DSC08674

LIPUTAN LIAM X: RINDU KIRANA

Desember, layaknya musim penghujan yang membuat semangat antar skena musik lokal kian menjamur. Tiap-tiap skena atau ruang kreatif berlomba-lomba membanjiri kota Medan dengan berbagai macam event atau gigs sebelum menghabiskan akhir tahun. Sepertinya mereka tidak ingin melewatkan akhir tahun ini hanya dengan berdiam diri saja. Layaknya “Lost In A Melody (LIAM)”. LIAM adalah salah satu hajatan yang dipersembahkan oleh Kirana Scenester. Rekam jejaknya diawali secara perdana sejak tahun 2004. Event yang sangat dirindukan yang hampir 6 tahun hibernasi sejak terakhir LIAM 9 digelar pada tahun 2012 ini, kini sudah mulai terbangun dari mimpi panjangnya. Awal Desember kemarin, Kirana Scenester kembali menggelar LIAM ke-10, diadakan di Andaliman Hall Jl.Abdullah Lubis No.60 Medan. Lost In A Melody 10 menghadirkan beberapa band kebanggaan Kota Medan diantaranya Pullo, Hello Benji and The Cobra, The Abrams, Madspeople (Dj Set) Vintage Glasses, Eleanor Whisper, Swurf, Garside, TBRX, Beetleflux, dan terakhir Kemedja Poetih, yang cukup lama hibernasi ini pun terbangun dari mimpi panjangnya.

Vintage Glasses on a stage! Foto: Olivia Pangabean.

Disela-sela event dimulai, tim Degilzine berhasil menculik Daniel, selaku salah satu panitia di hajatan LIAM 10 dan merangkum beberapa informasi eksklusif. Yuk disimak !!!

*Keterangan : D ( Daniel ) , T ( Tim Degilzine )

T  :Halooo Bang Daniel … Boleh tanya-tanya sebentar yaaa..!!

D  :Halooo, iya silakan.

T  :Boleh jelasin dong latar belakang LIAM itu sendiri?

D :Ya… LIAM ini memang pergerakan dari dulu ya.. ya anak Kiranalah yang pertama buat yekan. Eee… itu sampai LIAM ke 9 kalok nggak salah itu dari 2006 udah dimulai dari abang-abang di Kirana dan pergerakan itu sampai kepada LIAM yang ke 9. Nah di LIAM ke 9 itu stuck untuk menuju LIAM ke 10. Setelah vakum 6 tahun, kita bikin lagilah karena regenerasi juga udah mulai banyak di Kirana gitu kan. Band-band baru udah mulai bermunculan dan kita mulai lagilah untuk bikin pergerakan ini. Jadi melanjutkan apa yang sudah abang-abang tinggalkan. Kira-kira lebih kesitu sih.

T :Kira-kira di LIAM ke 10 ini kendala kalian selama proses persiapan apa saja?

D :Kendalanya mungkin lebih ke ruang ya. Kita nggak punya ruang untuk bikin event di Medan ini. Agak susahlah, dan kalau pun ada dapat pasti mahal. Sedangkan kita berupaya mencari coast yang seminimal mungkinlah. Bukan maksudnya murahan juga. Tapi kalau bisa ya selain murah juga bagus yekan. Namanya kita bergerak di independen musik dan mau nggak mau ya harus gitu menggunakan uang pribadi kita bikin event secara kolektifan. Yaaa… paling kendalanya cuma itu. Kesimpulannya masalah tempat aja.

T  :Terus, ngelihat antusiasme yang dateng di LIAM 10 ini gimana?

D :Ya… kalau antusiasme penontonnya mungkin beberapa ada wajah-wajah lamalah. Mungkin banyak juga yang merindukan LIAM ini, karena vakumnya lumayan lama dan di sini juga jadi tempat ngumpul anak-anak Kirana yang lama terus kawan-kawan komunitas lain juga ngumpul di sini. Jadi kalau antusiasnya ya lumayanlah, terus mereka juga bisa senang-senang di sini, bisa reunian juga.

