DISOBEY: SIAP ‘TUK AMBIL ALIH

DISOBEY: SIAP ‘TUK AMBIL ALIH

Tahun 2018 tampaknya akan menjadi tahun yang paling produktif bagi kebanyakan band di bumi Indonesia. Seolah terjadwal dengan sistem estafet, tiap daerah silih berganti saling bersahutan dalam hal perilisan album. Di kota Medan sendiri, sudah lebih dari 3 band secara bergantian yang merilis album terbarunya menjelang ahir tahun 2018 ini. Disobey misalnya! Salah satu band hardcore kebanggaan kota Medan yang turut menjadi salah satu band yang baru saja merilis album terbaru mereka di penghujung tahun 2018 ini.

Minggu (25 November 2018) kemarin, Disobey menggelar  bedah album dan pemutaran perdana album ke-3 mereka “Ambil Alih” yang digarap bersama First Wave Tv di Kedai Boogie. Kegiatan bedah album ini sekaligus menjadi penanda dirilisnya secara resmi album ini ke publik.

Usai bedah album Ambil Alih, yang diselenggarakan di Kedai Boogie (25/11) kemarin. Foto: Ina Addini.

 Beberapa jam sebelum kegiatan bedah album dilaksanakan, tim Degilzine berhasil merangkum beberapa informasi eksklusif yang diperoleh dari pasutri Rio (drum) dan Karin (vokal) Disobey. Disimak we!

*Keterangan R (Rio), K (Karin), D (Degilzine)

D: Hallo! Karena ini momennya perilisan album Disobey, kita fokus ke seputaran album terbaru Disobey ya!

R dan K: Boleh.. boleh..

D: Kalau tidak keliru, album yang baru saja dirilis ini merupakan album ketiga dari Disobey, kan? Secara garis besar, ada tidak tema signifikan yang mau Disobey angkat di tiap-tiap albumnya?

R: untuk mini album pertama kita (Dedikasi) itu sebenarnya album masa percobaan. Kenapa? Karena akunya sendiri sebenarnya beranjak dari scene metal dan personel lain juga bukan dari pure hardcore. Jadi itu adalah masa penjajakan kami dan jauh dari ekspektasi kami. Sedangkan untuk album kedua, “Momentum”, kita sudah mulai menggali lebih dalam dari mulai tipikal sound, dan aransemen lagu sudah mulai kita pikirkan juga. Nah untuk album “Ambil Alih”, kita lebih eksplore dari segi sound. Sebenarnya belum klimaks, tapi sejauh ini sudah semaksimal mungkin kami kerjakan.

Nah untuk tema lirik, aku pikir tipikal band hardcore mempunyai tema yang sama, tema kebersamaan. Tapi untuk album Momentum dan Ambil alih, agak sedikit bergeser, kami mengangkat tema yang sedikit meluas dari tema seputar kebersamaan, yaitu permasalahan skena, isu kerusakan alam dan perang.

D: Bicara tentang penamaan album. Bisa diceritain tentang makna dibalik judul “Ambil Alih”?

R: Kita sebenarnya paling senang dengan penggunaan nama-nama yang tidak terlalu panjang seperti Dedikasi, Momentum.

D: “Disobey” juga misalnya ya!

R dan K: Iya! (Tertawa)

R: Jadi, penamaan album “Ambil Alih” selain cukup singkat, nama ini juga merupakan bahasa Indonesia. Jujur aja nih. Penggunaan bahasa Indonesia itu sulit untuk diterapkan ke dalam lagu. Jadi kami di sini dengan bangga ingin menggunakan bahasa Indonesia sebagai titel yang digunakan untuk album ke 3 Disobey. Sedangkan untuk pemaknaannya sendiri, kita memaknai ada kalanya proses kita dikekang dalam situasi tertentu, entah itu dalam pekerjaan atau hal lainnya, maka ambil alih diperlukan untuk memperbaiki situasi tersebut.

Tim Degilzine bersama Karin (kanan) dan Rio (tengah). Foto: Ina Addini.

D: Menyinggung soal penggunaan bahasa Indonesia tadi, bagaimana sih porsi lirik berbahasa Indonesia yang digunakan Disobey di album terbaru ini?

K: Untuk lirik, kita biasanya campur. Ada trek yang menggunakan bahasa Inggris dan ada sebagian berbahasa Indonesia.

R: Khusus di album terbaru ini, kita membaginya dalam porsi yang balance. 5 berbahasa Inggris dan 5 lagi berbahasa Indonesia. Awalnya kita pingin bisa bahasa Indonesia semua. Tapi ya itu tadi, penerapan bahasa Indonesia sangat sulit untuk diterapkan. Kita bangga dengan band model Seringai yang bisa menggunakan bahasa Indonesia seutuhnya. Sempat terpikir, apa sih bacaan mereka sampai bisa asik gitu nulis lagu bahasa Indonesia! Apa karena kita bacaannya Pos Metro kali ya makanya sulit untuk buat lirik Indonesia (Tertawa).

D: Seolah tak ingin berjalan di tempat, kebanyakan band memilih nuansa yang baru di setiap album-album yang akan dirilis. Bagaimana dengan Disobey? Apakah ada nuansa baru yang diangkat dalam album Ambil Alih?

