PERJUANGAN MAHASISWA BELUM USAI: TANGGAPAN ATAS ARTIKEL ADI PERWIRA PURBA

PERJUANGAN MAHASISWA BELUM USAI: TANGGAPAN ATAS ARTIKEL ADI PERWIRA PURBA

Tulisan ini berangkat dari pembacaanku atas tulisan Adi Perwira Purba, berjudul “Redefenisi Pergerakan Mahasiswa,” yang terbit di kolom opini Harian Analisa, sekitar setahun yang lalu (Rabu, 19 Juli 2017). Namun tulisan itu baru bisa aku baca, beberapa minggu yang lalu, setelah sebelumnya, iseng, melakukan googling tentang gerakan mahasiswa. Tulisan itu aku baca sampai habis, sembari terheran-heran, dengan perasaan aneh sekaligus lucu.

Adi berangkat dari asumsi kalau kondisi pasca reformasi udah ngantarin mahasiswa ke ambang kebingungan. Layaknya seperti para veteran pejuang kemerdekaan yang dulu setiap harinya memikul senjata dan bambu runcing dalam pertempuran, kemudian akhirnya kebingungan, ketika setelah merdeka, semuanya menjadi berubah, pekerjaannya tidak ada lagi, hanya tidur-tiduran di rumah atau mengerjakan sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan perang,” tulis Adi.

Kemudian Adi nambahin, ada beberapa mahasiswa yang sadar dan nyoba mengembalikan kejayaan masa lalunya, dengan turun ke jalan untuk berdemonstrasi. Namun menurut Adi, demonstrasi itu cuma nafsu belaka dan sekadar penunjukan eksistensi semata. “Demonstrasinya minim esensi, cara penyampaiannya yang tidak beretika dan seringkali bersifat destruktif dan merugikan, berorasi menutup jalan umum, membakar ban, sampai kepada aksi-aksi perusakan fasilitas umum, seperti pos polisi atau lampu lalu lintas,” tambah Adi.

Gak cuma di situ, Adi mencoba nunjukin dikotomi pendapat, yang pada akhirnya menciptakan dua kelompok yang berseberangan: antara kelompok yang berpendapat kalau tugas mahasiswa hanyalah belajar di kampus yang oleh karenanya belum matang untuk melakukan aksi nyata, dengan kelompok mahasiswa yang justru menganggap bahwa tugas utama mahasiswa adalah penyambung lidah rakyat yang oleh karenanya sudah seharusnya melakukan aksi nyata. Adi mengajukan usulan supaya mahasiswa meredefenisi posisi dan sikapnya dalam kondisi hari ini. Menurutnya ada beberapa pertanyaan, yang harus dijawab mahasiswa saat ini, salah satunya,  “Apakah mahasiswa masih menjadi penyambung lidah rakyat?”

Menurut Adi, karena kondisi udah beda, Orde Baru udah runtuh seiring  munculnya media-media sosial (seperti Facebook, Youtube, dsb), media cetak dan online yang bebas dan terbuka menyuarakan pendapat, yang “dianggap” Adi, bisa mewakili lidah rakyat, maka mahasiswa gak relevan lagi menjadi penyambung lidah rakyat. Jadi gak usah lagi repot-repot untuk demonstrasi.

Di akhir tulisannya, Adi mencoba membuka peluang adanya gerakan mahasiswa, namun dengan syarat bentuk penyampaiannya harus tepat sasaran dan beretika. “Membakar ban dan merusak fasilitas umum ketika berdemonstrasi hanya untuk mendapatkan perhatian belaka, tentu bisa kita setujui bersama, bukanlah bentuk penyampaian yang tepat dan beretika. Alih-alih memanfaatkan kebebasan demokrasi untuk menyelesaikan masalah rakyat dan negara, yang ada malah melanggar peraturan dan melahirkan masalah baru,” pungkas Adi.

Gerakan Mahasiswa Akan Terus Relevan

Aneh dan lucu, begitulah penilaianku ke tulisan Adi. Penggambaran Adi terhadap gerakan mahasiswa saat ini, yang dianggapnya cuma nafsu, pencarian eksistensi dan upaya pengembalian kejayaan mahasiswa ‘98, malah nunjukin argument Adi yang bertentangan dengan sejarah (ahistoris) dan gak paham sama gerakan mahasiswa itu sendiri.

Menurutku, Adi melakukan over generalisasi yang akut, terhadap seluruh gerakan mahasiswa saat ini. Adi, gak melihat gerakan-gerakan mahasiswa yang menolak biaya pendidikan mahal, kayak gerakan mahasiswa Medan yang menolak komersialisasi pendidikan, gerakan mahasiswa di Yogyakarta yang menolak UKT (Uang Kuliah Tunggal) dan gerakan mahasiswa di berbagai daerah lainnya. Tumbangnya Soeharto, gak lantas mengakhiri segala persoalan. Maka, argumen Adi yang nganggap mahasiswa gak lagi memiliki pekerjaan dan cuma tidur-tiduran adalah aneh. Apakah biaya pendidikan mahal bukan masalah? Apakah penggusuran bukan masalah? Apakah perampasan lahan bukan masalah? Kampret kali lah memang!

