braga

BERANDA RUMAH MANGGA (BRAGA): SAMUDRA INGATAN DARI SULAWESI UTARA

SAYA pribadi meyakini bahwa lagu yang bagus mesti memiliki dua unsur di dalamnya: komposisi musik yang bagus dan lirik yang sama bagusnya. Di era yang serba praktis ini, para musisi seharusnya menjelma pendongeng dan pencerita sekaligus, hingga kita, para kaum hina dina milenial yang tak punya kepentingan apa-apa untuk berkenalan dengan Demokritos atau Hegel, tidak perlu lagi bercapek-capek untuk merenungi dan menggali makna sebuah lagu. Sebab itulah, menurut saya, di masa ini, seorang musisi mesti pula dibekali kemampuan bercerita yang bagus. Kita tidak lagi hidup di periode Victoria (awal abad ke 19), di mana musik (lagu) masih menjadi santapan mewah bagi klas borjuis, sebuah klas yang (katanya) mampu menikmati sekaligus mengerti sebuah lagu hanya melalui musiknya saja, dipahami lewat indra-indra, lantas menginterpretasikan makna dari musik tersebut dalam rasa yang… Ah sudahlah..

Beranda Rumah Mangga (Braga), saya rasa bisa menjadi salah satu contoh atas persepsi saya mengenai lagu (musik) yang bagus. Sejak Dalam Pikiran, single pertama mereka, adalah contoh bagaimana sebuah lagu dapat dipahami dengan gamblang, namun tidak menghilangkan estetik dan mutu dari lagu tersebut. Single ini menceritakan ironi seorang Pramoedya Ananta Toer, seseorang yang hendak memaksa manusia untuk adil sejak dalam pikiran. Namun di sisi lain, Pram tidak pernah mendapat keadilan tersebut. Ironis, bukan? Proses penceritaan semakin bagus ketika Braga mengiringi segala dongeng tersebut dengan musik yang bagus pula. Intensitas akan kepedihan tertuang dalam nada tinggi dan tarikan falseto pada bagian reffrain.

Beranda Rumah Mangga sendiri adalah unit folk asal Kotamobagu, Kabupaten Bolang Mongondow, Provinsi Sulawesi Utara. Pada pertengahan bulan yang lalu, mereka resmi merilis mini album bertajuk Samudra Ingatan. Saya terharu setelah membaca press release yang mereka kirim melalui surel degilzine@gmail.com. Braga adalah salah satu contoh band bersahaja yang lahir dari semangat sekumpulan anak-anak desa, yang percaya bahwa menenun mimpi dapat dilakukan di mana dan kapan saja. Romantis sekali, bukan?
“Beranda Rumah Mangga atau biasa disingkat BRAGA, adalah Yedi Mamonto (vokal), Vicky Mokoagow (gitar melody/vocal latar), Vicro Lamusu (gitar rhytm/vocal latar), Christian Bangol (bass), dan Rian Mamonto (drum). Kelima personel BRAGA tumbuh-besar di Bongkudai, sebuah desa di kaki gunung Ambang, dan telah menjalin perkawanan sejak kecil sebelum mulai ngeband di tahun 2006. Singkat cerita, pada tahun 2008, disebabkan oleh beberapa personel yang melanjutkan pendidikan di luar daerah, Braga memutuskan untuk vakum. Hasrat yang besar mendorong mereka untuk kembali melanjutkan langkah enam tahun kemudian. Ini dimulai ketika mereka rutin menghabiskan malam di bawah rimbun pohon mangga yang tumbuh di beranda rumah Vicky. Dari sinilah nama Beranda Rumah Mangga berasal.”
See, romantis, bukan?

