi, sebenarnya buat kita dari tahun 2015 ke 2018 ga ngapa-ngapain, cuman main gigs, gigs dan gigs terus. Ga ada proses kreatif. Jadi, ketika masuk studio bingung mau ngapain. Canggung, kan? Ya udah pemanasan dulu lah. Pemanasan dengan nge-bikin EP “Gelombang Darat” tadi. Sengaja. Sebenarnya sih banyak materinya yang udah ada. Cuman memang sengaja belom dikerjain.

Ceritain dong pengalaman seputar tur “Gelombang Darat” dan alasan kenapa nekat melakukan tur!

Sebenarnya di pertengahan tahun 2015 album “Ruang” itu sebenarnya udah di tangan. Cuman kita masih mentokan. Mau bikin tur ujung-ujungnya pasti dana. Terus bingung-bingung. Temen-temen lainnya yang dari Palembang kan suka bikin tur juga di Sumatera. Kan kita ngobrol-ngobrol dan sharing-sharing kayak ke Rio Geram dan Rian Pelor. Awalnya sih pengen bikin tur Sumatera. Cuman dipikir-pikir lagi, karena destinasinya antar kota ke kota lain, provinsi ke provinsi lain itu lumayan jauh kan. Ga sejauh kalo di Jawa.  Jadi makan biaya bensin. Nah, buat ngakalin kenapa gak bikin tur ke Jawa aja. Tapi awalnya pengen di bulan Desember. Waktu itu kan ada main di Jakarta. Di Festival Monkey Lada Fest, ada Toe main di sana. Karena kita bertiga memang senang banget dan pengen nonton. Jadi mau beli tiket nih. Tapi ga jadi. Bawa mobil akhirnya. Dan menghubungi si Pak Mamat ini biar dapat tumpangan untuk nginap. Ujung-ujungnya diproses lah sama si Mamat. “Kenapa sih anak-anak Jambi kalo ke Jakarta jadi turis konser? Kenapa ga dia yang bikin konser?” Wah, keren anjing!

Kenapa nih pak Mamat bisa ngomong gitu ke anak-anak Semiotika?

Mamat: Waktu itu kan kayak momentum. Jadi, dibikin sekalian gitu. Ketika mereka semua statusnya masih semua bujangan. Nah jadi ya udah, dibikin sekalian. Kalo mau nonton Toe, oke! Sehari sebelum acara Toe, atau sesudah acara. Ya, main di mana gitu abis itu. Ya, harus. Misalnya di Jakarta dicari tempatlah. Terus di Bandung nanti minta bantuan dari teman-teman yang lain. Untungnya kita memiliki temen-temen yang mau bersinergi. Jadi dicari orang-orang yang mau dan bisa ngebantu, di Jakarta, Bandung,  Jogja, Malang, Surabaya, dan Solo. Totalnya ada enam kota yang didatangin waktu Tur “Gelombang Darat.”

Bermodalkan nekat itu tadi?

Modal nekat aja, modal nekat sama CK (baca: cari kawan). Kami naik mobil. Kebetulan ada mobil inventaris Semiotika, mobilnya Gembol, hahaha. Jadi ya udah dipake tuh, paling bantu servis-servis sama ngisi bensin. Sikaaat.

Dari antara enam kota itu, mana yang paling berkesan bagi Semiotika?

Memang momennya sangat, ter-highlight itu, waktu kita main di Bandung, di Klub Racun. Itu markas besarnya Pirate Punk kan. Yang notabene mainnya punk semua. Tiba-tiba yang bikin ga nyangka adalah mereka welcome dengan musik yang kita mainkan, musik instrumental rock. Dan disambut. Temen-temen kolektif punk-nya pada datang. Apa ya? Kayak merasa sangat terhormat waktu itu. Kami juga di Klub racun waktu itu berbagi panggung dengan band idola yang dari Bandung, UTBBYS. Dulu ketemunya cuman bermodalkan Whatsapp. Ini langsung ketemu tatap muka.

Gimana tuh rasanya Bang?

Gimana ya? Deg-degan. Mantul; Mantap Betul, hahaha. Dan nanti malam bakal diulang lagi nih rasanya.

Bedanya tur “Gelombang Darat” dengan tur bareng Soundrenaline apa, Bang?

Bedanya yang kemarin itu makan-makan sendiri, nyupir-nyupir sendiri. Sekarang terbantulah karena ada yang ngurusin. Cuman gitu aja sih, selebihnya sama rasanya dan serunya.

Gimana Bang pengalamannya waktu abang berangkat ke SXSW kemarin sebagai perwakilan dari Semiotika?

