tumblr_static__mg_7353

TEATER RONGSOKAN: MERAWAT KEWARASAN MELALUI KUAH BEULANGONG

Halo Degilian! Kabar menggembirakan datang dari tanah tetangga, kali ini kami ingin mengabarkan tentang pementasan teater yang akan digelar dalam waktu dekat ini. Mereka menamai diri mereka “Teater Rongsokan” . Ya, sebuah komunitas teater yang berasal dari Tanah Rencong ini akan menggelar pementasan tunggal bertajuk “Peunawa” yang digagas oleh Iwan Bundo sebagai penulis naskah sekaligus sutradara pada Senin nanti, tepat tanggal 28 Januari 2019 di Taman Budaya Sumatra Utara. Ngomongin soal pementasan teater ini aku ingin berbagi sedikit pengalaman sewaktu masih terlibat di komunitas teater dari universitasku dulu.  Teater ini merupakan salah satu pagelaran seni yang cukup rumit dan kompleks. Mulai dari tahapan pra-produksi sampai paska-produksi, semuanya serba detail, semisal penentuan tema yang ingin diangkat, penyusunan naskah, pembentukan tim dan pemain, proses latihan, pembuatan properti sampai pagelaran cukup menguras tenaga dan pikiran. Dari tahapan pra produksi tim dituntut untuk menjaga mood dan semangat antar sesama. Biasanya banyak benturan-benturan yang terjadi pada masa pra produksi ini. Namun kita dapat melihat kematangan serta kesiapan melalui proses ini apakah tim tersebut layak untuk menampilkan pementasan mereka atau tidak. Walau begitu kita tidak bisa melihat proses keberhasilan suatu pementasan dari banyaknya penonton atau banyaknya sorak sorai tepuk tangan sehabis pagelaran. Karena menurutku pribadi hal yang paling patut untuk diapresiasi adalah proses pada tahapan pra produksi sebab di situlah titik terberatnya.

Kembali lagi ke topik pembahasan kita mengenai Pementasan “Peunawa” dari Teater Rongsokan. Apa sebenarnya yang ingin mereka sampaikan pada publik lewat pementasan ini? Nah, beberapa waktu yang lalu Tim Degilzine mendapatkan informasi via whatsapp dan merekam pembicaran lewat salah seorang panitia bernama Khalil. Yuk disimak …!!!

* Keterangan : D (Tim Degilzine), K (Khalil)

D: Halo Bang, maaf mengganggu waktunya. Kita tanya-tanya sebentar seputar pementasan boleh ya…

K:  Iya… Silakan Bang.

D: Boleh jelaskan sedikit tentang “Teater Rongsokan” itu sendiri?

K: Jadi “Rongsokan” itu adalah sebuah komunitas di kampus, sebuah UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) atau KTM ( Komunitas Teater Mahasiswa) “Rongsokan”. Jadi mengenai sejarahnya kenapa bisa dinamakan Rongsokan… jadi kami punya slogan “dibuang bukan berarti terbuang”. Jadi dulu pendiri dari Teater Rongsokan sendiri adalah orang –orang yang sudah tua di kampus yang memang tidak memunyai wadah untuk menyalurkan bakatnya. Maka dengan itu, mereka-mereka yang mencintai seni membuat rongsokan itu sendiri, kenapa rongsokan ya karena mereka yang sudah tua-tua di kampus yang secara tidak langsung sudah tak dipedulikan lagi. Rongsokan sendiri berdiri tanggal 28 Mei tahun 2001.

D: Apa yang melatarbelakangi pementasan “Peunawa” sendiri?

K: Pada dasarnya kami ingin menjual adat tradisi kuliner kuah beulangong. Kuah beulangong ini adalah masakan yang sangat sakral bagi masyarakat Aceh sendiri. Karena setiap pesta besar seperti pesta pernikahan atau maulid dan syukuran selalu ada masakan kuah beulangong. Kalau tidak ada kuah beulangong seperti tidak sah sebuah pesta tersebut. Intinya kuliner kuah beulangong ini ingin kami lestarikan lewat seni pertunjukan teater. Kesimpulannya secara tidak langsung kami ingin menjaga adat dan tradisi Aceh itu sendiri.

D: Kendala apa saja yang kalian hadapi menjelang pementasan “Peunawa”?

K: Terkait masalah kendala, sejauh ini kendala kita menjelang pementasan yaitu soal transportasi untuk mengangkut properti dan artistik panggung ke Medan. Ada beberapa properti yang ukurannya besar. Terkendalanya sih di teknis packing barang-barangnya. Tapi alhamdulillah kita udah ada solusinya dan kendala lainnya adalah publikasi soal kegiatan. Alasan kenapa telat dipublikasikan yaitu karena kurangnya SDM. Di sini kita banyak yang merangkap jobdesk, jadi kendalanya kita kekurangan SDM. Faktor utamanya pelaku teater di sini masih kurang. Tapi kita tetap ingin memperkenalkan nilai teater dalam masyarakat itu sendiri.

D: Apa yang kalian tawarkan kepada masyarakat yang membuat masyarakat harus menonton pertunjukan kalian?

K: Kita tahu dari Aceh sendiri banyak yang bisa diangkat, seperti kopinya, tarinya dsb. Di sini kami ingin memperkenalkan pada masyarakat Medan sendiri bahwa kami juga punya kuliner di Aceh yang sangat khas yang ingin kami angkat, bernama kuah beulangong. Ini bukan seperti masakan biasa. Yang menjadi daya tariknya kuah beulangong ini punya syarat dan rukun dalam bagaimana cara kita mengolahnya. Intinya kita ingin memperkenalkan masakan khas yang cukup unik ini kepada masyarakat, khususnya kota Medan.

D: Apa pesan yang ingin kalian sampaikan kepada penonton lewat pementasan “Peunawa”?

K: Pesan yang ingin disampaikan untuk masyarakat kota Medan yaitu bagaimana pentingnya kita dalam menjaga dan melestarikan adat dan tradisi setiap daerah kita masing-masing. Khususnya dalam segi kuliner. Karena terkait masalah kuliner kita punya beragam kuliner dan itu mempunyai nilai yang sangat tinggi. Melihat fakta bahwa kita sudah terbiasa menkonsumsi masakan-masakan dari luar dan mengesampingkan masakan khas kita. Kita ingin tetap memasyarakatkan masakan daerah itu untuk tetap dijaga terus-menerus. Salah satunya lewat pertunjukan ini nanti.

D: Untuk info dan reservasi tiket bisa diperoleh di?

K: Untuk info bisa hubungi Kapol. Beliau adalah Penanggung Jawab Kotak Medan (Komunitas Teater Kampus Medan). Kalian bisa pesan lewat kontak 081375075726. Atau bisa juga lewat komunitas teater kampus se-kota Medan seperti “Teater O” USU, LKK UINSU, LKSM UNIMED, KUAST atau POST ARCA ITM . Kebetulan kita memabangun kerjasama dengan mereka.

D: Terakhir, harapannya untuk tim dan masyarakat kota Medan?

K: Harapannya, kami bisa membangkitkan semangat pemuda-pemudi Indonesia khususnya Aceh dalam menjaga adat tradisi kuliner Indonesia agar tidak terkikis oleh masakan-masakan luar begitu juga untuk masyarakat Medan. Semoga kita bisa lebih sadar dalam menjaga kuliner asli daerah kita.

Share this post

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on tumblr
Share on print
Share on email

Recent post