Para personel Beranda Rumah mangga. Foto: Beranda Rumah Mangga

Selain ironi tentang seorang Pram, mini album ini juga menyelipkan lagu berjudul Bilur-Bilur, yang menurut mereka menceritakan sebuah kisah kelam yang terjadi pada tahun 1965. Tidak seperti pada lagu Adil Sejak dalam Pikiran, di lagu ini Braga tampil bak penyair yang telah khatam akan diksi dan rima. Ingat ya, rima! Karena sepengetahuanku, banyak musisi lain yang memaksakan rima pada sebuah lagu hingga keseluruhan makna dari lagu tersebut menjadi mengawang-awang. Bilur, dalam pengertian KBBI berarti: luka panjang pada kulit (bekas kena cambuk). Sebuah kata yang biasanya digunakan untuk menggambarkan luka yang tak kunjung sembuh. Luka siapa yang tak kunjung sembuh? Para korban atau yang mengaku sebagai korban? Ehem!Tidak secara eksplisit seperti ketika mengisahkan humanisme ala Pram, Bilur tidak menyebut-nyebut Tridente 65: bulan dan tahun, jenderal-jenderal, serta jutaan nyawa yang tercerabut, hingga pendengar bisa membawa lagu ini pada tragedi-tragedi lain yang pernah terjadi di negri ini.

Biar waktu berlalu, takkan hentikan ingatan pilu..

Sepenggal lirik yang menggambarkan telah terjadi sesuatu yang mengerikan di masa lalu. Lirik di lagu ini semakin kuat dalam menggambarkan suasana kelam karena komposisi musik dan suatu lompatan estetik pada progresi chord di reff kedua. Saya jamin, meskipun kalian tak begitu tahu apa yang telah terjadi pada negri ini di masa lalu, setidaknya kalian akan ikut merasa ngeri setelah mendengar lagu ini. Dua lagu berikutnya, Patah Menjadi Air Mata dan Sepasang Senja bercerita tentang adat warisan dari para leluhur mereka, yang menurut mereka mulai terkikis oleh perkembangan zaman. Di dua lagu ini (tambah lagu Samudra Ingatan), saya bersaksi bahwa sebelum memutuskan untuk (sekadar) menjadi musisi, kawan-kawan Braga telah menguatkan diri mereka dengan membaca karya-karya Pram. Kuat dalam pemakaian majas personifikasi, yang membuat Pram layak berada di atas para sastrawan lain sezamannya, turut pula diimplementasikan Braga dalam penulisan lirik-liriknya. Bukan apa, banyak lho musisi yang mengaku pula sebagai Pramis, namun tidak diimbangi dengan lirik-lirik yang “memiliki nilai mutu dan artistik yang tinggi” seperti maunya Lekra. Ups!

Mari kita lihat:

Sepasang senja bermata jingga

Menanam cerita (Sepasang Senja)

Peluh menjadi “biru” (Patah Menjadi Air Mata)

Artwork lagu Pram. Sumber: Beranda Rumah Tangga

Dan perhatikan lirik dalam lagu Samudra Ingatan, bagaimana sebuah ingatan akan kota bermetamorfosis menjadi sesosok tubuh yang bisa merasakan sakit dan tua.

Album ini akhirnya ditutup (atau dibuka) oleh lagu romantik yang katanya menceritakan segala ingatan tentang masa kecil mereka, Samudra Ingatan. Saya pribadi lebih suka mendengar Samudra Ingatan sebagai penutup, sebab lagu ini seakan mengakumulasi segala tragedi yang Braga paparkan sebelumnya.

Samudra ingatan tertutupi gedung-gedung keangkuhan, meraja diam-diam..

Bukannya segala tragedi di tanah ini segalanya kembali pada soal penanaman modal belaka? Selain itu, lagu ini saya pilih sebagai penutup karena saya meyakini bahwa hanya anak-anak kecil yang bisa jujur dalam memandang dunia ini. Dan pada akhirnya, kita harus jujur pada diri, sebelum kita dapat melihat segala tragedi yang terjadi di sekitar kita dengan mata dan pikiran telanjang. Halah! Moga sukses dan makin membesarlah, Braga! Kami tunggu kehadirannya di tanah Sumatra!

BRAGA – SAMUDRA INGATAN

Share this post

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on tumblr
Share on print
Share on email

Recent post