Orang luar (baca: luar negeri) tuh sangat open minded, mereka sangat welcome dengan kita. Ketika di sana tuh kita main di Russian Bar. Sangat Rusia-lah dengan ornamen-ornamen tradisional Rusia. Ada cerita lucu. Jadi tuh ketika waktu minta liquor, minta yang keras kan. Dikasih lah yang keras. Rupanya ekstrak dari cabe. Langsung minta ganti yang agak soft, haha. Mumpung disana kan, mikirnya. Eh, ga kuat rupanya. Dari baunya aja udah gak bersahabat, hahaha.

Disana tuh dimana-mana ada venue. Setiap bar itu ada venue-nya SXSW. Termasuk convention centre-nya. Di sana lah kelas seriusnya. Satu kota dijadikan sebagai tempat festival, dimana-mana venue.

Itu waktu main disana gimana, Bang? Ada gugup-gugup gitu ga?

Seru banget! Gugupnya ya… dibantu sama itu tadi, ekstrak cabe, hahaha. Bodo amat kan kalo udah kayak gitu. Sok asik aja. Jadi pede waktu mengiringi Kimokal. Disitu tuh ga ada batasan usia sih. Emang sih kalo mau masuk bar harus 21+, kalo ke bawah dianggap kriminal. Memang dimintain ID-nya. Ga bisa masuk kalo ga ada. Yang ngeliatin tu waktu main, oh ga yakin nih, ada nenek-nenek, orang pacaran. Sampai joget-joget tuh sama nenek-nenek. Main itu sama yang Kimokal yang di-set awal sih kan lima lagu. Cuma mikirin dengan setup alat, dll. Udahlah tiga lagu aja yang kolaborasi jadinya. Mereka, awalnya Kimokal mainin dua lagu, kita yang ke- 3 4 5. Terus lanjut lagi dua lagu lagi. Pas yang dua lagi kan, ke bawah tuh. Udah bawaan mabuk tadi. Joget-joget gaya jaipong tadi. Jadilah tuh ujungnya joget sama nenek-nenek itu. Sampe dikasih minum terus sama dia.

Kalo Abang rasa nih, perbedaan paling mencolok antara festival di Indonesia dengan festival  di luar negeri itu apa?

Kalo festival itu kan banyak modenya, ada yang memang festival yang tujuannya kita mesti showcase. Ketemu saling berjejaring. Ada memang festival yang tujuannya buat startup, ya modelnya kayak SXSW. Dimana memang festival itu diperuntukkan, line up-nya itu ya startup. Band-band baru, agent booking, jurnalis, Production House, dan lain macam-macamnya lah. Disitu mereka jadi speaker, juga jadi kayak scouting gitulah. Dan di situ memang, temen-temen yang main di situ, bakalan diajak kerja sama. Polanya udah bisnis. Jadi mereka kayak pencari bakat gitu, begitu ada band keren, langsung didatangin,  langsung diajak main di acara yang ia punya, diajak juga untuk main di negaranya. Bisa dibilang kayak exhibition gitulah.

Setelah main ada tawaran untuk main di festival lain atau di negara lain ga, Bang?

Tapi itu bukan setelah main, sebelum main malah. Kan jalannya tu di sana sama mas Robin Malau. Jalanlah sama kolega-kolega dia. Nyamperin orang-orang yang punya festival di luar negeri, banyak kan. Ke bar-nya Andy Jones. Kalo gak salah The Walls namanya tuh. Pergi kesitu coba nawarin CD kan, tebar pesona gitu, haha. “Oh saya gak punya alat untuk muterin CD. Kalo mau, kamu kirim aja e-mail. Atau kamu kasi link digitalnya aja, biar saya beli, saya dengerin. Oh, saya punya festival,” katanya, dia punya dua, di UK festivalnya. “Oh sayang kenapa kita baru ketemu kalo kita kemarin-kemarin udah ketemu di akhir tahun, kamu saya ajakin main di festival saya,” katanya. Padahal belum pernah ketemu, belum pernah ngobrol, malah seterbuka itu dia. Pas liat lineup yang main tuh. Anjing! Ada Franz Ferdinand, dll. Dan dia kan memang orang Texas jadi kayak, “Wah, kamu band kayak EITS tapi versi Indonesia. Wah ini cocok ni,” nawarin lagi,  “tapi sayangnya itu nantilah kita buat jadwal ajalah,” katanya. Datangnya sendirian pula waktu itu, ga sama band. Padahal bisa tu diajak dia main di bar-bar yang ada di Texas.

Berarti album baru bakal dikirim ke dia dong ni ya?

Iya, rencananya kayak gitu.

Berarti ada rencana tur UK dan Texas nih ya?

Mudah-mudahan, kalo dapat ininya, biayanya, hahaha. Kalo dapat biaya penginapan sama terbangnya, ya berangkat. Lumayan kan. Hahaha

Kapan sih Bang rencana album baru?