R: Sebenarnya kita kembali mengulik band-band model Anthrax, Sepultura yang notabenenya trash abis. Band-band tadi banyak dijadikan referensi untuk album Ambil Alih ini. Di album terbaru ini kita juga pingin terdengar berat dari komposisi sound. Komposisi yang tidak ditemui pada 2 album sebelumnya.

D: Beberapa tahun ke belakang Disobey tampak sering gonta ganti personel, terutama gitar dan bass. Bagaimana cara Disobey mensiasati pergantian personel dalam proses kreatif di album ketiga ini?

R: Album Momentum adalah titik di mana kami (Karin, Rio) cuma berdua. Jadi untuk proses pembuatan lagu, kebetulan aku bisa sedikit bermain gitar dan sering ngebangun nada-nada dasar dari lagu yang bakal Disobey buat. Dari pondasi-pondasi nada gitar itu, aku minta tolong ke operator recording untuk ngisi part gitar saat proses recording lagu-lagunya Disobey. Dan kurang ajarnya, bayaran untuk isian gitar Disobey ini tidak kami tambahkan (tertawa). Setelah hasil recording selesai, materi yang sudah jadi itu kita kasih ke teman untuk ngebantuin kita ketika dibawain live. Ini sekaligus ngasih tahu juga ke kawan-kawan, bahwa gak ada yang gak mungkin asalkan kita punya mimpi.

D: Pada album momentum, Disobey merilis ke dalam dua format fisik yaitu format CD dan kaset pita. Apakah format serupa juga diterapkan dalam album ini?

R: Mengenai rilisan, untuk album terbaru ini Disobey bekerjasama dengan label lokal, Minorleft Record, untuk produksi fisik. Kita senang beberapa teman memilih bergerak di bidang label, mudah-mudahan hal ini bisa berdampak kepada teman-teman lain untuk bisa berbuat serupa. Untuk format fisik, saat ini kita hanya merilis ke dalam format CD saja. Kedepannya ada wacana untuk merilis dalam format kaset pita disertai bundling T-shirt dengan sistem Pre-Order.

D: Menyinggung kembali movement pada era Momentum, Disobey sempat melangsungkan tur untuk promosi album beberapa tahun yang lalu. Apakah movement serupa akan digalakkan kembali pada album ini?

K: Untuk album Momentum sebenarnya promo turnya cukup telat dari tanggal rilisnya album itu sendiri. Karena menyesuaikan jadwal kegiatan dan kerja masing-masing personel, tur album baru bisa dilakuin pada tahun 2016 di beberapa kota di Malaysia. Untuk album baru ini ada wacana juga untuk melangsungkan tur. Destinasinya kemungkinan sama, plus di Singapura, karena untuk yang lalu sebenarnya kita harusnya main di Singapura tapi cancel karena gak dapat izin acara.

R: Selain tur, kita juga akan menggarap video klip untuk album ini. Jadi kemungkinan dari Desember sampai bulan 2 tahun depan, Disobey bakal disibukan dengan promo album.

D: Seperti yang diketahui orang banyak, Disobey terdiri dari pasutri yang sekaligus menjadi ikon bagi band ini. Bisa dikasih tips gimana cara menyelaraskan urusan rumah tangga dengan urusan ketika ngeband?

R: Aku pribadi sebenarnya menganggap Disobey ini pada tingkat bahaya. Karena aku dan Karin kan suami istri. Tingkat emosional stres kami itu berada dalam level yang sama. Jadi, tingkat emosi kami saat sedang di rumah dan di panggung itu sama. Jujur aja itu memang tidak bisa kita pisahkan. Sangat bahaya bagi band kalau kami menuruti emosional kami satu sama lain. Tapi, bicara trik, aku rasa kami sama-sama menyenangi suatu hal yang sama. Jadi biasanya selalu ada solusi untuk memilah urusan rumah dan urusan band.

K: Biasanya kalau kita lagi ada masalah di rumah, memang terbawa-bawa saat perjalanan menuju veanue. Diam-diaman! Tapi begitu manggung biasanya udah mulai reda. Karena emosinya tadi juga udah dikeluarin saat manggung. Paling yang jadi cukup masalah kalau kita recording. Bisa sampai 2 hari diam-diaman dirumah (tertawa). Tapi intinya sebisa mungkin untuk bersikap professional.

D: Terakhir! Ada pesan atau hal yang ingin disampaikan kepada pembaca?

R: Bukan maksud mendikte, tapi musik itu adalah universal. Jangan terlalu cepat berbangga diri dengan perilisan album. Masih ada pencapaian lain yang harus dicapai. Launching album, tur dan sebagainya. Setelah itu apa? Setelah itu mulai lagi dari awal untuk membuat lagu. Jadi intinya, Medan ini harus bisa berkompetisi lewat karya!

K: Untuk kawan-kawan diingatin, Jangan lupa datang di launching album ambil alih, 1 Desember nanti di Pitu Room. Di acara nanti, kalian bisa dapatkan CD + Poster (terbatas) yang dibundling dengan tiket seharga Rp.40.000. see you in the moshpit!!!

Share this post

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on tumblr
Share on print
Share on email

Recent post