HEY, BOS, MAKAN TUH QUOTE!

“Terbentur, terbentur, terbentuk!” merupakan quote andalan, salah satu pendorong agar kita berproses mengikuti pola kehidupan, “tidak ada kalah atau gagal, yang ada hanya belajar ” adalah tahap yang lebih tinggi dan persuasif, lagi-lagi untuk membuat kita lebih mau maju dan semakin memiliki kemauan untuk berproses.

Gagal, gagal dan berhasil? Mengapa ada tanda tanya dalam kalimat tersebut, tepat ketika di akhir dari kata berhasil? Mengapa keberhasilan dipertanyakan? Sebab tidak ada yang menjamin keberhasilan kita, kecuali quotes di atas.

Handoko baru saja lulus kuliah S1 Filsafat UGM, melamar kerja di 124 tempat termasuk perusahaan dalam kurun waktu 2 tahun 3 bulan, dan percayalah ia masih duduk sendiri kelaparan di kosnya. Sembari membaca quote “Terbentur, terbentur dan terbentuk” lebih sering dari ia menghubungi orangtuanya di desa.

Lantas apakah ini kesalahan Handoko yang terlalu percaya akan quote tersebut, sehingga dia terlalu melakukan semuanya tanpa prediksi dan perhitungan terharap hasil yang mungkin didapatkan. Atau ini justru kesalahan dari quote tersebut, yang terlalu persuasif hingga memengaruhi Handoko dengan taraf berlebih. Poin mana yang lebih berdampak? Memengaruhi atau memercayai? Quote yang mampu dengan magisnya memengaruhi Handoko dan mungkin orang-orang lain, atau orang-orang dan Handoko yang justru terlalu mempercayai quote tersebut?

Secara mengejutkan sebuah sikap diambil oleh Handoko, dia mulai membentuk ujaran di otaknya “Aku tidak butuh quotes, quotes jancok!” Tenang, jangan menyimpulkan bahwa itu adalah kemarahan yang dipilih Handoko sebagai jalan keluar, tetapi justru itulah titik baliknya, bukan kemarahan, tapi sikap terhadap hal-hal yang sifatnya memengaruhi, manusia memiliki kemampuan  memercayai, tidak peduli, atau yang lebih bijak mencoba untuk memilah lebih lanjut hal-hal persuasif di atas. Kini Handoko membuat sikapnya sendiri, ia menghindari untuk terlalu sering terbentur, agar dia tidak terlalu sering menyalahkan keadaan. Karena pada kenyataannya tidak dapat dipungkiri bahwa “Terbentur, terbentur dan hancur,“  tampak lebih realistis digunakan untuk era masa kini.

Masalah, yang sebenarnya tanpa disadari justru dianggap sebagai berkah, umumnya terjadi dalam khalayak muda-mudi masa kini. Membuka Instagram, membaca quotes dan kata-kata syahdu nan sendu yang dijumpai pada  pada akun-akun berisi tulisan motivasi yang membludak. Mayoritas menganggap hal tersebut merupakan sesuatu yang positif, membuka media sosial dan hasilnya adalah mendapatkan motivasi-motivasi berharga sebagai bekal hidup. Namun sekarang mari bergeser pada sisi yang lebih minor, berapa banyak waktu yang tersita? Berapa giga kuota? Dan sampai kapan mencari bekal motivasi untuk menjalani hidup, yang sebenarnya justru menunda waktu untuk memulai hidup itu sendiri? Tuntunan hidup sudah ada dalam kitab suci umat beragama, bahkan jika hidup tanpa agama, masih ada pengalaman yang akan memandu kita, dengan syarat kita mau memulai untuk mengejar pengalaman itu sendiri,  belum lagi orangtua yang sudah kenyang asam garam kehidupan yang mungkin sudah lebih dari cukup untuk bekal pelajaran hidupmu. Tapi memilih quotes dari media sosial sebagai pedoman dan acuan dengan alasan mencari bekal hidup? Semoga beruntung!

Leave a Comment