Belum tau sih, masih materi kasar semua. Temanya sih tetap sama, sosial, kejadian yang di sekitar kita. Apa sih yang mau kita ceritakan, khususnya tentang Jambi dan Indonesia. Kita mau berbagi cerita kan. Sebenarnya sih lebih banyak unsur sosialnya, kayak ceritain kayak mana kehidupan kita sehari-hari. Kerap kayak delusi. Itu di mini album “Gelombang Darat” kan ada lagu “Delusi” tuh. Protes juga itu. Kenapa sih orang Indonesia khususnya kayak kita ya… kayak doktrin orang tua, “Kamu, Nak, kalo tamat belajar kuliah harus jadi PNS.” Setelah kita jalanin kan kita ga nyaman, pengennya jadi seniman, Mak. Makanya diambil “Delusi” tuh.

Berarti ada kesulitan ga Bang waktu proses Abang buat menginstrumentalkan apa yang ingin Abang sampaikan? Sedangkan lagu lain biasanya dibantu oleh liriknya.

Itu macem-macem prosesnya. Sebutannya apa ya? Ga ada sih. BIasanya ngalir aja. Let it flow. Hajar-hajar aja.

Cerita dikit dong Bang skena Jambi gimana sekarang?

Cabul: Udah lumayan mantep, bisa dikatakan lebih baik, gara-gara sudah ada pengalaman dari Semiotika. Jadinya mulai sharing-sharing lah. Lebih terbuka pikirannya sekarang daripada dulu. Tidak mentok hanya tur Sumatera saja. Semiotika bisa disebut sebagai kambing hitam untuk perkembangan musik di Jambi. Bisa dikatakan juga sebagai pelopor.

Pendapat Abang gimana tentang terpusatnya kebudayaan dan musik Indonesia yang berada di Jawa?

Udah diobrak-abrik kan sama si Pelor itu di di Archipelago Fest. Kebetulan yang bener-bener hadir di Archipelago dan ikut di kelas itu ya, Bibing sama Gembol. Jadi temanya kelas itu, “Beyond Jakarta”. Jadi pergerakan musik-musik yang di luar dan jauh dari Jakarta. Problem-nya apa sih.

Kalo menurut Abang problem kita yang di Sumatera dengan mereka yang di Jawa bedanya apa sih? Menurut sudut pandang Abang aja.

Kalo dari kualitas kita ga kalah. Cuman kita yang di Sumatera itu kurang gercep (baca: gerak cepat). Kalo akses sih sebenarnya bisa dibikin. Karena praktekin langsung kan. Termasuk si Auman kan. Kita banyak belajar dari Auman, belajar dari Pelor langsung. Ternyata ya itu PR kita, ketimbang orang Jakarta, Bandung. Karena memang, ga tau juga ya. Tapi, kenapa di Indonesia itu, sentralisasi kebudayaan, musik, semua-semuanya di Pulau Jawa. Kenapa mesti ke Jakarta. Jadi temen-temen mau nge-band di Sumatera mesti hijrah (baca: pindah ke Jakarta). Sayang, kan? Di Jambi pun banyak juga temen-temen yang hijrah, tapi sayangnya gagal.

Berarti menurut Abang bisa ga sih musisi bisa dijadikan sebagai profesi di Sumatera?

Bisa sih, cuman ya itu, kita kerjanya lebih banyak, kerjanya tiga kali lipat daripada teman-teman yang di pulau Jawa, khususnya di Jakarta dan Bandung. Kalo mereka kan, naik motor aja kan nyampe ke media. Udah kenal, langsung bisa tatap muka.  Kita kan gak bisa langsung tatap muka. Paling mentok sosial media, dan sosial media ada berapa banyak rilisan yang harus diberitakan lagi. Gitu kan. Pasti ke sortir, ke filter. Kalau kemasan si  press kit-nya biasa aja, ga menarik, ga digubris pasti, jadi kita belajarnya gitu dari Auman. Harus dibikin semenarik mungkin. Terus dulu kan sempat ada media seperti Rollingstone, dll. Orangnya siapa sih di situ. Udah kirim ke medianya. Kirim lagi secara pribadi ke mereka. Berarti kan tiga kali lipat kerjanya.  Buat naikin di satu media aja, udah ngirim lima. Itu pun masih entah dibaca entah ga. Belum ada jaminan. Yang di Jakarta aja untuk produksi mereka banyak pilihan. Kalau di Sumatera kan cetak CD aja harus ngelempar ke Jakarta. Secara infrastruktur kita kuranglah. Studio, gedung pertunjukan, bahkan dari medianya sendiri aja masih kurang. Dan ini Degilzine kayak gini, itu sudah sangat membantu. Jadi ketika ada, istilahnya ada pertukaran band-lah. Ada band dari Jawa atau mana aja mau ke Sumatera. Itu jadi ada jejak rekam, ada payungnya. Sebagai guide kan, aku kalo ke Medan, mau tur, siapa ya, bakal jadi opening, yang bakal nge-guide. Oh, bisa dicari nih di Degilzine orangnya siapa-siapa aja. Band-bandnya gimana sih. Link Sumatera itu kayak dihubungkan lah satu persatu.