T  :Bisa dibilang event yang cukup dirindukanlah ya?

D  :Ya bisa jadi!!!

T  :Apakah event ini bisa dikatakan sebagai ultahnya kirana nggak sih?

D :Kalau ultah sih enggak. Ini hanya semacam movement yang sempat ditinggalkan dulu dan sekarang kita mulai lagi karena banyak regenerasi. Dan sebenernya dulu juga udah ada niatan mau bikin lagi cuma banyak kendala-kendala pada waktu itu. Dan kalau dilihat sekarang antusias bermusik sudah mulai bergejolak kembali di Kirana khususnya, dan kita manfaatin kesempatan itu untuk buat kegiatan.

T :Apa alasan terkuat sehingga LIAM bisa 6 tahun vakum dari permukaan?

D :Alasan terkuatnya mungkin abang-abangan di atas kita udah pada sibuk, ada yang kerja, nikah, ada yang hijrah. Dan balik lagi karena kami merasa pergerakan ini harus diteruskan makanya kita coba bangkit lagi sekarang.

T  :Harapan ke depannya untuk LIAM?

D :Harapan ke depannya dari Kirana sendiri, dengan pergerakan ini kiranya memunculkan kembali regenerasi selanjutnya. Menurut kami wajah-wajah baru itu harus ada. Karena kalau harus kita-kita lagi yang ditonton apa gunanya yekan, harus semakin rame biarpun harus bersaing juga antara yang tua dengan yang muda. Harapan selanjutnya dengan kegiatan ini makin buat kita semakin kenal dengan antar skena di Medan. Simpelnya sih kalau Kirana bikin event orang-orang kan bakal ngeliat band-band dari Kirana, begitu juga sebaliknya jika skena lain bikin kegiatan orang-orang dari skena yang lainnya akan ngeliat juga. Intinya jadi ajang buat silaturahmi dan saling ngerangkul satu dengan yang lain.

Tim Degil bersama Daniel. Foto: Olivia Pangabean.

Selain Daniel, Tim Degilzine juga berhasil menculik beberapa personel dari Vintage Glasses, salah satu band yang turut mengisi di LIAM 10. Berikut rangkuman eksklusif wawancara kami dengan Aas dan Opi, vokalis dan gitaris dari Vintage Glasses

*Keterangan T (Tim Degilzine), A (Aas), O (Opi), V ( Viges)

T  :Halo Viges… Bagaimana kesan kalian bisa main di LIAM 10 ?

O :Halooo… Kesannya bagus karena akhirnya kita bisa main di LIAM lagi setelah beberapa tahun event ini sempat mengistirahatkan diri. Dan kita sangat rindu pada masa-masa itu, apalagi Vintage dulu bagian dari panitia acara ini, 2 tahun berturut-turut kita menjual tema dan dekorasi di acara ini. Dan pada tahun ini band-band yang bisa dibilang kawan-kawan yang baru membentuk band bisa main di LIAM itu sangat kerenlah, termasuk Viges itu bisa main lagi kita sangat puas.

T  : Harapan ke depan dari Viges untuk acara ini?

A :Harapannya sebenernya kalau bisa skalanya lebih besar lagi. Bukan mengubah konsep tapi menambah konten. Karena pesta anak muda untuk ukuran hanya band saja sekarang ini, walaupun memang dasarnya mengangkat sebuah band, tapi alangkah baiknya ke depan lebih mengundang semua sih, gak hanya dari Kirana. Walaupun tetap menggunakan band Kirana sih, tapi paling nggak beberapa persen itu dari band-band luar juga diundang, agar makin kenal antara komunitas satu dengan komunitas yang lain. Gitu aja sih.

Tim Degil bersama Vintage Glasses. Foto: Olivia Pangabean.

T :Oke bang tengkyu udah mau ngobrol sebentar. Sukses terus buat Viges dan kawan-kawan!

V :OKE ….

Share this post

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on tumblr
Share on print
Share on email

Recent post