Kemudian, argumen Adi, yang nyebut hadirnya gerakan mahasiswa di jalanan, cuma untuk pengembalian kejayaan kakak-abang seniornya, mahasiswa ‘98, telah memangkas sejarah gerakan mahasiswa di Indonesia cuma pada sampai gerakan mahasiswa ‘98, lalu lupa sama gerakan mahasiswa yang pernah ada sebelumnya. Adi lupa sama keberadaan Budi Utomo, Perhimpunan Indonesia,  gerakan mahasiswa ’66, gerakan mahasiswa ’74 (Peristiwa Malari), dsb. Oleh karena itu, argumen Adi, ahistoris!

Perihal penunjukan eksistensi, Adi sangat lebay, dengan mengangkat BEM SI, sebagai sampel, Adi lagi-lagi melakukan over generalisasi, lalu menyimpulkan  bahwa gerakan mahasiswa saat ini cuma penunjukan eksistensi semata. Mahasiswa-mahasiswa yang tergerak hatinya karena biaya pendidikan mahal, biaya BBM mahal, biaya sayur-sayuran mahal, yang oleh karenanya turun ke jalan, dipaksa ikut dalam wilayah kesimpulan Adi: “demonstrasi tersebut pada akhirnya hanyalah sebuah nafsu berlebihan untuk menunjukkan bahwa eksistensi mahasiswa yang dulu belumlah punah”. Mahasiswa yang mengajak kawan-kawannya berdemonstrasi, berpanas-panasan menahan teriknya matahari, karena lahan mamak-bapaknya dirampas, karena mamak-bapaknya gak mampu bayar uang kuliah, karena mamak-bapaknya buruh yang mendapatkan upah rendah, juga disimpulkan Adi: demonstrasi tersebut pada akhirnya hanyalah sebuah nafsu berlebihan untuk menunjukkan bahwa eksistensi mahasiswa yang dulu belumlah punah. Over generalisasi yang ironis!

Kemudian, Adi bilang, kalau posisi mahasiswa masih relevan menjadi penyambung lidah rakyat, maka bentuk penyampaiannya harus tepat sasaran dan beretika. Perihal penyampaian yang tepat sasaran, aku sepakat sama Adi. Namun, penyampaian yang harus “beretika”, tentu aku tolak. Kata “harus”, berarti mewajibkan. Maka bila mengikuti logika Adi, apabila hak kita dirampas oleh orang lain, maka kita harus pergi ke orang itu, terus memohon dengan etika kepadanya. Lalu, ketika orang itu enggak mau memberikannya, kita gak bisa melakukan apa-apa, kecuali memohon kembali dengan penuh “etika”. Begitulah seterusnya. Sama seperti ketika biaya kuliah yang setiap tahunnya naik, yang oleh karenanya semakin membebani mahasiswa, yang padahal dalam Pasal 28 C Ayat 1 dan Pasal 31 Ayat 1 UUD 1945 udah dijamin kalau setiap warga negara berhak pendapatkan pendidikan, maka mahasiswa tetap harus memohon dan menyampaikan pedapatnya dengan beretika. Bila Negara gak mau memenuhi hak mahasiswa itu, maka mahasiswa itu harus mengulanginya dengan beretika, sampai seterusnya. Hingga akhirnya yang terjadi adalah “ketidakadaan perubahan”.

Mewajibkan perjuangan yang beretika sama aja dengan gak menghendaki perubahan. Penggunaan etika bukan keharusan, namun salah satu dari banyak opsi strategi perjuangan. Kalau misalnya, langkah perjuangan masih pada tahap audiensi, barangkali akan dibutuhkan penggunaan etika. Artinya menyampaikan pendapat dengan beretika atau gak, adalah tergantung dengan kebutuhan perjuangan. Sebab pressure (tekanan) terkadang dibutuhkan. Oleh karena itu, apabila hak dirampas, solusinya bukanlah memohon dan menyampaikan pendapat dengan beretika.  Namun, merebut hak itu kembali! Kalau bisa rampas kembali!

Gak sampai di situ, Adi semakin memperjelas dirinya gak memahami gerakan mahasiswa, sebab dia memahami gerakan mahasiswa cuma sebatas demonstrasi. Oleh karena itu mahasiswa yang selama ini membuka ruang-ruang diskusi, membuat lapak baca, mengkritik negara serta sistemnya melalui tulisan, gak dianggap Adi sebagai bagian dari gerakan mahasiswa. Sungguh memilukan!

Alih-alih mau meredefenisi gerakan mahasiswa, Adi malah menunjukkan kesimpulan-kesimpulan yang kacau, mengindikasikan bahwa dia gak memahami gerakan mahasiswa itu sendiri, yang akhirnya malah menjelek-jelekkan gerakan mahasiswa. Untuk itu, aku menyarankan kepada “hasianku”, Adi Perwira Purba: “Turun dan lihat langsung lah ke lapangan. Lihat bagaimana proses mahasiswa melakukan perjuangannya. Jangan lihat dari berita-berita aja. Satu lagi, selama ketidakadilan masih ada, serta penindasan dan penghisapan masih terus dilancarkan, tugas mahasiswa belum selesai, ya, Adi. Ingat itu!”

 

*Penulis adalah mahasiswa bandal yang aktif di kelompok studi BARSDem dan KOBAR GERMASU (Konsolidasi Akbar Gerakan Mahasiswa Sumatera Utara)

**Gambar ilustrasi oleh Aga Depresi

Share this post

Recent post