Kayak adanya sosial media sekarang, membantu sekali untuk jejak rekam. Kelihatannya remeh, tapi ujung-ujungnya nah penting. Kemarin banyak ngorol-ngobrol sama bli Dadang itu, Navicula, sama Dialog Dini Hari-nya itu. Gila dia ya, anjing tuh orang. Banyak banget karya dia. Band-nya juga banyak main solo, main duo, main tigo, main empat. Bisa scoring film. Dia kan banyak kerja sama dengan para sineas di luar negeri. Jadi dia yang bikin musiknya. Canggih itu orang. Orangnya juga asik diajak ngobrol. Langsung ngobrol akrab. Dari awal dia pernah ngomong, “Aku sih ambisi ku cuma satu, aku pengen manggung tiap hari, cuma itu aja. Mau dibayar ga dibayar terserah. Pokoknya aku mau tiap hari manggung.” Jadi, dia pernah bilang, “Udah kalian jangan mikirin apa-apa. Just do it! Just create it!”

Bagi tips-tips dan cara dulu Bang, agar band indie bisa survive!

Sebetulnya band independen harus bisa survive. Cuman ujungnya CK-CK lagi. Modal sosial lah. Biar survive sih sebenarnya harus nge-bangun base economy-nya juga. Penting kan. Kalo belajarnya sih selama perjalanan ini, kayak gitu. Pasti suatu saat kalo CK-CK terus ada yang bosan. Dan itu sensitif kan. Jadi cobalah diakalin supaya mandiri. Jadi kayak bikin base economy, misalnya merchandise. Biar ngebantu. Gak terlalu berat ketika ada, sesuatu yang dibutuhkan si band. Atau minimalnya kalau dengan cara yang ga kayak gitu. Udah bikin iuran aja, per minggu berapa. Jadi pas mau nyewa studio, dan segala macemnya. Udah ada duitnya. Walaupun masih CK-CK tapi ga segede itu duit yang dibutuhkan. Gak segede biasanya.

Kedua, jejaring sih. Gimana membangun koneksi. Pertama kan butuh modal dulu. Buat pergi kemana-kemana. Itu aja tebak-tebak kancing tuh yang tur 2015. Jalan Jawa gak tau. Berapa kali kesasar coba dulu itu di tol. Gatau kan. Modal Waze atau Google Map. Ga jelas juga kan. Base economy kan sebetulnya buat ngebantu, bukan buat tujuan bisnis, tapi bebas sih secara terjemahan mah bebas.

Ketiga tuh, selalu berproses kreatif sih. Jangan pernah cepat puas! Soalnya kan seni itu, semuanya saling mix, berhubungan gitu. Misalnya dari musik bisa kerja sama kan, kayak artwork atau visual. Jadi kerja sama. Kalo namanya kerja sama kan kayak manusia, dapat win to win. Kolaborasi. Selalu ada proses kreatifnya terus dalam berkarya. Kan ga harus melulu buat album kan? Capek juga buat album kan. Jadi ya coba buat yang lain. Berkolaborasi. Agar proses kreatif ga pernah berhenti.

Emang Abang selain bermusik, kegiatan Abang apa aja?

Bikin kegiatan sih, bikin kegiatan politik entah apalah. Kemarin sih buat video, misalnya musik. Oh, bikin video live session kayak gitu. Toh baru-baru ini lagi garapin video klip. Cuman bakal dua bulan lagi baru dirilis. Karena memang, bocoran nih, bikinnya kemarin pake green screen. Butuh proses pengerjaan editing. Itu kolaborasi sama temen. Kebetulan temen tuh orang foto dan videografi gitu dari Jambi dan kerjanya begituan di Bali. Pas dia lagi balik, “Gimana yok bikin yok? Bikin video klip.” Mepet-mepet tuh kan. Dia Cuma punya waktu seminggu di Jambi. Wah, langsung ayok lah waktu itu. Mumpung ada yang mau ngajakin kerja sama, sama-sama mau, kan? Ngobrolin produksi gimana-gimananya. Bahkan sekaligus langsung bikin tiga video klip Semiotika waktu itu. Pengerjaan selama dua hari. Yang satu-nya green screen album baru, yang duanya lagi one shoot, kan itu album lama. Cuma yang satunya itu masih pake ruangan dan mode green screen. Yang satunya lagi memang di hutan pinus di Jambi. Disitu baru tau, ternyata bikin video klip itu melelahkan, hahahaha.

