njoto

KONGRES LEKRA 1: EVENT SENI TERBESAR UNTUK RAKYAT INDONESIA

Semaraknya event-event rokok yang mencampurbaurkan genre seni dalam satu pagelaran sebenarnya adalah hal yang cukup baru di kota ini. Seingat saya, mesti ditegaskan, seingat saya! Anak-anak nongkrong di Teras Benji-lah (sekitar tahun 2014-an) penggagas awal acara campur aduk macam begini. Sementara itu, komunitas Surbin (Suara Bhinneka) bisa dikatakan salah satu yang pertama yang sok-sokan menyajikan live mural, live lukis, musik, puisi, pameran/lapakan karya seni, monolog, serta diskusi literasi dalam satu pagelaran dan digelar di public place (medio 2016). Usai event terakhir Surbin, Awaken Festival 2017, acara campur aduk macam itu lantas booming di kota Medan dan sekitarnya. Tak terhitung event-event yang dibeking oleh perusahaan rokok yang lantas menjadikan perkawinan seni macam begini menjadi perhiasan dalam setiap promonya (meskipun masih saja, seni musik yang mendapat tempat yang paling spesial).
Itu di Medan. Jika berbicara skala nasional, puluhan tahun yang lampau, ketika Jenderal Soeharto belum lagi pantas untuk menjadi cover di majalah Times, sekelompok anak muda bersemangat, antara lain: Njoto, DN Aidit, AS Dharta, bersepakat mendirikan komunitas, lembaga, organisasi, apalah sebutnya, bernama Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) pada tanggal 17 Agustus 1950. Secara ideologis, Lekra sangat …
Dua dari sekian penggagas Lekra: DN Aidit (tengah), Njoto (kanan). Foto: Koleksi foto Oey Hay Djon.
Stop! Saya tak hendak membicarakan soal Lekra secara personal, baik ideologi kerakyatannya, tuduhan pemberangusan buku sastrawan-sastrawan yang menjadi lawannya, pun soal ketidakadilan yang diterima anggota, simpatisan, maupun tertuduh Lekra paska peristiwa penculikan para jenderal di Jakarta, Jum’at pagi, 30 September 1965. Saya hanya ingin mengajak para pembaca mengenang kongres pertama mereka yang megah itu, yang berani saya katakan, 1000 x lebih waw ketimbang event-event sponsoran masa kini, yang katanya hendak memajukan seni kreatif, alih-alih cuma untuk numpang jualan (meskipun tidak semuanya yah!) Sesuai dengan pembahasan di atas.
LEKRA: DARI RAKYAT UNTUK RAKYAT
Seperti yang tertulis di Harian Rakjat, 24 Desember 1958, Njoto, seorang seniman top zaman itu, juga penggagas Kongres Lekra 1, menyatakan agar para peserta kongres, yang nantinya akan diselenggarakan selama sepekan di Solo, membawa:
1. Alat Musik (suling, angklung, rinding, genggong, rebab, rebana, gendang, tifa, sasando, gambang, pokoknya khas dari daerah masing-masing).
2. Mainan Kanak-kanak (“Bukan mainan hasil pabrik, tapi permainan yang sederhana saja, yang terbuat dari bambu, ijuk, dari daun kelapa, dari kayu, dari rotan, ya, dari apa saja. Mainan ini mencerminkan kekayaan ide setiap suku bangsa dan setiap daerah, tapi selama ini tak pernah ada inisiatif untuk mengumpulkannya. Biar Pekan Kebudayaan Kongres Lekra yang memulai. Jangan lupa boneka-boneka. (Njoto, Lekra Tak Membakar Buku, 2008)).
3. Kerajinan Tangan (bukan hanya Bali, Jepara, Jogja, Solo, Kendari, tapi semua suku bangsa, semua daerah).
4. Tenun (Tenun di negeri kita menduduki tempat yang istimewa. Tiap suku, tiap daerah memiliki corak masing-masing yang sedikitnya mewakili juga seni rupa dalam bentuknya yang sederhana (ibid).
5. Pakaian Daerah.
6. Cerita-cerita (dalam hal ini Njoto menegaskan, “Sastrawan Lekra hendaklah mencatat cerita-cerita itu sehingga Kongres Lekra 1 sekaligus akan mempunyai hasil kongkret dalam pencatatan cerita, dongeng, fabel, sajak-sajak rakyat– suatu hal yang belum dilakukan secara sadar dan teratur.”).
7. Lagu-lagu (bayangkan saja berapa puluh ribu lagu rakyat yang belum pernah dicatat, yang hidupnya hanya diwariskan turun temurun secara lisan). Njoto menganjurkan agar peserta kongres membawa satu atau dua lagu dari daerahnya masing-masing, sebagai permulaan usaha Lekra dalam membuat direktori musik daerah secara massal.
8. Ornamen-ornamen (gambar-gambar hiasan yang terdapat pada tiang-tiang rumah-rumah adat, pada atap dan geledaknya, perahu-perahu, pada cikar-cikar dan pedati-pedati, juga pada pikulan). Njoto menganjurkan agar peserta kongres nantinya akan membawa copy gambar-gambar tersebut.
