MATINYA SEEKOR TIKUS

MATINYA SEEKOR TIKUS

Semua orang akan merasa bersedih ketika sesuatu yang ia senangi dan cintai pergi, atau mati tiba-tiba. Kematian datang hanya untuk membuat rasa sedih dan duka terhadap orang-orang yang ditinggalkan. Sekejap saja, barangkali sehari, dua hari atau sepekan, kemudian keadaan kembali menjadi biasa-biasa saja. Tetapi bagaimana pula bila yang mati ternyata seekor tikus? Alamak! Hewan kotor, pengerat nun menjijikan yang dibenci oleh manusia itu masuk ke dalam cerita ini.

Tika, adik perempuanku yang berusia dua belas tahun menangis tak karuan pagi-pagi buta. Pasalnya, ketika ia bangun dari tempat tidurnya, dan berencana mandi untuk berangkat ke sekolah, malah di kejutkan dengan kematian Ningsi. Tikus betina berusia empat belas bulan di dalam kandangnya. Sontak seisi rumah pagi itu menjadi ramai.

Tika menjerit di dalam kamarnya. Lalu disusul tangis histeris. Ibu yang masih berada di dapur mempersiapkan sarapan kelabakan mendengar putri bungsunya menjerit lalu disusul tangisan. Khawatir seseorang menyelinap masuk ke kamar melalui jendela, dan putri kecilnya dalam keadaan bahaya. Ibu berlari ke kamar Tika yang bersebelahan dengan kamarku. Pintu tidak dikunci memang. Ibu dapati putrinya itu sedang meratap haru di muka kandang Ningsi. Tubuh Ningsi terbujur kaku. Lalat ijo yang entah dari mana datangnya berhasil menyelinap masuk mengerubungi bangkai Ningsi. Aroma bau busuk mulai keluar dari mayat Ningsi.

“Ibu! Lihat itu! Ningsi meninggal dunia, Bu,” rengek haru Tika sambil jari tangannya menunjuk ke mayat yang terbujur kaku.
Ibu yang terlebih dulu sudah berpikir macam-macam, saat itu juga ekspresi mukanya kembali tenang.

Dipeluknya Tika, dielusnya rambutnya yang hitam memanjang sampai ke pundak.

“Sudah-sudah, kamu jangan nangis lagi, toh yang mati cuma seekor tikus. Apalah artinya? Toh yang mati kan bukan manusia atau hewan peliharaan yang lazim lainnya. Nanti bapakmu akan beliin kamu kelinci anggora berbulu tebal buat gantiin si Ningsi. Ningsi kan cuma seekor tikus, yang kebetulan kamu pelihara dan kamu kandangi. Tikos got semacam itu mana kerasan dikandangi begitu. Kamunya yang ada-ada saja. Sudah! Sekarang kamu jangan nangis lagi. Pergi mandi sana.” Ibu membangunkan Tika dari kesedihannya. Mengajaknya keluar kamar untuk bersiap ke sekolah.

Di meja makan, di waktu sarapan, kematian Ningsi jadi buah bibir. Mata Tika yang masih memerah dan kelopak matanya yang masih membengkak karna menangis dan terus menangis sampai terisak berkali-kali seperti sepasang gundu yang tersangkut dalam kelopak matanya. Ia lewatkan jatah sarapannya pagi itu. Kematian Ningsi membuat nafsu makannya hilang. Ibu merayu dan membujuknya agar menghabisi sarapannya pagi itu. Tetapi ia tak mau. Ia masih merasakan duka kematian. Ia memintaku agar sudi menguburkan Ningsi di pekarangan rumah. Aku tertawa kecil. Ku lihat muka adikku yang masih lembam karna pagi-pagi buta sudah menangis tersedu-sedu. Bukan kematian orang pula yang ditangisinya, melainkan seekor tikus. Cuma seekor tikus. Tikus got pula itu. Beruntungnya ia dipelihara oleh adikku. Diberi makan secara rutin, tanpa harus diam-diam menyelinap masuk ke dapur mencuri sisa makanan. “Dia tikus yang beruntung,” ujarku dalam hati.

Tika mengancam tak mau pergi ke sekolah kalau aku menolak menguburkan Ningsi di pekarangan rumah. Malah ia menambah pesanan untuk memberikan sebuah penanda di makamnya. Semacam batu nisan. Kalau sewaktu-waktu ia rindu pada Ningsi, ia tau harus kemana. Alamak. Yang mengada-ngada saja adikku ini, pikirku dalam hati.

Karna ibu tak ingin putri bungsunya bolos sekolah barang sehari pun untuk hal-hal yang terlalu sepele seperti ini, ibu membujukku menuruti semua kemauan adikku. Aku mengangguk saja. Tapi dalam hatiku berkata itu tindakan konyol. Mana ada tikus got mati dikubur. Paling-paling matinya di got juga, dan ikut melebur bersama kotoran-kotoran got yang bau itu. Atau mayatnya gepeng terlindas roda kendaraan di jalanan. Tikus sialan!