Tapi Abang pernah ada kepikiran gini gak sih, Bang, “Kayaknya aku ga bisa hidup ni di Sumatera nih, mau gak mau aku pindah aja ke Jawa”. Ada ga, Bang?

Ga! Ngapain pindah kalo bisa kita angkat. Memang kita berasal dari Sumatera, kenapa ga? Sempat dulu ditawarin kan. “Kalian harus pindah ke Jakarta nih sepertinya.” Ditawarin sama siapa? Iga Massardi. Ditantangin sama Iga, “Ayolah pindah ke Jakarta!” “Ga ah! Kami ga mau,” kami bilang. Siapa yang bisa ngejamin coba waktu sampai di Jakarta. Bakal banyak yang kita tinggalin, kan? Kawan ditinggal, keluarga ditinggal. Selama bisa berproses kreatif bareng temen-temen di Sumatera, kenapa harus pindah? Misalnya nge-rilis merchandise. Beberapa kali ini, dari tahun kemarin, emang sengaja bikinnya sama temen-temen yang ada di Sumatera khususnya Jambi, yang punya sablon. Jadi kayak naikin industri kreatif lokal juga. Kerjasama kayak gitu. Bikin-bikin gantungan kunci, baju, pin, stiker, dan poster.

Band Post-Rock favorit yang tiap hari didengar?

Kalo yang lagi didengar sekarang malahan bukan band Post-Rock. Kalo yang instrumental ya… lagi seneng dengerin Khruangbin. Kalo Post-Rock tuh dulunya denger cukup banyak sih. EITS, Pelican, Hammock, terus So I Watch U From A Far, This Will Destroy You, Mono, banyak lah. Itu pun ada temen-temen dari UTBBYS sering banyak ngasih referensi juga.

Berhubung kami ga tau banyak tentang skena Jambi, Abang ada rekomendasi ga band Jambi yang harus kami dengar sekarang?

My First Impression tuh. Dia band lama Jambi. Kalo yang baru-baru ada Titi Naka, mainnya Stone Rock gitu. Materi mereka cakep tuh. Terus ada Fulan Feehan, mainnya twee-gaze gitu. Lagi ngegarap juga tuh mini album. Ada Old File juga, Blues Rock gitu. Apa lagi ya? Banyak sih. Cuman yang memang sering ketemu dan sering didengar mereka  berempat itu. Itu murni ya dengerin karena suka dan bagus gitu. Bukan gara-gara temen, tapi memang karena karyanya. Kayaknya skena di Sumatera mesti ngebangun pola-pola yang sehat kayak gitu. Kalo misalnya jelek, bilang aja jelek. Bilang jeleknya dengan alasan. Biasanya kan kita suka sensitif nih kalo yang begituan,  tapi kita caranya bukan komunikasi satu arah, tapi dengan komunikasi dua arah. Ngekritik tapi ngasih masukan. Kritik yang membangun. Selama ini sih cara komunikasinya aja yang salah.

Juga kayak merubah pola-pola skena yang dulu tuh. Temen-temen yang di Sumatera pasti ngerasain. Atas nama skena, main gaple, gosip, main gaple lagi. Capek gak 10 tahun kayak gitu. Yaa gimana caranya dibikin supaya agar ada input dan output juga bagus gitu. Jadi, biar bener-bener sehat si skenanya itu. Ngebikin sesuatulah, ga hanya sekedar mabuk-mabukan bareng. Mabuk-mabukan juga penting, cuman gimana cara mabuknya bagus gitu. Untuk produktif, bukan mabuk resek, terus berantem. Bukan zamannya lagi gitu.

Riri ketika di atas panggung. Foto: Dzaki Muhaqi

 

Tampoyak atau gudek?

Tampoyak.

Padek Nian atau Gilo Babi?

Gilo Babi.

ERK atau Sore?

ERK sih.

EITS atau This Will Destroy You?

This Will Destroy You.

Barasuara atau Aumana?

Aumanlah! Auman sayang. Kenapa mereka bubar.

Apa rencana Semiotika ke depannya nih?

Buat album, yaitu album full kedua. Dengan konten sedikit yang berbeda. Surprise-lah pokoknya, hehehe.

 

*Bagian 2: bersama Gembul, sang drummer

Bersama Gembul, sang drummer. Foto: Raka Dewangkara

Gimana tuh Bang rasanya perform di Bandung?

