ALASKA EIGHT: RUAYA JELMAAN GALAKSI

ALASKA EIGHT: RUAYA JELMAAN GALAKSI

Menurut penelitian dan analisa saya, setiap orang memilih genre yang syahdu untuk menikmati momen sore ke malam a.k.a senja. Lah! Kenapa tiba tiba lari ke senja? Yah maklum saja, saya menulis artikel ini pukul 17.23  di tempat tongkrongan yang cukup cozy. Ya dimana lagi kalau bukan Degil House. Markas kaum Degilian kece yang tiap detiknya membahas hal berbau kidal yang bercita-cita menjadikan Indonesia sebagai dewan keamanan tetap PBB. “Tak ada yang tidak mungkin kawan,  mimpi bisa jadi kenyataan”. Itulah quote andalan orang-orang di tempat ini. Entah sebagai penyemangat atau quote ceplos ngasal, yang jelas kalimat di atas cukup membekas di hati saya yang sedang belajar arti hidup sesungguhnya.

Terkait soal senja di pembukaan tadi, kali ini kita kedatangan grup Bandar Lampung yang musiknya saya rasa sangat sangat cocok anda putar saat menyambut malam. Mereka adalah Alaska Eight. Band yang terdiri atas M. Adhitya Hussaeni, Zulian Amin, Akhmad Farkhan ini secara garis besar mengumandangkan post rock, math rock dengan unsur ambient yang kental. Band yang berdiri tahun 2014 ini baru saja merilis sebuah single yang berjudul “Ruaya”. Dikutip dari press release yang mereka kirim ke pos-el kami (Terima kasih telah mengganggap kami ada!), single terbaru ini merupakan bagian dari materi EP yang sedang diracik dan kelihatannya setiap lagu dalam EP saling berkaitan. “Ruaya” adalah single kedua mereka setelah beberapa bulan yang lalu mereka merilis single pertama yang berjudul “Atma”. Single yang berdurasi 7 menit ini secara umum memiliki emosi yang berbeda beda setiap part-nya. Dengan rahmat Tuhan Yang Maha Esa, saya membagi lagu ini ke dalam tiga part. Apa saja itu? Hm… mari kita belah satu persatu, prenk!

Para personil Alaska Eight | Alaska Eight

Part I: Magnificent Intro

Dibuka dengan intro clean gitar yang menurut saya rasanya tepat sekali jadi nyawa penghantar emosi lagu. Riff-riff gitar clean twang single coil pada lagu ini mengingatkan saya dengan salah satu band Taiwan “Elephant Gym”, notasi sederhana namun cukup membuat hanyut, bung! Pada detik ke 00:21 saya dikejutkan dengan opening drum yang power dan bass yang cukup nge-punch namun tak meracuni warna clean pada gitar dan tak heran serasa dibawa terbang jauh ke padang rumput Way Kambas. Sejauh mata memandang, ini merupakan opening yang asyik, pren.

Part II: Eargasm Bridge

Part ini dimulai pada menit 02.00 setelah breakdown ciamik yang masih dibalut dengan suasana gitar clean. Tiba tiba, nuansa berubah dengan ketukan drum yang lebih cepat, picking gitar yang power dengan balutan overdrive dan reverb menciptakan suasana sedang berada gua. Ya begitulah imajinasi saya ketika mendengar part ini yang menurut saya menjadi jembatan penyambung jalannya lagu mengembara menuju pelosok gua setelah mengarungi Way Kambas.

Part III: Klimaks Galaksi

Klimaks Galaksi di sini merupakan bentuk manifestasi puncak dari keseluruhan lagu. Sangat sangat indah. Drum dan gitar yang semakin power membuat nyawa lagu bagaikan meteor menyebrangi galaksi. Gelap namun memacu adrenalin, pren. Imajinasi liar saya menerawang kalau lagu ini cukup epic sekali mengiringi Darth Vader idola anak muda mengembara galaksi ditemani kuda poni. Well, Viva Comandante Che!!!

Akun Instagram: @alaskaeightmusic

Soundcloud:

Youtube:

Share this post

Recent post