SEMBILU DI SEKITARAN PASAR CINDE

SEMBILU DI SEKITARAN PASAR CINDE

PalembangAliansi Masyarakat dan Advokat Peduli Cagar Budaya siap menggugat Pemerintah Provinsi Sumsel dan Kota Palembang. Gugatan dilayangkan terkait dilanjutkannya pembongkaran untuk melakukan revitalisasi pasar Cinde sebagai Cagar Budaya dan dinilai melanggar UU (Tempo, Januari 2018).
Penggusuran pasar Cinde? Sumpah demi apa pun, saya baru saja terdistraksi perihal penggusuran yang sebenarnya telah marak beritanya dua tahun lalu ini usai saya menerima terusan email dari Degilzine yang sesungguhnya berbentuk karya dari musisi balada asal Palembang, Sembilu. Penggusuran pasar tradisional memang sudah terjadi semenjak Jenderal Soeharto cengar-cengir jadi cover majalah Times. Dan pastinya akan terus terjadi siapa pun dan apa pun presidennya kelak. Pasar bebas, bos! Bebas menginjak selama kowe punya modal! Tapi stop, bukan itu yang hendak kita perbincangkan sekarang.
Musik sebagai media propaganda dan agitasi, juga saluran informasi aneka kasus memang telah difungsikan sejak era Kaisar Nero masih suka bikin orgy party. Namun, makin ke sini, musik sebagai media propaganda tidak lagi hanya dimonopoli oleh klas penguasa saja, melainkan juga oleh klas tertindas. Dan itulah gambaran pertama yang dapat saya serap dari press release yang dikirimkan oleh Sembilu.
“Tak perlu dan tak usah berekspektasi tinggi, karena pada dasarnya, Sembilu hanya pengamen klas buruh kasar yang tumbuh di terminal pinggiran kota Palembang.”
Eits, siapa bilang tak boleh berekspektasi tinggi terhadapnya? Sebab karena Sembilu berasal dari “klas buruh kasar yang tumbuh di terminal kota Palembang”lah kita bisa yakin dengan propaganda yang ia tulis dalam lagu-lagunya. Sebab ia benar-benar berada di tengah-tengah masyarakat marjinal di sekitaran pasar Cinde, maka apa yang ia ungkapkan dipastikan adalah kejujuran, sama seperti bagaimana ketika Wiji Thukul menyuarakan kemiskinan dan penderitaan kaum buruh di Solo. Mungkin (harus!) kita akan jadi bertanya-tanya jika seorang Ariel Noah yang menciptakan lagu ini.
Kondisi Pasar Cinde Saat ini. Foto: https://s.republika.co.id/
Kembali ke Sembilu. Secara musikalitas dalam pandangan industri musik popular, Sembilu boleh disebut “biasa saja”, tidak bergaya aneh-aneh dengan eksperimental ragam alat musik tradisi maupun modern, chord standar tanpa embel-embel miring ketujuh-tujuhan, bahkan tehknik suaranya pun biasa saja. “Iksan Skuter!” sebut seorang kawan usai menyaksikan style Sembilu dalam video klip Balada Pasar Cinde yang kebetulan disutradarai oleh sahabat saya juga, Ibie Locco. Bukan tanpa alasan, baik dari gaya berbusana (topi dan kacamata), langsam tubuh, bahkan juga gaya vokalnya. Tapi bagi saya pribadi, tak jadi masalah. Pertanyaannya, apa sih yang mau kau harapkan dari seorang penyanyi balada? Bukankah Iwan Fals, Doel Sumbang, sampai yang paling baru, Jason Ranti, juga bergaya sesederhana itu? Yup. Keserhanaan adalah koentji! Toh bagi penyanyi balada macam Sembilu, bukan tehnik musik, diksi bahaya dalam lirik, atau gaya berpakaian yang paling utama, melainkan pesan yang hendak disampaikan. Dan Sembilu berhasil menyampaikan pesan, betapa kapitalisme yang berbalut baju modernisasi itu telah berhasil memporak-porandakan tradisi lokal bertajuk Pasar Cinde. Yoklah kita dengar dan lihat bersama-sama apa saja yang telah disuguhkan modernitas sebagai balasan atas kesahajaan masyarakat pinggiran dalam karya-karya Sembilu berikutnya!

Share this post

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on tumblr
Share on print
Share on email

Recent post