Bandung buat saya sih selalu berkesan. Pertama kali Semiotika tur tahun 2015 Desember kita main di Klub Racun, yang biasanya nge-organize band-band punk, hardcore, metal, paling kayak gitu ya. Pertama kalinya Semiotika main di Bandung dan di Klub Racun. Anjir ya maksudnya agak kagok juga sih. Maksudnya Post Rock Instrumental main di acara punk gitu ya. Tapi ya udah deh, nikmatin gitu. Dan itu asli berkesan. Banyak band kayak UTBBYS dan sejenisnya. Ya banyak. Trus untuk beres, balik lagi ke sini dengan touring sama Siasat. Alhamdulillah Semiotika main di Bandung selalu diberikan apresiasi yang lebih dari ekspektasi kita. Makanya saya bilang BERKALI-KALI, Bandung selalu berkesan buat saya pribadi dan buat Semiotika sih.

Apa nih bedanya massa audiens kalo main di Jambi dengan di Bandung?

Mungkin kalo dari segi, bukan skena namanya ya kalo dibilang, maksudnya penikmat musik, apresiasi penikmat musik, mungkin di Bandung mungkin lebih banyak daripada di Jambi, karena ya Semiotika juga dulu nge-band di Semiotika juga jenuh nih main gitu-gitu doang. Maksudnya mainnya metal, segala macem. Saya main hardcore, trus bang Riri sempat main metal juga, Bibing nih main pop rock gitu lah. Nah maksudnya habis dari situ band-band banyakan underground, di Sumatra banyakan underground tuh. Maksudnya pingin buat yang beda gitu. Instrumental. Nah bedanya ya paling kayak aku bilang tadi penikmat musik kayak di Bandung lebih banyak dan apresiasinya lebih ini lah. Karena di Sumatera  kayaknya lagi menjamur nih, pelan-pelan. Mudah-mudahan Sumatera bisa ikut kaya di Bandung juga lah, kayak di kota-kota Jawa lainnya gitu.

Ada kepikiran pindah dari Jambi ke Jakarta mengingat pulau Jawa sentralisasi gitu?

Kalo aku sih maksudnya sentralisasi musik itu dimana aja, lu bermusik misalnya lu mau di daerah. Buat kita malah band daerah, band ibu kota itu mah ga ada. Band ya band. Kota ya kota. Daerah ya daerah. Dimana lu ngeband ya itu band lu. Ya tergantung dari segi lu ngeband kerja kerasnya ampe mana sih. Trus lu mau dibawa kemana nih, band mau dibawa jalannya gimana nih. Ada jalan kiri, ada jalan kanan atau mau yang gimana nih misalnya gitu. Ya gimana ya? Kalo mau kepikiran pindah, kayaknya dibilang tadi, kayaknya ga deh. Maksudnya, ya udah, Semiotika itu ya itu, dari Jambi. Sempat ada beberapa teman musisi juga di Jakarta, kemarin sempat main di Jakarta. Sempat ditanya, “Pengen ga pindah?” “Ga pengen“ “Kenapa ga pengen?” “Ga pengen aja,” gitu aja sih. Maksudnya emang, walaupun ga segila band-band ga di Jawa aja ya band-band di pulau Sumatera juga jor-joran nih main festival ini main festival itu, tur sana sini. Tapi pengen, maksudnya ya Semiotika kalau dikenal darimana, ya dari Jambi. Udah itu aja sih.

Jadi membuang stigma orang kalau mau ngeband dan hebat itu musti di pulau Jawa gitu?

Maksudnya bukan menghilangkan stigma, itu tergantung masing-masing pemikiran. Ya kalo mereka kalo “Yok kita mau lebih maju nih. Sok atuh, mangga, ayo kita pol-polan.” Anak-anak band Jambi banyak yang hijrah ke Jakarta tapi ujung-ujungnya pulan ke Jambi, buat band lagi di Jambi malah. Ya maksudnya, lu ngeband apa dulu nih. Fashion atau passion gitu. Maksudnya gayaan atau semangat lo nih. Kalau gegayaan ya udah, maksudnya ya gitu-gitu lah. Maksudnya ya keren-kerenan gitu kan, kalo lo semangat lo pasti mikir ini band mau dibawa kemana nih, jalannya kayak apa nih, seperti apa nih gitu.

Berarti musik bagi Abang itu gimana?

Musik bagi gua hidup sih.

Tanpa musik Abang ga hidup gitu ya?

Tanpa musik, boker aja gue bermusik. Dengerin musik.

Lagu favorit di Semiotika apa tuh, Bang?

