SUNSETKILLA MENGGUGAT TAMPAK LUAR
Sebagai sesama mahkluk penghuni tanah Sumatra, yang belakangan (mungkin) dipandang sebelah mata oleh mahkluk penghuni tanah Jawa, alangkah senangnya saya ketika Azka, gitaris dari Sunsetkilla, unit rock Bandar Lampung, mengabarkan bahwa mereka telah merampungkan video lirik untuk lagu terbaru mereka bertajuk Tampak Luar. Betapa girang mendengarnya. Dalam kesibukan yang luar biasa, mengurus Degil House dan deadline menulis novel yang makin mepet, saya sempatkan diri sejenak untuk mengobel Tampak Luar.
Tapi sebelumnya mesti digaris bawahi, bukan hanya karena romantisme sesama penghuni tanah Sumatra  yang membuat saya girang, sebab Sunsetkilla bukan band sembarangan, bukan rock sekadarnya, atau layaknya band tanah kedua lainnya yang masih tak pede pada diri sendiri lantas meniru-niru musik (bahkan kelakuan) band-band dari tanah seberang. Lebih dari itu. Sejak pertama kali menemukan mereka di Soundcloud, dua tahun silam, saya langsung jatuh hati. Dan mesti dicatat pula, ketika itu saya bahkan tidak tahu bahwa mereka berasal dari Bandar Lampung.
Begitulah. Sepak terjang band ini sudah saya paparkan di tulisan sebelumnya (silakan klik). Maka untuk kali ini, kita berfokus saja pada lagu Tampak Luar.
“Bercerita tentang keburukan sifat manusia, dan bagaimana semua manusia pada umumnya senang sekali menilai orang di sekitarnya atau makhluk individu lain hanya dari luarnya saja atau dari fisik semata.”
Itulah penjelasan mereka pada press release yang juga saya terima. Jangan nilai buku dari covernya saja, kalau kata entah siapa. Maka jangan nilai Sunsetkilla dari luarnya saja. Mungkin mereka tampak seperti bajingan tengik, mengingatkan kita pada anak-anak Menteng di era 90an, yang hobinya cuma main musik, mabuk, zina, lantas mati over dosis. Tapi itu kan tampak luarnya. Kita tak akan bisa membuktikan kebenaran itu jika kita tidak menyelami hati mereka (cieee), atau paling tidak mengajak mereka begadang sampai pagi bersama sebotol Orang Tua. Seperti yang mereka bilang, “Kau tak kenal aku.. Sisi putih hatiku…” Apa itu poin ingin mereka sampaikan? Aku kira masa bodoh. Dan aku yakin mereka berpikir sama.
Mengenai musik. Mesti saya tegaskan. Cobalah dengar lagu-lagu mereka sebelumnya, dan kau akan terkejut betapa anak-anak muda ini bukan sekadar bisa memainkan instrumen masing-masing, namun dapat dikatakan: mahir. Kesemuanya telah melebur dalam suatu wadah bernama Sunsetkilla, bersenggama dalam chord-chord yang telah disepakati, namun berjingkrakan sendiri-sendiri dalam pemilihan notasi. Davin, yang setahu saya menggunakan 5 senar (atau 6?), untuk bassnya, berfungsi bukan hanya sebagai penyangga, kalau tidak disebut dirigen. Kolaborasi antara Azka dan Krisna juga tak perlu diragukan. Masing-masing telah mengerti bagaimana menyingkirkan kemauan untuk menjadi Paul Gilbert (misalnya), dengan merendahkan hati demi menjunjung estetika di dalam Tampak Luar. Entah siapa yang memainkan rhytem di lagu ini, namun saya katakan, saya suka sekali dengan pemilihan sound distorsi ala Jack White di lagu ini!
Tidak seperti lagu-lagu sebelumnya, kali ini Sunsetkilla tidak terlalu berumit-rumit di dalam pemilihan diksi. Sekali dengar kita semua akan paham apa yang dituju oleh Tampak Luar, atau apa yang ingin mereka sampaikan. Tapi kembali, inilah bayi yang dilahirkan dengan persenggamaan yang sehat antara mereka berempat. Bayangkan saja, dengan tempo dan sound ala Godbless medio ’80an, lantas mereka menggunakan diksi semacam Efek Rumah Kaca. Mau jadi apa?
Pada akhirnya, saya ucapkan selamat atas rilisnya Tampak Luar. Kami, mahkluk-mahkluk Medan, masih menunggu kedatangan kalian di kota tercinta ini.
Berikut video lirik Sunsetkilla bertajuk Tampak Luar

Leave a Comment