Cover - Seroean Kemadjoean

PELUNCURAN DAN BEDAH BUKU “SEROEAN KEMADJOEAN – PUISI PERGERAKAN PEREMPUAN DI SUMATRA UTARA 1919 -1941”: BUKU PEREMPUAN SUMUT DARI PEREMPUAN SUMUT

Karena penggoda tjinta keparat/

fikiran itoe bertambah larat/

di dalam toeboeh berakar beroerat/

hingga ta’tetap tangan menjoerat.

Oleh penggoda penjakit tjinta/

teroes kegoeroe menghadap njata/

mohon lepas soerat diminta /

maoe lekas kawin semata.

Zaman ini zaman kemadjoean/

toentoetlah ilmoe wahai toean/

soepaja madjoe bangsa perempoean/

oesah laki-laki selamanja duluan.

 

Wuih, ngeri kali puisinya ya kan? Itulah sepenggal puisi yang pernah dimuat di media cetak yang bernama Perempeoan Bergerak pada tahun 1919. Penggalan puisi di atas  berjudul Tjoemboean karya potjoet-potjoet Chadijah, Tiawah, Aseo dan Fatimah, moerid sekolah Beuratjan (Meureudoe Atjeh). Jelas kalilah maknanya bahwa puisi Tjoemboean di atas adalah bentuk protes atas kondisi sosial pada masa itu, yaitu banyaknya kondisi anak muda yang terlena dengan drama percintaan sehingga lupa pada perjuangan hak-hak, khususnya hak pendidikan bagi perempuan. Sibuk bercinta, ngebet kawin, jadi gak ingat menuntut ilmu. Hm.  Kek familiar terdengar yak? Yup!

Namun, masih banyak juga anggapan pada masa itu bahwa puisi-puisi perempuan berstigmakan negatif, bahkan sering luput dari pandangan pengamat dan kritikus. “Mereka pasti beranggapan, “Hallah, puisi perempuan pasti mendayu-dayu, merengek, isinya tentang cinta-cinta melulu,” gitu pasti mereka mikirnya. Padahal, udah jelas-jelas puisi perempuan pada tahun 1919 itu adalah sebuah puisi bentuk protes,” ujar Sartika Sari, peneliti puisi perempuan. Sartika pun melihat ini sebagai sebuah tantangan baginya untuk mendalami apa yang sebenarnya belum terungkap. Sebagai sosok yang sudah melanglang buana dalam dunia kesusasteraan, Sartika memilih isu ini sebagai bahan penelitiannya dan sekaligus dijadikan buku. Sartika Sari bukanlah nama yang asing. Selain pernah menjadi reporter di media arus utama di Medan dan di kampusnya, Unimed, Sartika juga sudah berjalan sana-sini mengikuti lomba cipta puisi, cerpen, dan esai tingkat nasional di Medan, Bogor, Purwokerto, sampai Bali. Gak nanggung-nanggung, Sartika juga mendirikan penerbitannya secara indie bernama Obelia sejak tahun 2016. Sepulang dari studinya di Program Pascasarjana Program Studi Sastra Universitas Padjajaran, Bandung, Sartika mulai fokus meneliti dan menulis buku. “Susah benar mencari korannya karena koran-koran di Perpustakaan Nasional udah tua-tua. Penjaga arsipnya pun tua juga. Jadi kebayanglah ya gimana,” tambahnya.

NAMA PENULIS PEREMPUAN YANG BERALIASKAN NAMA LAKI-LAKI

Sartika juga menuturkan kalau pada masa itu, banyak penulis perempuan yang membuat nama pakai alias. Dan pastinya, aliasnya pakai nama laki-laki. Sekitar tahun 1920-an, hanya ada dua penulis perempuan yang diterbitkan penerbit adikuasa pada masa itu, Balai Pustaka, yaitu Selasih dan Suwarsih Djojopuspito. Sartika menjelaskan, “Karena pada masa itu tidaklah aman kalau perempuan menulis, makanya dia pakai nama samaran “Selaguri Sariamin.” Menurutku, yang banyak pakai nama samaran adalah yang tulisan-tulisannya berisikan gugatan. Mereka gak mau jadi sorotan publik karena waktu itu perempuan diwacanakan hanya milik “wilayah domestik.” Jadi, kebiasaan menulis dianggap belum pantas buat perempuan. Ada lagi contohnya. Penulis perempuan asal Padang bernama Sa’adah Alim. Dia menuliskan namanya sebagai “Alim.” Apakah itu bentuk penyamaran juga? Kemungkinannya terbuka.”

BUKU “SEROEAN KEMADJOEAN: PUISI PERGERAKAN PEREMPUAN DI SUMATRA UTARA 1919-1941”

Sartika akhirnya telah menyelesaikan bukunya. Hari Sabtu, 10 November 2018 adalah hari bersejarah bagi Sartika. Hari ini adalah hari acara peluncuran dan bedah buku Seroean Kemadjoean. Acaranya diselenggarakan di Taman Budaya Sumatra Utara Jl. Perintis Kemerdekaan No. 33 Medan. Acara ini berisikan peluncuran dan bedah buku, bazaar buku, pameran puisi perempuan, dan apresiasi seni. Sirkam (Sirkulasi Kreasi Perempuan) ikut terlibat di dalamnya. Para puan Sirkam akan ikut meramaikan bedah buku sebagai narasumber yaitu Marina Nasution, apresiasi seni oleh Bintang Le Bleu, Khatreen Tong, Dame Yovana, dan Anissa Sentia, dan ada juga bazaar zine Sirkam.

Saya jadi teringat dengan kata pengantarnya Kalyanamitra dalam buku Penghancuran Gerakan Perempuan Indonesia yang ditulis oleh Saskia Eleonora Wieringa, bahwa perspektif gender sangat penting dalam meneliti apapun. Karena faktanya banyak watak ilmu sosial yang masih menyembunyikan pengalaman kaum perempuan. Kalaupun muncul, selalu dalam posisi “embel-embel” saja. Kayak kata Sartika di atas, banyak yang beranggapan bahwa perempuan cuma mampu menulis tentang cinta-cintaan nan cengeng saja. Mudah-mudahan dengan adanya penulis seperti Sartika, tulisan-tulisan maupun karya-karya lainnya akan menjadi referensi bukan hanya tentang sejarah, tetapi karya yang menganut perspektif keadilan gender. Jadi, tunggu apa lagi? Silakan angkat pinggul dan jangan malas untuk segera ke acara Peluncuran dan Bedah Buku Seroean Kemadjoean hari ini. Jangan hanya acara diskonan buku impor nge-hits berlabel Serigala itu saja yang digas! Jangan lupa juga untuk beli buku yang tebalnya 255 halaman ini. Harganya terjangkau kok. Ga sampe seharga buku diskonan yang ngantrinya panjang kali sepanjang jalan Jamin Ginting itu. Supaya kita semua tahu dan paham bahwa penulis perempuan Sumut dulu dan sekarang juga tak kalah kerennya. Dan jangan-jangan, lebih keren. Yes.

 

Info lebih lanjut tentang pemesanan buku, hubungi Sartika Sari di akun Facebook atas nama Sartika Sari atau akun Instagram atas nama @ssartika27.

Pre-Order Buku Seroean Kemadjoean | Foto: Sartika Sari

Share this post

Recent post