IMG_6776

LIPUTAN WHY FEST 2018: FESTIVAL PENUH DENGAN PERTANYAAN

Pertanyaan adalah sesuatu yang tidak bisa lepas dari hidup kita sebagai manusia. Manusia hidup dengan pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam dirinya, bahkan ia mempertanyakan keberadaannya sendiri. Ya, sedikit absurd memang, tapi inliah yang membuat kita “ada” sebagai manusia. Pertanyaan-pertanyaan adalah bahan bakar, yang menggerakkan kita untuk mencari jawaban atas pertanyaan itu sendiri.

Setiap dari kita memunyai jawaban masing-masing atas sebuah pertanyaan yang sama. Jawaban atas suatu pertanyaan akan memunculkan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Tidak akan ada habisnya emang,  pertanyaan akan selalu ada selama kau hidup.

Beberapa pertanyaan berakhir dengan jawaban yang tidak memuaskan, sedangkan beberapa berakhir tanpa jawaban sama sekali. Segala sesuatunya harus dipertanyakan dan ditemukan jawabannya. Berhenti mempertanyakan sama saja dengan berhenti hidup. Kita hidup untuk menemukan jawaban atas semua pertanyaan kita. Oleh karena itu hiduplah dengan pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam dirimu, beritahu aku jika kau sudah menemukan jawabannya.

Oke, sudah cukup dengan bacot-bacot omong kosong filosofis ini, ku tahu tidak ada gunanya bagi dirimu, karena filosofi hanyalah sebuah omong kosong belaka.

Ya, sudah kalau  begitu mari kita mulai.

Pada tanggal 8 dan 9 Desember kemarin, diadakan sebuah festival musik yang cukup ciamik, bernama “Why Festival”. Menarik karena diawali dengan sebuah kata tanya “kenapa”. Kata tanya yang sering digunakan banyak orang jika sedang membutuhkan alasan. Cukuplah menjadi pemantik buatku untuk datang ke acara ini, ya cari tahu atas pertanyaan itu tadi. Keberangkatan ke acara tersebut pun akhirnya berakhir dengan dipenuhi pertanyaan yang ada di dalam kepala.

“Why Festival” mengambil tempat di Rossi Musik untuk perhelatannya. Konsep acaranya adalah “Small, intimate, diverse music and market festival”.

Small, karena ini acara musik dengan skala kecil yang gak kecil juga, karena ada 3 panggung yang disediakan, venue yang terletak di lantai 1 Rossi Musik didominasi dengan band-band cadas, hall terletak di lantai 4 berisikan band-band lintas genre dan terakhir Mondo yang diisi dengan DJ yang membuat badan bergoyang. Perbedaan lantai yang tinggi lumayan membuat badan ini lelah naik turun tangga, itung-itung olahragalah.

Intimate, pertunjukan terbilang intim tanpa ada barikade yang membatasi si penampil dan penonton, semua membaur menjadi satu. Penonton bebas ria naik ke atas panggung tanpa ada yang menghalangi. Pengalaman paling berkesan waktu band asal Jepang bernama Geronimo Label tampil. Banyak yang baru pertama kali mendengarkannya termasuk saya, tapi penonton berjingkrak ria meramaikan suasana menikmatinya, dan band ini mengover lagu Indonesia juga, “Pernah Kau Merasa” nyanyinya di atas panggung.

Diverse music, total ada 30 band dengan berbagai macam genre, mulai dari punk hingga indie pop ala anak zaman sekarang. Beberapa DJ juga siap untuk membuat penonton bergoyang tanpa lelah.

Market festival, ya sederhananya sih ada para pembuka lapakan di acara ini, mulai dari musik hingga minuman favorit anak muda zaman sekarang yang penuh kearifan lokal yaitu, “Junkie Juice”. Oh, iya dan tidak lupa pula ada beberapa talk show dan screening film juga di acara ini.

Dua hari menghadiri acara ini banyak memberi pengalaman baru yang menyenangkan. Hari pertama banyak disuguhkan band-band absurd dari Jepang seperti, Netanoyoi, Geronimo Label. Melihat Elevent Welth untuk pertama kalinya, bernyanyi bersama Jason Ranti di tempat parkir hingga terbawa depresi bersama Gho$$ dan tertawa melihat kerandoman orang Jepang. Hari kedua datang langsung disambut Suri, kemudian banyak berkeringat menikmati moshing bersama Kontra Sosial, dan Final Attack. Istirahat sejenak menikmati indie popnya Bedchamber. Terakhir ditutup menggila kembali bersama Raja Singa. Penyesalan dalam acara ini adalah tidak bisa menonton Kelelawar Malam dan Jirapah akibat terlambat datang.

Ya, seperti itulah keseruan yang ada di Why Festival, yang kami dokumentasikan dalam bentuk foto dan video. Sampai acara berakhir pertanyaan belum terjawab, tapi yasudahlah mungkin lebih baik begitu adanya. Kesuksesan dalam sebuah acara festival musik bukanlah terletak pada jumlah penonton yang datang, atau seberapa banyak band yang manggung, tetapi lebih kepada apakah festival musik tersebut dapat memberikan sebuah pengalaman baru kepada setiap yang datang. Semoga kedepannya Why Festival akan dapat terus ada dan membawa pertanyaan baru bagi kita semua.

Credit photo and video: Fariz Rizki Fadillah (Kibo) @kresek.hitam

Share this post

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on tumblr
Share on print
Share on email

Recent post