LAUNCHING zine sirkam WEB

LAUNCHING ZINE SIRKAM #1: PEREMPUAN SIRKAM AKHIRNYA MELAHIRKAN!

Perempuan berkomunitas? Kenapa heran? Ada yang salah, barangkali? Atau alam bawah sadarmu menyatakan dengan keegoisan purbawi bahwasanya perempuan telah merdeka semenjak Kartini dimakamkan, oleh sebab itu tak usahlah sibuk berkomunitas untuk menuntut ini dan menuntut itu? Tunggu dulu. Kalau laki-laki (secara gender) yang membentuk komunitas dan menuntut segala macam, boleh? Bukankah laki laki (lagi, secara gender) sudah merdeka semenjak batu dialihfungsikan sebagai alat berburu?
SIRKAM. Sirkulasi Kreasi Perempuan, yang diinisiasi oleh editor Degil sendiri, Eda Citra, hari ini (28/9) akan resmi melahirkan bayi dari rahim mereka sendiri. Bukan sembarang bayi. Bayi ideologis berfisik kata-kata ini dilahirkan dari gelutan pikiran,  curahan dendam, emosi pengetahuan, serta lautan karya yang tertuang dalam satu zine, bertajuk: Sirkam Zine #1, Per (empu) an.
Mengenai pemilihan karya bersama yang digodok dalam format zine, Citra mengatakan, “Karena memang sudah terbukti dari zaman ke zaman, bahwa yang namanya arsip tertulis itu adalah hal yang penting dalam mengisi perjalanan sejarah. Kenapa zine, karena kami berkeyakinan prinsip D. I. Y. Itu krusial karena kekuatan kebersamaan itu terbentuk di situ. Pokoknya semua konten, tema, sampai ke produksinya ya kami godok bersama-sama.”
Kekuatan D. I. Y (do it yourself). Dan zine memang lekat dalam istilah kolektif, tanpa si tunggal pemilik alat produksi, aturan-aturan menyebalkan dari pegawai sensor, sampai ke anti copywright. Tapi apakah benar Sirkam juga turut mengamini anti copywright? “Iya. Karena kami ingin bahwa pesan-pesan yang kami ingin itu bisa sampai ke semua orang tanpa terkecuali. Yah, paling kalau ada yang mau pakai karya – karya yang ada di zine ini, ya esensinya jangan sampai disitir, apalagi diganti.”
Selain peluncuran zine, Sirkam juga bakal menggelar pagelaran seni, yang spesialnya, bakal diisi oleh hampir 97% perempuan! Jadi, yang bakal nyanyi, nari, lukis, mural, puisi, sampai ke tukang fotocopy-nya adalah perempuan! Mengenai ini, kami melihat perbedaan kentara dari komunitas serupa atau ajang serupa, di mana yang lainnya (kebanyakan, tidak semua!) hanya menjual “perempuan” sebagai ide, bukan sebagai pelaksana, alih alih pekarya. Mengenai ini Citra memaparkan. “Memang tujuannya adalah wadah kreasi perempuan, dan untuk menyampaikan pesan-pesan pengalaman perempuan yang dialami sendiri akan lebih sah jika dimotori oleh perempuan itu sendiri.”
Tercatat bakal ada kolaborasi apik dari Weweed dan Ebrib, yang bakal memural tembok depan Degil House; pameran karya lukis Ina Addini, pembacaan karya puisi dari Eva Susanti, Chaterine,  Maisri, Sartika Sari, Bunda Djibril; tari kontemporer oleh Lia Farida, monolog oleh Margaretaha Bawaulu, musik oleh Bintang L’Blue,  Arunika (dua vokalisnya adalah perempuan), Rani Jambak, juga violinis Lovely “Psychotic Villager” dan Rizka Rachmaini. Yah, memang ada terselip sekomplotan laki-laki di dalam band Istri Wajib Satu, tapi yah kelihatannya bagai riak kecil di Samudera toh, seperti kata Bung Karno paska tragedi penculikan Jenderal. Selain pagelaran seni,  acara ini juga bakal dimeriahkan satu konten, yang tampaknya jadi hal wajib di event-event sponsoran belakangan ini, apalagi kalau bukan diskusi. Diskusi ini akan diprovokatori oleh LBH APIK Medan, Karin “Disobey”, Sartika Sari, Eka Dalanta, Rey Za Tarigan, Riska Situmorang, Nola Pohan, Nina Nasution, dan Eda Citra sendiri. Tapi ngga berat-berat kok, sekadar ajang pembuktian kalau Sirkam menganjurkan agar perempuan di seluruh alam semesta ini terus berkarya, baik dari soal musik, seni rupa, literasi, dan apapun juga selama itu tidak malah membuat mereka apatis dan dibelenggu oleh sistem patriarki yang semakin hari semakin tidak tahu malu dalam menampakkan dirinya.
So, tertarik untuk ikut merayakan pecahnya pengetahuan, seni, dan literasi yang digagas oleh perempuan perempuan hebat? Marilah bergabung sekarang juga!
Flyer Acara Launching Zine Sirkam #1

Share this post

Recent post