Kalo kemarin ditanya juga susah juga kalo bilangnya. Maksudnya mungkin kalo ditanya paling sulit dibawa gitu pasti ada sih. Cuma kalo lagu favorit semuanya lagu favorit. Soalnya semuanya, ga tau ya, maksudnya gua beruntung aja sih dapet gitaris si Bibing, bassis-nya bang Riri. Ya udah terserah lu mau mainnya kayak gimana ya.  Terus gue juga mainnya kayak gimana. Tapi enak aja didengerin gitu.

Berarti dalam proses pembuatan musiknya dibebasin?

Dibebasin. Yuk main yuk, ngejam-ngejam dulu yuk. Direkam pakai handphone segala macem. Karena studio recording di Jambi masih terbatas ya, maksudnya ga kaya di luar Sumatera. Walaupun kalo di Jambi mungkin ada ya, maksudnya workshop trus direkam pake equipment yang bagus gitu kan, kalo kita sih belum ada sih di Jambi. Paling pakai handphone trus dimasukin ke laptop atau komputer, masukin ke aplikasi, trus dipilih nih yang mana yang bagus trus dikembangin lagi, potong, cut. Nah kebetulan mixing mastering lagu Semiotika selama ini masih dikerjain sama Bibing. Jadi prosesnya tuh, ya msih lingkungan Semiotikalahgitu. Jadinya ngerti gitu. Misalnya musiknya gimana nih, influence-nya, output-nya gimana nih.

Kita butuh bocoran nih buat album baru!

Album baru kamaren baru nge-rilis EP ya di “Gelombang Darat.” Jadinya tiga lagu. Isinya tiga lagu itu kita dedikasikan buat tur kita di tahun 2015. Nah kalo untuk album sih, tahun depan kayaknya.

Rencana berapa lagu nih Bang dalam satu album?

Rencananya sih kita milih angka yang ganjil-ganjil sih. Pengen aja sih, suka dengan angka-angka ganjil. Tapi belum tau nih yang tujuh dan sembilan belum tau.

Fira Talisa atau Danilla?

Fira Talisa deh.

Tempoyak atau batagor?

Batagor. Gue ga suka durian dan gue ga suka ikan.

UTBBYS atau The Milo?

UTBBYS.

Bananach atau Weekend Roll?

Weekend Roll.

Auman atau Barasuara?

Auman.

Proyek ke depan, Semiotika kayak apa?

Kebetulan baru kemaren beres buat video klip sih. Ya sebenarnya ga kepikiran mau buat video klip. Tapi ada teman videographer pulang dari Bali ke Jambi. Dia memang janji nih mau buat project-an, “Bing! Bol! Ri! Aku pengen! Aku janji nih buat video klip buat kalian, tapi ga tau kapan.” Udah beberapa tahun yang lalu, terus kebetulan dia pulang. Oke, cuma tujuh hari. Tujuh hari dibagi lagi. Beberapa hari dia harus ke keluarga, terus beberapa hari ke teman gitu. Jadi sisanya tiga hari. Tiga hari itu kita buat video klip dalam sekali shoot. Bocorannya sih gimana ya?

Kapan real-nya?

Kayaknya bocorannya paling pertengahan Agustus.

Itu ada tiga lagu tuh?

Kayanya satu lagu dulu deh.

Bertahap ya?

Iya, bertahap dulu nih.

Gembul ketika beraksi. Foto: Raka Dewangkara

*Bagian 3: bersama Bibing, sang gitaris

Karena Abang yang katanya bertanggung jawab dalam proses Mixing dan Mastering album Semiotika, itu bagaimana treatment Abang?

Jadi kayak kita rekaman kan ini nih. Fasilitas kan ga ada di DnB, tapi kita tetap cari studio latihan jadi ga ada tempat rekaman. Jadi kaya kita minjam audio interface sendiri di tempat yang lain, pisah – pisah. Jadi, kayak kabel-kabel buat drum, mic drum kita pinjam ke tempat rental sound system. Trus jadi kita kayak, “Yaudahlah! Maksimalin yang ada aja.” Itu juga ga ada pikiran, “Oh, bayangannya kedepannya sound-nya kayak gini nih,” ga ada. Jadi, lepas aja! Lepas aja apa yang ada. Kita dapat mic drum yang ini nih. Kita dapat audio interface-nya yang emang nyari yang delapanchannels gitu. Ya lumayan! Lihat-lihat Youtube gimana nih buat delapan channel yang maksimalnya gimana. Rekaman, aku yang operator-in. Pas aku rekaman, ganti-gantian ngerekamin. Kalo pas album yang ini, kebetulan aku rekaman, bang Riri ga bisa. Jadi, Gembol yang gatau apa-apa aku ajarin disitu. “Nanti rekaminnya pakai ini ya, kursus jadinya. Kursus gercep.” Segalanya DIY jadinya. Jadi album “Gelombang Darat” juga kayak gitu. Kita minjem lagi gitu. Nah, jadi kayak diproses gitar aku, rekaman gitar, terus bass. Jadi, kayak eksperimen semua. Kayak ga ada bayangan nantisound-nya begini, harus gimana, ga ada. Jadi kayak yang udah rekaman. Gini nih, udah oke, lanjut ke bass, lanjut ke gitar. Itupun kalau misalnya didengerin bener. Sebenarnya ada beberapa. Setiap lagu itu ada beberapa part yang kita miss, misalnya kayak masalah tempo. Masalah Gembulnya yang mainnya ada miss gitu, cuma kita emang. Aku sebagai operator, aku ga mau, “Ini gaboleh perfect nih.” Aku mau ada sisi humanisnya deh. Karena itu yang buat beda gitu misalnya, daripada yang harus perfect. Ibaratnya kita di situ ga mainin musik dengan nyaman yang harus perfect gitu. Jadi pas aku proses mixing dan mastering juga, ya aku kayak lepas aja gitu. Jadi, ya udah jalani aja. Cuman, antara Ruang dengan album Gelombang Darat itu, di rekaman Gelombang Darat, aku udah pake-pake layer tuh, beberapa layer.