Dengan berat hati ku turuti kemauan adikku yang bungsu ini. Menguburkan seekor tikus got yang sudah berbau busuk di pekarangan rumah di bawah pohon mangga. Karna hanya pohon manggalah satu-satunya pohon di pekarangan rumah kami.

Aneh saja ku pikir. Sangat tidak masuk akal. Seekor tikus got mendapatkan kehormatannya yang ku beri secara cuma-cuma. Aku ini, bangsa manusia yang lebih mulia derajatnya dari bangsa tikus, entah tikus bule sekalipun, kali ini aku merasa terhina dengan hal yang ku lakukan semacam ini. Entah berapa banyak tikus-tikus yang mati di jalanan akibat terlindas ban sepeda motorku. Mampus kau situ, pikirku. Aku pun tak peduli untuk bertanggung jawab atas kejahatan itu. Kematian bangsa perusak. Bangsa maling. Bangsa pencuri, garong, dan entah apa lagi namanya yang suka masuk ke dapur menyelinap ke meja makan, menggerogoti tempat makan yang terbuat dari plastik, seharusnya dan semestinya tak perlu mendapatkan kehormatan, meskipun sudah menjadi bangkai.

Nasib baik kau, Ningsi. Bila ku ingat-ingat, andai saja empat belas bulan yang lalu kau tidak dipungut dan dipelihara sama adikku, mungkin nasibmu waktu itu sama seperti kerabatmu yang lainnya. Mati membusuk di dalam got. Sialnya, adikku menemukanmu di dalam lemari tua di belakang rumah yang menjadi sarang bangsamu. Beranak pinak pula di dalamnya. Dan mamak-bapakmu mati setelah makan sepotong ikan asin yang sudah dicampur racun tikus. Mampus. Berkurang dua ekor populasi kalian. Tapi, kau selamat dan mati di dalam kandangmu. Tapi apa pula enaknya hidup di dalam kandang berukuran lima puluh sentimeter itu. Kau tidak bisa leluasa bergerak ke sana kemari menuruti kata hatimu. Tidak pula kau bisa bermain-main dengan kawan sejawatmu di meja makan. Berlomba-lomba mencuri ikan dan sisa makanan di dapur. Atau berkejar-kejaran di jalanan seperti anak-anak manusia yang sudah kehilangan taman bermain.

Kemerdekaanmu hilang. Hakikat makhluk hidup adalah mendapatkan kemerdekaan dalam dirinya sendiri. Dan berjuang atas itu. Kau tidak. Kau tidak merdeka. Kau tidak bebas. Kau terjajah. Ah tapi aku yakin betul, kau pasti merasa nyaman dengan hidupmu yang dulu. Kau tidak perlu bersusah payah mencari nafkah untuk dirimu sendiri. Jadwal makanmu sudah disusun kian di dalam agenda adikku. Kau hanya tinggal menunggu jam makanmu tiba. Kerjaanmu hanya menunggu dan menunggu. Kadang kau tidur sepuasnya di dalam kandang itu. Dan bangun ketika adikku membawakanmu sepotong roti manis. Dan pagi ini kau mati. Peristiwa yang selalu ditunggu-tunggu oleh segala bentuk makhluk hidup datang menjemputmu. Tak ada yang menangisi atas kematianmu dari bangsamu sendiri. Melainkan bangsa manusialah yang menangis atas kematianmu. Adikku. Bodoh benar dia harus menangisi kau. Sialan kau. Tapi kali ini, ku berilah kau kehormatan dengan menanam jasadmu kedalam tanah. Biar dimakan cacing-cacing tanah dan dilenyapkan oleh bumi bangkaimu. Lain dari itu adalah membuat hati adikku senang. Aku turut merasa sedih bila ia bersedih. Itulah kami bangsa manusia. Bangsa yang memiliki keterikatan nurani dan perasaan. Bukan bangsamu yang kerjaannya hanya maling. Bangsa kami bangsa yang terhormat dan memiliki kedudukan yang mulia dari bangsa-bangsa makhluk hidup lainnya.

Setelah ku tanam bangkainya, ku dirikanlah sebuah batu kerikil diatas kuburannya, sebagai penyempurna permintaan adikku. Selesai sudah kekonyolan yang ku lakukan pagi ini. Aku duduk di teras rumah. Menikmati segelas kopi. Ku buka koran pagi. Sebuah tagline berita di halaman depan koran berbunyi “Ratusan orang mengantarkan jenazah walikota “DEMAN” ke peristirahatannya yang terakhir.”

“Berengsek!” pikirku. Seorang walikota yang terjerat kasus korupsi yang divonis empat belas tahun dan mati di dalam penjara sekalipun mendapatkan kehormatannya meski sudah menjadi bangkai. Bangsat! Bangsa maling sekali pun tetap memperoleh kehormatannya.

Febry Pramasta Said.
Medan, 13 Juni 2018.

Share this post

Recent post