PicsArt_10-20-02.36.46

LAPORAN DARI GERILYA FILSAFAT #1 – KOTA MEDAN

​Sekitar pukul tujuh pagi tanggal 17 Oktober, saya mendarat di Bandara Kualanamu, Medan, untuk program Gerilya Filsafat yang perdana. Feriansyah adalah kawan yang berkenalan lewat media sosial, namun dengan sangat baik menjadi pemandu sekaligus juga perancang diskusi untuk kegiatan ini.

Istirahat sejenak di Rumah 28, pada sekitar pukul tiga sore, kami langsung bertolak ke Universitas Sumatera Utara untuk berjumpa dengan Komunitas Mikir. Mengusung tema “Kisah Eksil dan Politik Kewarganegaraan Orde Baru”, diskusi masuk ke pertanyaan filosofis seputar: “Apakah sejarah, terutama biografi, tersusun atas sejumlah pendapat subjektif?”, “Apakah sejarah menjadi absah jika diceritakan dari perspektif orang yang kalah?”, “Apa yang lebih buruk dari kematian fisik? Apakah kematian dari benak peradaban?”

Komunitas Mikir terdiri dari entah berapa orang, tapi yang hadir kemarin mungkin sekitar dua puluh. Biasanya mereka membahas tema seputar tokoh dan pemikiran filsafat Barat dengan presentasi secara bergantian setiap minggunya, biasanya di hari Kamis. Kesan saya, komunitas ini terbilang serius dan pendekatannya cenderung akademis.

Kemudian di Cambridge City Mall, diulas sebuah buku tentang kewargaan digital yang ditulis oleh Feriansyah, Muhammad Iqbal, dan Janner Simmarmata. Saya di sana menjadi pemantik dengan mengangkat isu tentang ” second public sphere ” yang diteruskan dari pemikiran Jürgen Habermas tentang ranah publik yang kritiknya saya suling dari pemikiran Paul Felix Lazarsfeld tentang ” narcotizing dysfunction “. Intinya, internet adalah ranah publik baru yang bisa mendorong sikap revolusioner dan menimbulkan gerakan massal tertentu yang bisa mengubah situasi sosial. Hanya saja dunia maya juga punya potensi jatuh pada ” click activism ” dan sikap reaksioner yang sementara.

Dihadiri oleh sebagian besar mahasiswa UNIMED, hal menarik terkait diskusi tersebut tidak melulu pada kontennya, melainkan bagaimana mal dimanfaatkan sebagai tempat diskusi yang menurut Habermas justru lebih minim kontrol dan intervensi karena posisinya sebagai ” bourgouis public sphere “.

Tempat ketiga adalah Literacy Coffee. Berposisi dekat Stadion Teladan, diskusi di tempat ini, yang seyogianya bertopik sama dengan di Komunitas Mikir, cenderung melebar oleh sebab pengetahuan para peserta diskusinya yang luas. Pembahasan menjadi masuk pada kasus Rektor USU yang menghukum kelompok mahasiswa tentang cerpen yang memuat topik LGBT dan kaitannya dengan wilayah etika dalam filsafat. Kemudian diskusi menjadi lebih seru ketika membahas tradisi dan filsafat suku Batak. Jhon Fawer selaku pemilik Literacy Coffee membahas hal tersebut dengan bertolak dari keprihatinan masyarakat Batak terhadap Danau Toba yang dituangkan dalam buku kumpulan sajak.

Titik terakhir gerilya ditutup di Degil House yang mengingatkan saya pada Kineruku di Bandung. Kumpulan anak muda yang bergumul dengan kebudayaan urban dan menginterpretasi nilai kelokalan pada sikap yang lebih progresif. Di sana saya membahas tentang “Joker dan Teater Orang yang Tertindas” yang sebenarnya lebih pada pemikiran Augusto Boal tentang teater dan hubungannya pada perubahan sosial. Diskusi berkembang menjadi pada hubungan antara seni secara umum dengan perubahan sosial. Nuriza Aulia, Ketua Dewan Kesenian Aceh Tamiang yang menghadiri diskusi, menyebutkan bahwa seni hanya bisa punya fungsi dalam mengubah kondisi sosial, jika masyarakatnya terlebih dahulu memahami apa itu seni dan apa itu ruang kesenian. Keduanya sudah seyogianya mengalami perkembangan dan redefinisi.

Degil House menutup diskusi dengan penampilan Hujan Kata-Kata, semacam komunitas penyuka sastra dan musik, yang penampilannya begitu teduh sekaligus menyegarkan oleh sebab lontaran humor dengan nada satir.

Suasana diskusi Joker dan Orang-Orang Tertindas. Foto: Degil House
Kang Syarif Maulana dan moderator Feriansyah di Degil House. Foto: Degil House

Demikian program Gerilya Filsafat di Medan telah selesai dilakukan. Selain mengaktivasi (yang sebenarnya tidak sepenuhnya berhasil karena ruang diskusi yang dikunjungi di atas, sudah sangat aktif) program ini juga berupaya memetakan dan mendeskripsikan komunitas diskusi beserta ruang-ruangnya, yang mengarah pada diskusi filsafat atau sekurang-kurangnya, bersifat filosofis.

Foto bersama dengan peserta Diskusi di Degil House. Foto: Degil House
Membaca puisi Sajak Calon Menantu diiringi dentingan gitar oleh Tengku Ariy Dipantara, co-founder Degil House. Foto: Degil House
Mengiringi pesajak Medan asal Cirebon yang memiliki nama sama, Syarif, membacakan puisinya. Foto: Degil House

Keesokan harinya, saya diajak kawan Feriansyah untuk mengunjungi Danau Toba. Saya melihat lebih dekat pada kebudayaan Batak dan menemukan betapa kadang filsafat (sebagai suatu cara berpikir yang kritis, sistematis, dan radikal), tidak setiap saat diperlukan dalam konteks kebijaksanaan yang telah membangun pandangan hidup yang khas ( world view ). Batak dengan kebudayaannya telah begitu lama hadir dengan argumen-argumen yang tidak perlu semuanya rasional. Cukup tradisi itu dilakukan dan kemudian falsafah akan direfleksikan dengan sendirinya pada waktu-waktu yang tidak bisa ditentukan. Nietzsche bersabda, tubuh kita tahu tentang kebijaksanaan, lebih dari nalar kita. Itulah yang dimaksud Nietzsche mungkin, dengan kebudayaan.

Terima kasih Medan, terima kasih Feriansyah, terima kasih pada para pemikir. Jikapun kedatangan saya tidak seberapa punya arti bagi Medan yang telah kokoh dan punya historisitas yang panjang, setidaknya perjalanan ini berguna bagi perubahan pada diri saya sendiri. Suatu kesadaran Sokratik semakin kukuh dalam pendirian saya, bahwa semakin banyak tahu, betapa benar bahwa saya menjadi semakin tidak tahu apa-apa.

Sampai jumpa di Gerilya Filsafat berikutnya! Horas!

Share this post

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on tumblr
Share on print
Share on email

Recent post