VOX POPULIS, VOX FILSAFATIAN: (SUARA RAKYAT, SUARA FILSAFATIAN)

VOX POPULIS, VOX FILSAFATIAN: (SUARA RAKYAT, SUARA FILSAFATIAN)

Tak banyak band lokal maupun nasional di generasi akhir zaman ini yang masih berani dan lantang menyuarakan segala keresahan dan problematika kelas, sosial, politik yang terjadi di negeri ini. Seolah nyaman dengan segala kekacauan dan ketimpangan yang terjadi di bumi Indonesia, seniman lokal maupun nasional kini lebih memilih bermain aman menyelamatkan diri masing-masing dengan mengangkat tema-tema hedonisme yang menjadi tema yang paling banyak digandrungi muda-mudi. Alhasil, semua merasa nyaman mengikuti arus selama diri tak tergubris, biarkan saja yang lain mampus. Ingat! Hanya ikan mati yang mengikuti arus!
Terima kasih Tuhan! Syukurnya, setidaknya ada 1 band yang saya kenal ini yang masih membawa semangat perlawanan sesuai porsinya di bidang seni, khususnya musik untuk menyuarakan bahwasanya negeri ini sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.
Filsafatian, sekelompok pemusik yang terdiri dari kolaboratornya: Santus Sitorus (vokal, gitar) , Restu Purba (keyboard, vokal), Ando Banurea (bass, vokal), Kukun Helwani (drum), dimanajeri oleh Ratna Dewi Silalahi adalah kelompok musik yang getol dari awal terbentuk hingga sekarang menyuarakan isu-isu yang saya maksudkan pada pembahasan di awal tadi.
Mungkin banyak anggapan diluar sana, “buat apa sih repot-repot mengkritisi orang-orang? Emang pada ditanggapin apa?” Di negeri berazaskan demokrasi (liberal) ini, justru sudah menjadi hak setiap individu untuk menyuarakan baik aspirasi maupun kegelisahannya ke dalam bentuk apa pun. Tak salah juga jika ada yang memilih menjadi apatis. Sebab beginilah realitanya! Minimnya edukasi dari segala lini lama kelamaan akan memunculkan benih-benih apatisme yang dikhawatirkan akan menyelemuti seluruh benak generasi-generasi yang akan datang.
Setiap orang bisa saja berperan dalam bagian pembentukan apatisme tadi. Oleh karena itu, apa yang dilakukan Filsafatian yang lebih memilih berbuat daripada berdiam diri sangat patut diapresiasi baik dari aspek seni musiknya maupun aspek edukasinya.
Beberapa minggu yang lalu, Filsafatian baru saja merilis album ke-2-nya dengan tajuk SAFARIPAKKUKUN. SAFARIPAKKUKUN adalah sebuah studio album yang berisi 6 trek yang dirilis dalam format kaset pita dengan limited release sebanyak 30 pcs oleh Nomads Records (Medan). Peluncuran album kedua oleh Filsafatian ini dibarengi dengan event Cassete Store Day yang diselenggarakan di Pitu Room pada bulan Oktober 2018 lalu.
Beberapa lagu baru yang ada di dalam album kedua Filsafatian seperti Bakar Mati, Punk Rock Show, Regenerasi VS Eeksistensi, telah terlebih dahulu mencuri perhatian para pendengar, sebab telah dibawakan secara live oleh Filsafatian sejak beberapa bulan lalu pada setiap gigs yang mereka mainkan.
Masih berkutat dengan segala keresahan yang mengganjal di hati, Filsafatian, di album keduanya ini lebih banyak menyoroti sikap apatisme di generasi muda dan geliat skena yang kian kemari seolah hanya sekadar berkomunitas tanpa mengedepankan esensi dan edukasinya.
Bakar Mati, trek yang menjadi pembuka pada album kedua mereka, menjadi trek yang emosional dan enerjik dengan balutan nuansa ska punk yang kental dengan pilihan ritme-ritme yang catchy. Trek berikutnya, Hidup Sederhana. Lagu ini cukup menyita perhatian, sebab dikemas dalam komposisi yang tidak biasanya Filsafatian mainkan. Di lagu ini, Filsafatian memasukkan nuansa akustik country yang mengingatkan kita pada lagu-lagu Iwan Fals pada era Oemar Bakri. Kawan Lama, ditempatkan pada urutan ke 3 album. Lagu ini mengisahkan kerinduan terhadap “kawan lama” yang keberadaannya kini tak tahu di mana. Punk Rock Show, di lagu ini, Filsafatian kembali menaikkan adrenalin lewat tempo yang mulai meninggi disertai riff yang menggoda pendengar untuk berpogo ria. Trek dengan lirik berbahasa Inggris ini menceritakan segala kejenuhan, kemarahan dan kemuakan terhadap media-media yang kotor, politikal drama, virus-virus kebencian. Punk Rock Show menjadi obat yang ampuh untuk sedikit melupakannya sejenak.  Masuk ke trek Regenerasi VS Eksistensi, lagu yang kental dengan nuansa ritme khas dari Filsafatian, sesuai dengan judul lagunya, Filsafatian di lagu ini mempunyai harapan yang besar akan pentingnya regenerasi daripada sekadar eksistensi belaka. Sebagai trek penutup, Filsafatian kembali memasukkan lagu Revolusi Mentel dari album pertama mereka. Lagu ini menjadi lagu Official KPK Suara Anti Korupsi tahun 2018.
Tak banyak yang memilih isu sosial sebagai tema untuk diangkat ke dalam sebuah lagu. Tak banyak pula yang konsisten bilapun ada yang memilih tema tersebut ke dalam konsep bermusiknya. Filsafatian adalah band yang tak hanya sekadar pandai merangkai nada-nada indah. Mengadaptasi lirik dari Bakar Mati, Filsafatian adalah kelompok pemusik dengan lagu kencang yang berlirik tajam. Panjang umur perlawanan!

Share this post

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on tumblr
Share on print
Share on email

Recent post