OBAT TIUS DARI SORE TENGGELAM
Seperti biasa, perebutan siapa di antara tim Degil yang akan mengkobel siapa akan selalu diwarnai dengan perdebatan dan pertikaian yang sedikit berdarah ketika kami beramai-ramai mengecek masuknya press release di surel degilzine@gmail.com: biasanya sore sendu gitu di beranda rumah Degil House. Kali ini yang menjadi perebutan kami semua adalah press release yang dikirimkan oleh Sore Tenggelam, solois anyar dari Semarang. Selain karena nama yang ia pilih dan jenis musik yang ia sajikan, kami mengalami penasaran massal karena di dalam press release-nya itu, ia menyatakan bahwa Mas Jeje, alias Jason Ranti, adalah gurunya sendiri. Tentu saja, kepala kami (paling tidak saya) sudah tak sabar untuk mendengar ocehan kritis serba sinis yang kadang romantis lebih sering marxis kadang juga anarkis, tapi pastinya jarang yang manis seperti layaknya Jason Ranti.
Perdebatan siapa yang lebih berhak, tentu saja, akhirnya saya menangkan, bukan karena jabatan sebagai pemimpin redaksi belaka, tapi juga karena perkara sebungkus rokok Surya yang saya sodorkan kepada manusia-manusia korup bajingan itu. Okelah. Cukup untuk basa-basinya.
Ayok berkenalan dengannya.
Sore Tenggelam adalah proyek musik yang dicetuskan sendiri oleh Ignatius Desty Hari Adi Kristianto (Tius). Lelaki kesepian ini sebelumnya telah merilis dua single, sebelum akhirnya mantap menelurkan EP perdananya yang berisi 4 track. Saya tak perlu menjelaskan makna dari Sore Tenggelam, karena saya anggap terlalu filosofis dan agak dibuat-buat. Yang pasti, frase Sore Tenggelam cukup enak untuk didengar. Habis perkara.
EP Obat Tius sendiri dirilis pada 24 Oktober 2018 yang lalu dan berbentuk kaset. Untuk mixing dan mastering dipercayakan pada Jaing Nac dan Rizky Sani. Pengambilan nama album sendiri, katanya, adalah pemberian dari Jason Ranti, yang nantinya juga berperan dalam pembuatan cover.
Sekarang tiba saatnya untuk membongkar isi album Obat Tius. Mari!
1. Jumat Pagi
Saya adalah tipe pendengar lirik, bukan pendengar musik, maka saya sok cuek saja ketika mendengar intro gitar di lagu ini yang mengingatkan saya pada Cayman Islands-nya Kings of Convenience. Satu kalimat usai mendengar lagu ini: Stuck in the Moment. Pikiran saya tak bisa meraih sesuatu pun, kosong, mungkin bingung. Mau tak mau mesti saya dengarkan ulang.
Pada akhirnya saya menangkap sesosok manusia yang disebut Marx sebagai teralienasi, entah oleh cinta entah oleh kerja, di dalam lagu ini. Meskipun ia begitu ngantuknya, entah karena tak tidur atau karena hal lain, namun ia memaksakan diri untuk mendengar ceracau (“Kadang tertawa lepas, kadang menjerit ketakutan, kadang menangis,”) seorang bocah autis (“Lalu terhenti tiba-tiba terlelap.”). Namun anehnya, si manusia yang ngantuk itu tetap bahagia mengalami “Pagi” itu. Masya Allah kalau sepanjang pagi dalam hidupnya ia mengalami hal itu ya. Serem amat. Kalau dalam konteks urban, mungkin lagu ini mengisahkan momen pada suatu malam Kamis, di mana ia berteleponan ria (atau video call) dengan seseorang di ujung sana sampai akhirnya seseorang itu meninggalkannya dalam kelelahan di Jum’at pagi. Wallahu alam.

2. Koma

Lantunan gitar yang membuka lagu ini sangat asyik sekali. Tapi entah kenapa, bayangan Jason Ranti yang nyinyir itu mengubah wujud menjadi Fourtwenty ketika kata-kata mendesak untuk masuk. Tapi tetap asyik, terutama permainan rima dalam kata-kata yang berjatuhan, terus berjatuhan, sebelum dihentikan paksa oleh sebentuk tanda baca yang biasanya digunakan dalam memisahkan unsur dalam suatu perincian: Koma. Pikiran picik saya menangkap bahwa lagu ini adalah lanjutan dari lagu sebelumnya, di mana si Sesosok Manusia di atas akhirnya berkeinginan untuk menembak si bocah autis melalui telepon. Agar terkesan filosofis, si Sesosok Manusia menggantung perasaan si bocah autis dengan asas “Koma adalah Koentji.” Good!
NB: Saya suka dengan narasi akhir di lagu ini, seakan menetak saya untuk tidak cepat-cepat menghakimi keseluruhan album ini.

3. Hujan di Ingatan

Bau-baunya Banda Neira merebak di lagu ini. Eh, itu Hujannya di Mimpi, ya, bukan di Ingatan. Lanjut. Hujan dianalgikan sebagai penderitaan yang terus turun, entah rinai entah deras, akan terus turun. Namun bersandar pada materialisme dialektika, bahwasanya suatu sebab akan mendatangkan akibat, dan akibat-akibat akan menegasikan dirinya menjadi suatu kristalisasi bentuk. Ha, begitulah kira-kira. Apa pun itu, lagu ini enak untuk didengar ketika hujan turun, ketika senja mengintip untuk menyuruh matahari pulang ke kandangnya. Sure!

4. Waktu yang Lalu
Keajaiban terjadi di akhir album. Petikan akustik yang sebelumnya nge-pop, kini bermetamorfosis bersama minor dan pentatonik. Meskipun vokalnya masih menyisakan vibra ala Fourtwnty, paling tidak pemilihan notasinya sedikit menyerempet ke medio Indo Pop 50 hingga akhir 70’an. Entah ada permasalahan apa di kuping saya, tapi saya mendengar belang mixing di lagu ini. Dengan positivisme setinggi langit, saya percaya itu adalah trik agar lagu ini terkesan jadoel. Kembali saya ucapkan, wallahu alam.

Pada akhirnya, sejujurnya (demi Allah!), saya senang menghabiskan sore saya demi empat lagu di album ini. Secara musikalitas, Sore Tenggelam sudah pantas untuk duduk satu meja dengan sang guru, Jason Ranti. Kualitas liriknya juga lebih oke, tentu saja, ketimbang band nge-hits yang mengaku-aku folk semacam, yang namanya sering saya sebut di atas. Kekecewaan saya (sedikit saja) lahir karena kepicikan saya pribadi, yang ingin menyaksikan lahirnya solois nyinyir semacam Jason Ranti. Lagi. Lagi. Dan lagi.
Pesan saya pada Sore Tenggelam. Tetaplah menjadi diri sendiri. Dan salam. Merdeka ataoe mati!

Leave a Comment