Mulai pengalaman dari album pertama lah ya?

Sebenarnya aku sebelumnya punya band emang begini juga. Sering rekaman menggunakan layer. Nah jadi pas live, pas di “Forbidden” itu, ini gabisa nih, pas rekaman kaya gini pas rekaman beda gitu. Jadi pas di album kedua emang sengaja kayak kita main di latihan gitu. Aku rekaman gitu. Ga pake layer-layer-an. Sedangkan pas yang di “Gelombang Darat” pengen agak beda dikit. Proses mixing dan mastering memang berjalan aja, ga ada bayangan apapun.

Kalo Ruang berapa hari, kalo Gelombang Darat berapa hari?

Ruang lumayan lama, sekitar dua bulan. Jadi udah selesaikan mastering yang pertama nih, udah dengerin, aku ngulang lagi dari nol. Jadi aku sekarang dua master. Cuma sebenarnya aku lebih suka yang pertama kali, pas didengerin lagi. Pas yang “Gelombang Darat” cuma seminggu. Karena kejar deadline produksi.

Instrumental dengan tiga orang itu kan, kalo aku sih melihatnya cukup berat. Abang mengakali gimana?

Mm… gatau, ya main aja. Jadi ya nge-jam ya yang ada di album. Biasanya kita nge-jam ada intinya. Semenit atau dua menit kita nge-jam. Nah pas di album palingan dipanjangin part-nya, pas aransemen dipanjangin part-nya. Atau ada beberapa part yang bener-bener kita aransemen, tercipta pas lagi di aransemen gitu. Cuma tetap intinya itu di pas kita nge-jam. Kayak ya tadi pertanyaannya gimana caranya ngisi kosong itu. Ya, gatau sih maksudnya. Ngalir aja.

Udah enak aja, berarti “Kosong” nilai lebih, ya?

Kalau aku sih main gitar emang pengen ribet gitu. Aku suka yang kayakstereo. Di rekaman juga kayak sering banget ber eksperiment. bereksperimen kayak pakai empat “channel”. Terus ujung-ujungnya mixing-nya ribet. Ya begitulah pokoknya. Tapi aku tetap menikmati prosesnya

Bocoranlah Bang buat album kedua!

Album kedua kayaknya materinya mau dibenangmerahkan ke album “Ruang” lagi. Karena soalnya yang mini album ini (Gelombang Darat) agak beda nih sama album “Ruang” kan? Album “Ruang” ini nyantai. “Gelombang Darat” tiba-tiba dari mixing-an trus dari aransemen agak keras, yakan?

Pendapat tentang sentralisasi musik di pulau Jawa, gimana tuh menurut Abang. Apakah ada kepikiran buat pindah gitu ke Jakarta?

Kalo dulu mungkin ada kepikiran ya, sekitar tahun 2000-an. Cuma kalo sekarang kayak orang-orang mungkin yang di Jawa pun sudah pikirannya kritis nih. Maksudnya kayak saya ngobrol-ngobrol dengan siapa gitu, males dengan yang sangkutan ke daerah dari Jawa. Jadi sebenarnya kita lagi yang apresiasi. Kan ga adil nih kalo misalnya kita apresiasi sebuah musik dari daerahnya. Maksudnya musik ya musik aja. Terserah sih orangnya mau siapa saja, mau daerahnya dimana aja,. Kalo musiknya kita suka ya pastilah ada yang mengapresiasi.

Bibing ketika di atas panggung. Foto: Raka Dewangkara

Video klip terbaru Semiotika “Seharusnya Hijau”.

Share this post

Recent post