9. Penerbitan-penerbitan. Di sini kata-kata Njoto cukup merdu untuk didengar. Dia berkata, masih di dalam Harian Rakjat 24 Desember 1958, “Tahukah kawan, bahwa ada sajak dari penyair-penyair terkenal hilang tak tentu rimbanya? Mengapa? Karena dia dicetak di zaman revolusi dan dicetak di salah satu surat kabar atau majalah yang hanya terbit beberapa nomor untuk kemudian mengungsu karena diserang Belanda. Tentunya masih ada yang menyimpan surat kabar dan majalah itu. Bawalah, dan kita bisa mendokumentasikannya bersama-sama. Juga brosur, buku-buku: mulai zaman Perang Dunia, zaman pendudukan Jepang, maupun zaman Revolusi). Waw sekali, kan? Setelah Njoto “hilang”, adakah yang mau meneruskan kerja kebudayaannya ini? Silakan jawab di hati masing-masing saja. Back to topic!
Jadinya, 9 bahan arahan Njoto tersebut akan memenuhi sembilan jenis pameran dalam Kongres Lekra 1, antara lain komposisinya seperti berikut.
1. Pertunjukan musik dan tari-tarian (diselenggarakan di panggung utama dan di dalam gedung).
2. Pertunjukan seni drama.
3. Pameran seni lukis.
4. Pameran patung.
5. Pameran poster.
6. Pameran penerbitan.
7. Pameran pakaian suku-suku bangsa Indonesia.
8. Pameran alat musik tradisional.
9. Pameran umum, yang menggambarkan tingkat kecerdasan dan kemampuan kreatifitas, seperti hasil-hasil pemberantasan buta huruf, grafik situasi pelajar dan mahasiswa, dan sebagainya.
Membaca arahan Njoto dan pelaksanaannya nanti, semoga kalian setuju dengan argumen saya, bahwa inilah pesta rakyat Indonesia yang sejati dan dikemas secara massal. Dari rakyat (yang membawa dan menyajikan) untuk rakyat (yang menonton dan menikmati).
Suasana di Taman Sriwedari, Solo, hari pertama pembukaan Kongres Lekra 1, seperti yang digambarkan di majalah Tempo Edisi Khusus, Lekra.
PESTA KEBUDAYAAN DIMULAI!
Djobar Ayoeb, sastrawan yang juga petinggi Lekra, ketika membuka Kongres. Foto: Koleksi foto Oey Hay Djoen.
Persiapan-persiapan calon peserta Kongres Lekra 1 tercatat dengan baik di (sebuah lemari tua di Perpus Jogja dengan label: Bacaan Terlarang) Harian Rakjat edisi 8 November, 6 Desember, 20 Desember, semuanya pada tahun 1958, juga pada 24 Januari dan 31 Januari 1959. Antara lain:
Lekra Jawa Barat akan membawa Mang Koko dan Wayang Bandung, Genjring Sulap Rakyat yang setara dengan Akrobat Tiongkok. Mereka juga membawa buku sejarah Wiralodra, pahlawan tani yang melawan Jepang di Indramayu.
Di Padang, para peserta akan bertanding antara mereka lebih dahulu sebelum membawa pementasan drama sandiwara ke Kongres. Tari-tarian khas Padang beserta kabaret juga telah disiapkan.
Jakarta mempersiapkan Malam Keroncong dan pertujukan akrobatik dan telepati.
Di Sumut, tampaknya yang paling heboh. Sebulan sebelum Kongres Lekra 1 diadakan, Lekra Sumut menyelenggarakan malam penggalangan dana lewat pertunjukan kesenian (ini membuktikan bahwa kolektifitas seniman Medan sudah berakar sejak dulu!). Dana ini akan digunakan untuk memberangkatkan musisi folk legendaris tanah Batak, Gordon Tobing beserta Tuty Daulay, paduan suara Batak dan Melayu, pemain-pemain drama dan deklamator handal.
Kongres Lekra 1 (saat itu juga disebut sebagai Pekan Kebudayaan) dibuka pada 23 Januari 1959.
Gordon Tobing dan Paduan Suara Batak (Impola), solois kebanggaan Sumut di masa itu. Foto: Koleksi Denny Sakrie.
Sepekan sebelumnya, 16 Januari, pameran seni lukis dibuka oleh Sekjend Kementrian PP dan K, Hutasoit. Presiden Sukarno sendiri datang di hari kedua, dan sempat pula untuk ikut menari lagu Potong Bebek Angsa, Manise-manise, dan Suwe Ora Jamu.
Seperti dicatat di Harian Rakjat, 31 Januari 1959, ada sekitar 11 ribu penonton yang hadir di malam pembukaan. Di malam kedua tercatat 17.400 penonton! Kalau dirata-ratakan, ada sekitar 9 sampai 15 ribu penonton di tiap malamnya (Wah, bayangin aja kalau korporasi-korporasi rokok sudah merajela di tahun segitu. Bisa cengar-cengir selama setahun tuh BA-nya!).
Oetomo Ramelan, Soeharto, Sukarno dan Hadi Subeno pada acara pembukaan Kongres Nasional Lekra I, Solo, 1959. (Foto: Koleksi Oey Hay Djoen)
Yah, pada akhirnya, saya tidak bermaksud tendesius untuk menyerang pihak-pihak tertentu, juga bukan pembelaan buta terhadap sepak terjang Lekra selama periode 1950-1965. Saya hanya ingin agar fakta-fakta yang selama ini ditutupi dapat diberi panggung untuk berbicara. Dan sebagai manusia postmo, saya terpaksa, dengan berat hati menyatakan bahwa, event-event rakyat seperti Kongres Lekra 1 itu sepertinya tak akan mungkin lagi bisa terulang. Yah, sesuai tema rubriknya, Memorilogig, hanya sekadar tamasya berkunjung ke memori yang terlupakan, bre!!
Ilustrasi oleh Farid aka Brebes dan Tengku Ariy Dipantara

Share this post

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on tumblr
Share on print
Share on email

Recent post