Moses 2

SIMERAWANA: MERUPA YANG TAK TERLIHAT

Dari bermacam cara orang-orang menuntut apa yang selama ini disebut  kebebasan (ataupun ilusinya)—mulai dari yang frontal sampai gerakan bawah tanah—mungkin hanya seni-lah cara yang dianggap paling anggun juga bijaksana dalam meraihnya. Begitulah Moses Katanasah Tarigan, seorang perupa asal Medan, ketika bicara seni menurutnya adalah kebebasan.

Esok, lajang dua puluh tahunan itu akan disibukkan dengan pameran tunggalnya yang bertajuk Simerawana, yang mulai digelar 18 Februari 2019 sampai  sepuluh hari mendatang di Taman Budaya Sumatera Utara, Medan. Sejumlah 25 lukisan dari yang pernah melanglang buana di beberapa gelaran pameran bersama, maupun beberapanya lagi yang belum pernah dipertontonkan sebelumnya, juga akan ikut mejeng di helatan itu.

Tajuk yang dipilih Moses, Simerawana, memang berani. Keberanian pada tema yang dipilih juga diikuti oleh konsistensi Moses dalam mengumpulkan sejumlah karyanyanya selama empat tahun ini hingga mencukupi kebutuhan pameran tunggal. Simerawana bercerita tentang masa sebelum tersebarnya Injil Pemena di kalangan masyarakat Karo, saat itu ada dua kepercayaan terhadap Tuhan (Dibata), yaitu Dibata Si Idah dan Dibata Si Laidah.

Poster pembuka. Photo: Moses Tarigan

Dibata Si Idah atau dikenal sebagai ‘Tuhan yang Terlihat’ adalah kelompok pihak pemberi perempuan kepada anakberunya yang sangat dihormati dalam sistem kebudayaan masyarakat Karo. Sedangkan Dibata Si Laidah yang secara harfiah dapat diartikan ‘Tuhan yang tidak Terlihat,’ atau, yang oleh Moses Tarigan sebut sebagai Simerawana berarti adalah yang terkuat dan yang paling berkuasa. Oleh masyarakat Karo, Simerawana selalu digambarkan tidak tergambarkan, namun dipercayai keberadaan, kuasa, juga kesaktiannya.

“Aku merindukan apa yang tergambar, dan apa yang digambarkannya. Karena bentuknya (Simerawana) itu tidak satu,” imbuh Moses ketika menyambangi markas Degil hari Selasa, 12 Februari lalu.

Namun, menurut Moses, ketika berbicara bentuk, itu hanya seperti penyampaian ‘kata’ yang sama dengan mulut yang berbeda masing-masing individu sebagai upaya perwakilan hati dan jiwa seseorang. Ia berpendapat setiap orang dapat merangkai cerita sendiri ketika Moses mencoba merupa satu ‘bentuk’ Simerawana yang oleh penikmat bisa dapati di dalam lukisannya nanti. Maka di situlah menurut Moses lukisannya dapat diapresiasi sejujurnya oleh orang lain.

Moses sempat bercerita kepada penulis tentang salah satu lukisannya, Darda. Moses namai lukisannya itu ‘Mutiara Kebijaksanaan’ layaknya menamai anak laki-lakinya sendiri, “lukisanku adalah anak kandungku,” tegas Moses.

Ia namai Darda sebab membawa semacam paradox di dalamnya, menimbulkan satu kontradiksi yaitu anugerah juga sekaligus dosa. Darda digambarkan sebagai sosok seorang laki-laki atau mungkin perempuan yang memiliki sepasang mata, sepasang telinga dan hidung. Namun tak dikarunia mulut. Oleh Moses, lisan yang menyebarkan suatu pesan dapat menimbulkan suatu kebingungan atau ambiguitas yang mengaburkan nilai yang benar atau yang salah. Itulah yang ia sebut ‘Mutiara kebijaksanaan’ yang membawa serta anugerah sekaligus kecacatan.

“Semua serasa benar, juga salah secara bersamaan,” terang Moses.

Darda. Photo: Moses Tarigan

Ada banyak lagi nama-nama lukisan yang disebutkan Moses dari ‘serial’ Simerawana—yang tak baik jika dicurahkan di seluruh tulisan ini, sebelum pembaca melihatnya langsung.  Keseluruhannya dapat dibilang terbungkus berani dalam kekentalan sureal magis dengan corak kebudayaan lokal masyarakat Karo.

Semoga ketidaksabaran orang-orang untuk melihat karya-karya Moses dapat dituntaskan saat Pameran Tunggal Moses Tarigan: Simerawana resmi dibuka Senin ini. Silahkan para penikmat seni rupa menyempatkan diri untuk datang mulai esok selama pameran dibuka sepuluh hari. Sukses untuk perupa Medan.

Flyer Acara. Photo: Moses Tarigan

Share this post

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on tumblr
Share on print
Share on email

Recent post